You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 139



Tak... tak... tak....


Terdengar bunyi ketikan di keheningan ruangan Wira, Fatih sedang menarikan jemarinya di atas keyboard dengan mulut yang sibuk mengunyah. Di samping meja komputer itu terdapat beberapa kaleng minuman soda berperisa dan juga beberapa bungkus camilan makanan ringan.


Siang ini Wira pergi makan di luar, jadi di tengah-tengah kegiatan bekerjanya Fatih bebas mengunyah makanan ringan tanpa ada yang melotot padanya. Wira sangat suka kebersihan, dia melarang keras jika mengetik sambil memakan cemilan karena tak suka jika nanti tombol keyboardnya berakhir beraroma makanan.


Andai dokter tampan itu melihat kelakuan si asisten sekarang, sudah dipastikan Fatih akan terkena omelan sepanjang jalan kenangan.


"Woah selesai...."


Fatih meregangkan kedua tangannya kemudian membiarkan punggung pegalnya mendarat di sandaran kursi empuk nan nyaman setelah menyelesaikan urusannya dengan layar komputer. Tangannya kembali meraih satu kaleng minuman bersoda, menenggaknya hingga habis tak bersisa dan melemparkan kaleng kosongnya ke tempat sampah seolah dia tengah bermain basket.


Ia merogoh ponsel dari sakunya dan tersenyum sendiri sambil menatap nama kontak yang tertera di layar. Ya, dia mendapatkan nomor Freya dari Dara. Ia memohon kepada Dara ketika mereka bertemu di rumah sakit agar memberikan kontak Freya, dengan alasan ingin mengucapkan terima kasih atas bantuan si tomboi beberapa waktu yang lalu.


Hatinya berbunga-bunga. Wajahnya merona. Orang yang melihatnya pasti akan menyangka Fatih sudah gila. Biasanya orang lain akan tersenyum sendiri sambil memandangi video atau foto pujaan hatinya, sementara yang di tatap lekat-lekat oleh Fatih hanyalah nomor dan ketikan nama saja.


Jarinya gatal ingin menghubungi Freya. Ia ingin sekali mengajak gadis itu untuk makan di luar atau sekadar minum kopi bersama sambil berbasa-basi tentang ucapan terima kasihnya, berharap dari langkah tersebut bisa mendekatkan dirinya dengan Freya.


Namun, hingga hari ini dia masih belum berani menghubunginya. Terbersit rasa takut bagaimana jika Freya menolak ajakannya? jika itu terjadi maka harga dirinya sebagai seorang pria tengah dipertaruhkan.


Fatih berdecak kesal sambil menendang-nendangkan kakinya ke udara. Tanpa sadar justru jarinya terpeleset hingga akhirnya malah tersambung menjadi sebuah panggilan ke ponsel si tomboi di seberang sana.


Pemuda itu membelalakan matanya. Terlebih lagi ketika terdengar suara Freya yang mengangkat panggilan tersebut semakin membuatnya kebingungan. Saking paniknya Fatih hampir saja menjatuhkan ponsel dengan fitur terbaik yang baru dibelinya dua bulan lalu itu.


"Halo... halo." Terdengar suara Freya diseberang sana.


"Eh, i-iya halo. Hai a-apa kabar?" tanya Fatih tergagap.


"Maaf ini siapa ya?"


Keheningan membentang. Tak ada suara Freya yang menyahut dari seberang sana. Hanya ada dentingan jam yang seakan bersorak sorai di situasi canggung ini. Spekulasi berlalu lalang di kepala mahasiswa koas itu, jangan-jangan Freya tak suka ia meneleponnya.


"Ah, ini Fatih asistennya dokter Wira?" Freya kembali bersuara.


"Iya, bener banget. Fatih yang itu," jawabnya bersemangat diiringi embusan napas lega yang tadi sempat tertahan.


"Maaf, ada keperluan apa ya?" tanya Freya.


"Maaf mengganggu waktunya. Kalau nggak keberatan, nanti malam aku ingin mengajakmu makan bersama sebagai ungkapan rasa terima kasih karena telah menolongku menggantikan ban mobilku tempo hari." Fatih mulai terbiasa dan mampu mengatasi kegagapannya tak separah tadi.


Freya berpikir sejenak. Ban mobil? Otaknya berputar dan akhirnya ia mengingatnya. Pantas saja ketika bertemu di parkiran kampus ia merasa pemuda itu tak asing. Rupanya Fatih adalah si payah yang tak mampu mengganti ban mobilnya sendiri padahal dia itu laki-laki. Itulah kesan pertama Freya terhadapnya.


"Jangan sungkan. Tak perlu repot-repot sampai mengundang makan malam segala," jawab Freya sopan.


"Tak merepotkan sama sekali. Aku sangat berharap kamu menerima undanganku yang setulus hati ini." Entah sejak kapan Fatih mendadak melow.


Mendengar suara Fatih yang seperti memelas, Freya tak sampai hati untuk menolak. "Baiklah. Berikan alamat restorannya. Nanti aku akan datang memenuhi undanganmu."


"Oke, oke. Akan kukirimkan segera." Fatih hampir saja berteriak kegirangan ketika Freya mengiyakan ajakannya.


Setelah sambungan dimatikan ia berjingkrak tak karuan saking senangnya. Satu langkah kini telah ia lewati, semoga di langkah-langkah berikutnya semuanya dapat berjalan mulus dalam misinya mencuri hati si pujaan hati.


*****


Supporter "Double F" mana suaranyaaaa.... 😂😂😂😂😂