You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 41



"Suka tidak suka, mau tidak mau, sekarang kamu adalah istriku! Memang benar kita menikah karena pembuktian janji seperti yang pernah kutegaskan kepadamu. Akan tetapi, aku juga harus menjagamu sesuai permintaan kakakmu, dan untuk itu kita harus tidur di ruangan yang sama layaknya pasangan menikah pada umumnya untuk melindungimu dari fitnah. Hanya saja harus kamu ingat, meskipun dari luar kita nampak tidur dalam satu kamar, jangan pernah berpikir terlalu jauh bahwa kita akan tidur seperti layaknya suami istri pada umumnya. Anggap saja semua ini adalah harga yang harus kamu bayar atas permintaanmu untuk merahasiakan pernikahan kita," tuturnya panjang lebar dengan ekspresi datar.


Dara mengepalkan tangannya geram, memang benar dia yang meminta untuk menyembunyikan dulu status mereka, tetapi kenapa imbalannya harus tidur satu ruangan dengan manusia otoriter ini, batinnya.


"Siapa yang berpikir tentang tidur layaknya suami istri pada umumnya? sama sekali tidak pernah terlintas di benakku! Dan juga, kenapa ruangan balet tiba-tiba di segel?"


"Karena saat mendengar musik balet ataupun melihat tariannya, luka yang ditorehkan Almira kembali berdarah. Kurasa pembicaraan kita sudah cukup, tidak ada tawar menawar lagi, aku akan tetap pada keputusanku," sahutnya keras kepala.


"Apa maksud Kakak? luka apa yang ditorehkan kakakku? dan juga tentang kecelakaan yang tiba-tiba menimpa mbak Mira, kenapa hingga sekarang tidak ada satupun yang memberikan penjelasan padaku tentang bagaimana semua musibah itu terjadi!" teriaknya frustasi.


"Tentang hal itu kita bicarakan lagi nanti, aku sedang tidak ingin membahasnya. Sebaiknya kamu pulang, coba lihat dirimu! Pakaianmu sama sekali tak layak dipertontonkan di tempat umum."


Dara menundukkan pandangannya, ia terkesiap dan menutup mulutnya yang menganga menggunakan kedua tangannya. Ternyata dia berangkat ke rumah sakit masih memakai piyama tipis berbahan satin dan juga sandal bulu yang biasa di pakainya di dalam rumah.


Sungguh memalukan! Gerutunya dalam hati.


Gadis itu memutuskan untuk meneruskan peperangan antara mereka di rumah saja, dan memilih untuk kembali pulang.


"Aku akan pulang. Tapi Kakak harus ingat, urusan kita belum selesai!" serunya sengit. Saat berbalik badan hendak meninggalkan ruangan itu Dara kurang berhati-hati, kakinya malah tersandung meja hingga membuatnya terjerembab ke lantai.


Bruk!


Wira ikut tersentak kaget, secara refleks bangkit dari duduknya dan menghampiri. Tetapi, bukannya membantu Dara untuk bangun, dia malah mengumpat pada Gadis itu. "Dasar ceroboh!"


*****


Fatih menunggu di kantin sambil menikmatinya jus jambu kesukaannya, matanya melirik jam tangannya, sudah hampir dua puluh menitan dia duduk di sana. Ia mulai merasa bosan, kemudian merogoh saku celananya hendak mengambil ponselnya untuk melihat-lihat sosial media agar rasa bosannya hilang. Tetapi, Fatih tidak menemukan benda persegi panjang yang dicarinya setelah merogoh semua saku yang ada di pakaiannya, lalu ia teringat meninggalkan ponselnya di atas meja dekat komputer di ruangan Wira.


Fatih segera beranjak dari duduknya dan kembali ke ruangan Wira untuk mengambil ponselnya. Ia berlari-lari kecil di sepanjang lorong rumah sakit hingga sampailah di depan pintu besar ruangan Wira. Ia bermaksud mengetuk, tetapi ternyata pintunya sedikit terbuka. Namun baru saja tangannya hendak mendorong pintu tersebut, dia di kagetkan dengan teriakan-teriakan aneh dari pasangan pengantin baru itu.


"Aduh sakit Kak, pelan-pelan!" teriak Dara.


"Makanya kamu diam dan luruskan kakimu agar tidak terlalu sakit!" bentak Wira.


"Tapi ini beneran sakit, jangan ditekan terlalu dalam! Arghh," pekik Dara.


"Diamlah, jangan bergerak terus!"


Seketika wajah Fatih memanas. Ia menutupkan pintu dengan hati-hati agar tidak ketahuan menguping. Percakapan macam apa itu tadi? Sebenarnya apa yang sedang dilakukan mereka di dalam sana? pikirnya.


Pemuda itu tergesa-gesa kembali ke kantin, membuka cooler pendingin minuman dan berdiam diri di sana, berharap terpaan suhu dingin mampu meredakan wajahnya yang merah padam.