You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 113



My beloved readers jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya, biar author makin semangat nulisnya 😄, terima kasih 🙏💕💜


**********


"Mas, kita mau kemana dulu?" Dara bertanya ketika mobil yang dikemudikan Wira keluar dari jalur arah jalan pulang.


"Kita ke rumah sakit tempatku bekerja. Kemarin kamu pergi memeriksakan diri tanpa kutemani, sekarang aku ingin memastikan dengan mata kepalaku sendiri tentang kondisimu dan juga bayi kita," jelas Wira berseri-seri.


"Tapi sekarang kan hari Sabtu? memangnya ada dokter spesialis yang praktek?" tanya Dara.


"Tinggal memaksa temanku untuk datang dan sudah kulakukan. Tadi aku menghubunginya sebelum kita pulang dan sekarang dia sudah menunggu di rumah sakit. Aku ingin istri dan anakku ditangani oleh dokter terbaik dan yang terpenting dokternya harus perempuan." Wira menekankan kata-kata terakhirnya.


"Memangnya kenapa? Laki-laki atau perempuan sama saja bukan? yang penting dokter kandungan iyakan?" ujarnya polos.


"Karena aku akan mati cemburu jika ada pria lain yang menyentuh-nyentuh tubuh istriku walaupun hanya untuk kepentingan medis. Pokoknya orang-orang yang terlibat dalam penangananmu semua harus perempuan. Dimulai dari dokter, asisten dokter juga perawatnya dan aku sudah menyiapkan semuanya," ucapnya tak ingin dibantah.


"Dasar posesif!" gerutu si cantik berkulit pucat itu, tetapi Wira malah tertawa renyah mendengar umpatan istrinya.


*****


"Teman pemaksa! Kamu tahu? aku bahkan terburu-buru datang kemari karena kamu bilang ada keadaan darurat, padahal tadi lagi tanggung-tanggungnya ngebor sumur sama suamiku. Kalau gak penting awas aja ya!" gerutu seorang dokter perempuan seusia Wira.


"Upps... sorry. Ini memang darurat dan sangat mendesak makanya aku menghubungimu. Raisa, kenalkan ini istriku. Aku ingin kamu yang memastikan kandungannya." Wira menghela Dara yang mengekor di belakangnya untuk berdiri berdampingan dengannya.


"What? istrimu? hamil? se-sejak kapan?" Dokter yang bernama Raisa itu berteriak kaget.


"Aku memintamu datang untuk memeriksa kondisi istriku, bukan menginterogasiku," protes Wira.


"Baiklah, ayo kita periksa sekarang. Silahkan berbaring Nyonya Wira," perintahnya kepada Dara.


Wira senantiasa berdiri di sisi ranjang sambil menggenggam tangan Dara. Raisa memeriksa dengan teliti termasuk menggunakan alat ultrasonografi untuk melihat si jabang bayi di dalam rahim Dara.


"Wow, tokcer juga jurusnya. Selamat Wiraaaaa... akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah. Usianya sudah tujuh minggu, ibu dan bayinya dalam keadaan sehat." Dokter kandungan berambut pendek itu bersorak memberikan ucapan selamat saat melihat pantulan layar USG.


"Thanks Sa,"sahut Wira. Kemudian tanpa aba-aba ia menciumi wajah Dara penuh cinta meluapkan semua kebahagiaannya seolah tak peduli bahwa di ruang praktek itu masih ada Raisa.


"Heiii... Dokter Wiraaa... ini rumah sakit bukan kamarmu! Maen sosor aja!" decak Raisa kesal.


"Dih, ganggu aja." Wira menghentikan kegiatannya sedangkan wajah Dara sudah hampir matang semerah tomat karena Wira memesrainya tak tahu tempat.


"Sekarang, silahkan duduk. Aku akan menjelaskan secara terperinci kondisi istrimu."


Wira menuntun Dara untuk turun dari tempat tidur dan mengajaknya duduk di kursi yang telah disediakan.


"Semuanya baik, tak ada masalah apapun. Jika ada fase mual dan muntah itu hal biasa, apakah Anda mengalami mual muntah belakangan ini?" Raisa bertanya kepada Dara.


"Aku tidak muntah, hanya merasa seolah asam lambungku naik hingga terasa perih dan tak nyaman," jawab Dara.


"Baiklah, akan kuresepkan vitamin dan untuk berjaga-jaga kutambah obat mual juga."


"Sa, jika sedang hamil muda begini apakah masih aman jika kujenguk anakku setiap hari?" tanya Wira blak blakan yang disambut cubitan Dara di perut berototnya.