You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 178



"Aku mau masuk, jangan menghalangi jalanku! Biarkan aku masuk."


Michelia menjerit-jerit histeris ketika petugas pemadam kebakaran dan para warga menahan serta memeganginya agar tidak masuk ke dalam rumah yang telah penuh dengan hebatnya kobaran api.


Bukan hanya rumah kontrakannya, bahkan rumah si induk semang pemiliknya serta beberapa rumah warga di sekitar pun ikut hangus terbakar. Michelia berteriak dan meronta seperti orang gila meratapi uang hasil menipu yang sudah pasti ikut menjadi abu di dalam sana.


"Uangku... ada uangku di dalam sana. Lepaskan aku! Singkirkan tangan kotor kalian dariku!" hardiknya kepada orang-orang yang sedari tadi memeganginya.


"Lupakan harta bendamu anak muda. Rumahku juga ikut hangus, tetapi nyawa dan keluarga lebih penting," seru seorang ibu paruh baya yang juga rumahnya ikut terbakar.


"Heh, mungkin hartamu yang murahan itu memang tidak berharga. Tapi uangku di dalam sana tidak sebanding dengan seluruh harta yang kau miliki. Uangku hampir satu milyar di dalam sana!" teriaknya lantang dengan napas berderu dan mata membeliak.


"Satu milyar? jangan membual. Bajumu lusuh begitu kau bilang punya uang satu milyar, dasar tidak waras!" Si ibu tadi yang asalnya bicara dengan nada rendah mulai naik pitam karena Michelia menghina dan mengatainya bahwa hartanya tidak berharga.


"Kau tidak tahu siapa aku? perlu kamu ketahui aku ini anak pejabat tinggi!"


"Dasar wanita gila! Pasti dia benar-benar kehilangan akal karena rumah kontrakannya terbakar hingga menyebabkannya berhalusinasi bermimpi di siang bolong dengan membual sebagai anak pejabat dan juga uang satu milyar," timpal seorang warga yang juga berada di sana.


"Siapa yang akan percaya. Lihat saja itu motornya butut begitu," cibir yang lainnya sambil mengarahkan pandangannya ke tempat di mana motor yang tadi dipakai Michelia terparkir.


Setelah dua jam akhirnya api berhasil dijinakkan. Kepulan asap masih pekat dari sisa puing-puing yang terbakar. Polisi memasang garis kuning di seluruh area kebakaran, sementara Michelia masih bersimpuh di tempatnya tadi tak bergeming sedikitpun.


Wanita itu masih dikuasai kemarahan. Ekspresi wajahnya tampak mengeras, ia sama sekali belum menyadari bahwa semua yang terjadi kepadanya adalah buah dari perbuatan kotornya. Kepalanya hanya sibuk menerka-nerka apa dan siapa penyebab kebakaran untuk mencari pelampiasan sebagai kambing hitam dari hal yang menimpanya.


"Ini pasti karena orang-orang kumuh di sini hidupnya tidak teratur sehingga menyebabkan kebakaran dan memusnahkan semua uangku!" umpatnya masih keras kepala.


"Sadarlah Nona semua ini adalah musibah. Sebaiknya untuk sekarang anda pergi ke tanah lapang dekat pasar. Di sini masih belum aman, kami akan menyediakan posko sementara untuk para korban kebakaran," ucap seseorang petugas pemadam kebakaran.


Michelia melempar tatapan tajam kepada petugas tersebut masih diliputi amarah yang meluap-luap. Namun, tiba-tiba ia kembali waspada ketika suara sirene mobil polisi lainnya berdatangan untuk meninjau lokasi kejadian.


Michelia kembali memakai penutup kepala dari jaket yang dipakainya, dengan perlahan ia mundur teratur dari sana menuju motornya. Di saat semua orang tengah fokus mengevakuasi, dia langsung tancap gas dari sana mengendarai motor bututnya sebelum polisi menyadari keberadaannya.


Ia memacu motor tua itu seperti orang kesetanan tak tentu arah tujuan dan setelah kira-kira berkilo-kilo jauhnya dari tempat kejadian ia pun berhenti.


Wanita itu duduk di pinggiran jalan. Michelia mulai ketakutan, matanya mengawasi setiap sudut dengan dengan gelisah, kemudian air matanya berderai menangis meratapi nasibnya.


"Ibu... aku ingin pulang," lirihnya di sela-sela isakannya.