
Pemandangan di lorong selasar unit gawat darurat begitu mencekam. Beberapa jam yang lalu wajah mereka dipenuhi rona bahagia, tetapi sekarang lelehan air mata yang berderai disertai guratan kekalutan menghiasi raut muka masing-masing.
Ratih menangis tersedu-sedu di pelukan Haris. Fatih, Freya dan Anggi duduk menunggu dengan risau sembari meremas tangan mereka sendiri, sedangkan Wira mondar mandir sambil sesekali menyugar rambutnya frustrasi sementara Dara tengah diperiksa kondisinya oleh Raisa di dalam ruang gawat darurat khusus penanganan ibu hamil.
Wajah tampan Wira pucat pasi seperti tak dialiri darah. Penampilannya sudah acak acakan tak karuan, jejak peluh di pelipis serta noda merah gelap di tangan juga pakaiannya yang hampir mengering dibiarkan begitu saja. Kecemasan dan ketakutan tak terkira tengah berpesta pora mengerubutinya, detak jantungnya bertalu seperti genderang perang terasa memukul-mukul dadanya dengan kencang hingga terasa nyeri menciptakan ringisan di dalam segumpal daging yang berada di tubuhnya.
Setelah beberapa saat pintu UGD terbuka dibarengi Raisa yang keluar dari sana. Raisa juga sama acak- acakannya, rambutnya sudah tak beraturan dan tampak ruam merah lecet di telapak kakinya akibat berlarian dan juga mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi tanpa alas kaki. Mata Wira langsung bersirobok dengan Raisa, dokter kandungan itu menatap dalam lalu menggeleng tipis menandakan keadaan wanita hamil di dalam sana tidak baik-baik saja.
“Tekanan darahnya kembali tak stabil, pendarahannya tak kunjung berhenti dan juga detak jantung bayi semakin melemah. Sepertinya Dara terjatuh cukup kencang. Jalan satu-satunya adalah melahirkan bayinya sekarang juga meskipun dalam keadaan prematur. Hanya saja dengan kondisi Dara yang memiliki gangguan kehamilan, dengan berat hati kusampaikan bahwa aku dan tim sangsi apakah kita mampu menyelamatkan ibu dan juga bayinya, tapi kita tak punya pilihan lain daripada berakhir kehilangan keduanya,” terang Raisa dengan nada sarat akan beban.
Bagi Wira, perkataan raisa barusan serupa ribuan pisau tajam yang langsung dihujamkan kepadanya tanpa belas kasihan, rasa sakitnya di luar kesanggupannya juga tak sepadan dengan kekuatannya, seolah seluruh dunianya dirampas paksa oleh kegelapan yang ingin kembali bertahta. Sedangkan Ratih semakin meraung tak mampu berkata-kata, hanya jeritan do’a dalam hati yang tak henti dipanjatkan untuk keselamatan menantu dan juga cucu berharganya, cucu yang kehadirannya sudah lama dinantikannya.
“Wira, Aku membutuhkan persetujuanmu sebagai suami Dara untuk melakukan prosedur operasi. Aku dan tim akan melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan keduanya, tetapi jika kami berakhir pada pilihan yang sulit, siapakah yang harus kuprioritaskan? aku tahu ini berat untukmu, begitu juga denganku sebagai dokter penanggung jawab,” jelas Raisa yang juga begitu sedih dengan kondisi pasiennya yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Akan tetapi sang bayi juga sama diinginkannya, makhluk mungil yang mewarisi bagian dirinya yang sudah lama diharapkannya, penerus garis keturunannya, apakah ia harus melepaskannya sebelum bisa memeluk dan mencium buah hatinya?Tubuh tingginya merosot ke lantai, tangannya terkepal memukul-mukul dadanya sendiri yang semakin terasa terimpit beban berat menyesakkan dada.
"Wira, kita harus bergerak cepat! Tolong berikan keputusanmu, jangan membuang waktu lagi.” Raisa menginterupsi temannya yang tampak linglung, dokter kandungan itu kembali bersuara lantaran berpacu dengan waktu yang terus berjalan tanpa bisa dihentikan.
“Dokter… jika memang harus memilih, to-tolong selamatkan Anakku… selamatkan Dara.” Ratih berucap lirih terbata dengan kepedihan yang nyata tercermin dari deraian air mata yang tak henti menghujani wajahnya sembari mengeratkan pegangannya di lengan Haris. Menimang cucu adalah keinginan terdalamnya, tetapi Dara adalah gadis yang membawa cahaya dan mengubah pandangan hidupnya, yang membukakan mata hatinya saat dirinya diliputi tipu muslihat.
Wira menatap nanar pada ibunya, ia tahu pasti tak mudah bagi Ratih untuk memutuskan. Lidahnya yang sejak tadi kelu kini berusaha berucap meskipun tenggorokannya tercekat dan melafalkan satu kalimat diiringi buliran air bening yang luruh dari sudut matanya.
“Istriku… tolong selamatkan istriku….”