
Aura keceriaan tergambar jelas dari rona wajah tampan itu, setelah beberapa waktu lalu hanya guratan sendu yang menghiasi di sana.
Wira menaruh paper bag berisi cincin yang dibelinya ke dalam dashboard, kemudian melajukan kendaraannya sambil sesekali bersiul riang ditemani lagu-lagu romantis yang sedang diputar dari siaran radio. Deru mesin mobil membelah lengangnya jalanan malam itu, kendaraan yang berlalu lalang mulai sedikit tetapi tak sepenuhnya sepi.
Wira menolehkan kepalanya kesamping kiri karena sejak tadi tidak ada suara celotehan ataupun protes yang biasa terlontar dari bibir Dara, ternyata gadis yang duduk di kursi sebelahnya itu sudah terkantuk-kantuk dengan mata yang hampir terpejam.
Wira menepikan mobilnya, kemudian tangannya terulur menurunkan sandaran kursi agar Dara bisa tidur dengan nyaman.
"Tidurlah," ucap Wira sambil mengulas senyum dan mengusap lembut puncak kepala Dara, sedangkan si cantik berkulit pucat itu hanya mengangguk tipis dan setelahnya langsung tertidur karena sudah tidak sanggup lagi menahan kantuk yang melingkupinya.
Benda kotak memanjang yang ditaruh di saku celananya berdering menandakan ada panggilan yang masuk. Wira merogoh sakunya kemudian menerima panggilan tersebut.
Lama dia berbicara dengan dengan si penelepon. Lalu, raut wajahnya yang asalnya dihiasi senyum riang seketika berubah kembali sendu seperti sebelumnya, serupa cuaca yang sedang cerah dan hangat yang tiba-tiba diliputi awan hujan kelabu bergelayut di sana.
"Kita bertemu di kedai kopi dekat rumah sakit, satu jam lagi aku akan datang." Setelah selesai dengan panggilan teleponnya. Wira menaruh ponselnya dan mendesahkan napasnya berat. Kemudian kembali melajukan mobilnya dengan ekspresi datar tak terbaca.
*****
"Ra, Dara, bangun." Wira menepuk-nepuk pipi Dara ketika mobilnya sudah sampai di depan gerbang rumah.
"Emhhh... sudah sampai ya Kak," ucapnya sambil mengucek matanya.
"Sudah sampai, masuklah dan tidurlah. Aku akan pergi ke suatu tempat, ada urusan mendadak, beristirahatlah," ucap Wira tanpa melihat wajah Dara. Tak seperti tadi, sekarang Pria itu memalingkan wajahnya saat berbicara.
Wira menggeser posisi tangan Dara di bahunya pelan agar telapak tangan gadis itu terlepas dari sana.
"Kamu tidak perlu tahu, sebaiknya jangan bertanya lagi dan cepatlah masuk ke dalam," jawabnya datar.
Dara mengerutkan keningnya, sebenarnya ada apa dengan pria ini, sesorean ini hingga malam di toko perhiasan, Wira bersikap hangat seperti dulu, tetapi sekarang ekspresi wajahnya kembali berubah datar dengan sorot mata dinginnya.
Dara sebenarnya ingin melayangkan pertanyaan tentang penyebab sikap Wira yang tiba-tiba berubah drastis, tetapi saat ini kantuk yang menderanya lebih mendominasi sehingga membuatnya memilih untuk segera masuk ke dalam rumah.
"Baiklah, hati-hati Kak," ucap Dara tepat setelah ia turun dan menutup pintu mobil mewah itu.
Tanpa menyahut dan menoleh, Wira langsung tancap gas melajukan mobilnya meninggalkan pelataran rumah megahnya, sementara Dara segera masuk ke dalam karena ingin melanjutkan tidurnya.
*****
Wira duduk berhadapan dengan seorang pria yang mengenakan jaket hitam serta topi di kedai kopi dekat rumah sakit. Mereka terlihat sedang bercakap-cakap dengan serius sambil ditemani secangkir kopi panas yang tersaji di meja.
"Saya sudah mendapatkan informasi yang anda inginkan. Tentang hubungan almarhum dokter Giovani dan juga mendiang istri Anda. Mereka adalah sepasang kekasih saat masih duduk di sekolah menengah atas. Namun, hubungan mereka dipisahkan secara paksa oleh ibunda Giovani, karena ibu Almira dianggap sebagai penyebab kecelakaan yang dialami dokter Giovani saat itu," tutur si pria bertopi itu panjang lebar.
"Dan ini adalah barang-barang lama milik mendiang istri anda dari tempat kostnya sewaktu SMA. Saat saya datang ke sana, pemilik tempat kost tersebut masih menyimpan barang- barang ini karena dulu Bu Almira pergi dari tempat itu tanpa pamit dan meninggalkan barang-barang pribadinya di sana. Pemilik kost menyimpannya untuk berjaga-jaga jika suatu waktu Bu Almira akan kembali dan menanyakan tentang barang-barangnya."
Pria itu menyerahkan sebuah kotak besar ke hadapan Wira, dan setelah itu dia terlihat berpamitan pulang meninggalkan Wira yang duduk terpaku di sana.