You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 137



Pagi-pagi sekali sudah terjadi keributan di gerbang depan rumah Wira. Seorang wanita utusan Ratih yang hendak menggantikan posisi Bu Rina memaksa untuk menerobos masuk ke dalam rumah.


Dia beradu mulut dengan satpam yang sedang bertugas di pintu masuk dan suara berisik mereka terdengar hingga ke kamar utama. Wira yang baru saja selesai mandi pagi, langsung bergegas keluar saat mendengar suara gaduh yang mengganggu kedamaian tempat tinggalnya di pagi buta.


"Ada apa ini!" Suara Wira meninggi naik beberapa oktaf dengan raut wajah tak suka karena merasa pagi harinya yang tenang terusik oleh kekacauan.


"Tuan Muda, saya ditugaskan oleh Nyonya Ratih untuk datang kemari menggantikan pekerjaan Bu Rina sebagai kepala pelayan. Tapi satpam ini menahan dan tidak memperbolehkan saya untuk masuk," seloroh si wanita seumuran Bu Rina itu dengan congkaknya.


"Maaf Tuan. Saya hanya menjalankan tugas sesuai perintah Anda untuk mencegah siapapun yang ditugaskan mengantikan Bu Rina agar tidak masuk ke dalam rumah," sahut satpam tersebut takut-takut karena melihat ekspresi tuannya yang dingin dengan rahang mengeras.


"Mana mungkin. Nyonya Ratih memberikan perintah langsung kepada saya. Jangan ngarang kamu ya! Baru jadi satpam saja sudah bertingkah!" cela wanita itu sambil melipat tangannya di dada.


Wira melangkah dan berdiri tegap menjulang tepat di hadapan wanita tersebut dengan kedua tangan masuk di saku celananya, ia menatap lurus dengan tajam ke arahnya.


"Apa yang dikatakan satpam menang benar, aku tidak membutuhkan kepala pelayan baru karena posisi itu sudah terisi. Silakan kembali ke rumah besar dan tolong sampaikan pesan penting ini pada ibuku. Karena Bu Rina sudah dipecat oleh ibuku maka sekarang aku lah yang mempekerjakannya. Siapapun tidak berhak memecatnya karena sekarang Bu Rina di bawah kuasaku sepenuhnya." Wira berkata tegas dengan sorot mata tajam.


"Ta-tapi Tuan."


"Sekarang silakan pulang kembali dengan tenang. Berhenti membuat keributan di rumahku jika tak mau diseret pergi secara paksa dengan tidak hormat oleh satpam! Jangan lupa sampaikan pesanku kepada ibuku secara terperinci tidak boleh kurang ataupun lebih!" seru Wira yang kemudian berbalik badan dan segera berlalu masuk kembali ke dalam rumah.


*****


"Kenapa kamu kembali kemari dengan barang-barangmu ini hah? dasar tak berguna! Padahal sudah kubayar dirimu dengan mahal. Aku memerintahkanmu bekerja di rumah Wira untuk mengawasi gerak gerik Dara supaya aku bisa mencari celah untuk memisahkan mereka nantinya!" teriak Ratih murka dengan suara memekakan telinga.


Si wanita yang hendak menggantikan Bu Rina itu langsung berjengit kaget karena terkena semburan kemarahan Nyonya besarnya ketika baru saja sampai. Ia kemudian menceritakan semua kejadian yang menyambutnya di rumah Tuan mudanya termasuk pesan Wira kepada Ratih.


Ratih menghentak-hentakan kakinya geram karena salah satu rencananya pupus sudah. Ia melampiaskan kemarahannya kepada si wanita itu yang harus rela menerima segala cacian kasar Ratih terhadapnya.


"Aku harus memikirkan cara lain," gumam Ratih dengan tangan mengepal.


*****


Tok... tok... tok.


Wira mengetuk pintu kayu yang terbuat dari kayu jati terbaik dengan ukiran indah khas Jepara, itu adalah pintu ruangan kebesaran Haris di perusahaan farmasinya.


"Masuk." Terdengar seruan Haris dari dalam sana.


Wira mendorong pintu tersebut dan melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Pria paruh baya itu tersenyum lebar begitu melihat kemunculan putranya dari balik pintu. Ia bangkit dari kursi singgasananya dan menghampiri Wira.


"Ayah rindu Nak. Bagaimana kabarmu?" Haris menepuk-nepuk pundak Wira.


"Aku baik Yah. Apakah siang ini Ayah ada waktu? Aku ingin mengajak Ayah makan di luar dan juga ada beberapa hal yang ingin ku sampaikan," ucap Wira.


"Tentu saja. Ayo kita makan bersama. Sudah lama sekali kita tidak makan di luar berdua saja," sahutnya dengan senyuman yang menyejukan hati.