You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 48



"Dok, operasi transplantasi jantung akan dilaksanakan pukul lima belas sore ini, kira-kira satu jam lagi. Pasien sudah ada di ruang tunggu operasi, para dokter yang lain dan semua tim sedang bersiap di sana." Fatih menjelaskan secara terperinci dan menyerahkan berkas kelengkapan untuk pelaksanaan operasi tersebut.


"Oke, sebentar lagi aku menyusul, kamu ke sana saja lebih dulu," perintahnya. Fatih mengangguk dan segera undur diri.


Setelah mempelajari berkas terakhir dengan seksama, Wira bersiap-siap untuk menuju salah satu gedung yang khusus dipakai sebagai ruang operasi di rumah sakit itu. Tetapi, sejak tadi ponselnya terus saja berisik pertanda ada beberapa pesan yang masuk.


Ada sepuluh pesan yang tertera di layar, Wira membukanya satu persatu. Setelah membacanya ia berdecak kesal, ternyata itu adalah history pemakaian kartu yang diberikannya kepada Dara. Wira memijat pangkal hidungnya sambil memejamkan mata, Dara benar-benar ingin membuatnya jengkel rupanya.


Wira hendak menghubungi Dara dan menceramahinya, tetapi kemudian ia melihat jam tangannya dan waktu operasi tinggal tiga puluh menit lagi. Dokter tampan itu menunda niatnya berseteru dengan istri kecilnya itu, karena sekarang kewajibannya sebagai seorang dokter sedang menunggu.


Di rumah sakit itu ada satu gedung khusus yang dirancang agar tetap steril, itu adalah gedung tempat dilakukannya prosedur operasi, bahkan pintunya dipasang menggunakan pintu otomatis yang memakai sensor agar bisa terbuka sendiri tanpa tersentuh tangan supaya kebersihannya tetap terjamin.


Wira mengganti pakaiannya dengan baju khusus untuk pelaksanaan operasi, mencuci tangannya hingga siku menggunakan sabun dan spons khusus juga sebelum memasuki ruang operasi utama dimana prosedur pembedahan akan dilakukan.


Wira masuk ke ruang utama, salah satu perawat mengeringkan tangannya dengan handuk sekali pakai, kemudian memakaikan jubah bertali berwarna hijau, mengikatkan talinya dengan kuat dan juga memakaikan sarung tangan serta topi penutup rambut berwarna serupa yang dipakai para dokter spesialis beserta para asistennya.


Namun, tak sengaja benda tajam itu sedikit menggores telapak tangannya dan ada darah yang merembes dari sana. Darah yang keluar hanya sedikit, tetapi saat melihat benda cair itu di telapak tangannya, tiba-tiba bayangan Almira yang digendongnya dengan bersimbah darah kembali memenuhi isi kepalanya.


Wira menghentikan gerakannya, kepalanya terasa berputar, degupan jantungnya begitu menyesakkan memukul-mukul rongga dadanya, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya dan wajahnya berubah pucat pasi. Wira sudah terbiasa melihat benda cair berwarna merah itu, tetapi, kali ini kedua tangannya bahkan ikut gemetar saat melihatnya.


Dokter spesialis lain yang berdiri disampingnya dengan sigap segera menepuk punggung Wira ketika melihatnya tidak baik-baik saja.


"Dokter Wira, Anda sepertinya tidak baik-baik saja. Apakah yakin masih bisa meneruskannya? jika tidak, para dokter senior sudah bersiap untuk membantu operasi ini, mengingat kamu masih dalam suasana berduka, maka dari itu rumah sakit telah mempersiapkan dengan matang jika hal seperti ini terjadi," tanyanya penuh pemakluman.


Wira termenung sejenak, kemudian akhirnya meletakkan pisau bedah yang dipegangnya dan mengangguk lesu.


"Maaf," ucapnya tertunduk lalu segera keluar dari sana.


Wira mengganti pakaiannya kemudian kembali ke ruangannya dengan langkah gontai. Ia duduk di kursi kebesarannya dan mengusap wajahnya kasar, ini adalah pertama kalinya hal semacam ini terjadi, dia sendiri tidak mengerti, sebenarnya ada apa dengan dirinya?