
Satu jam sebelum kejadian.
Apakah kamu masih mencintaiku?" Giovani mengguncang bahu Almira agar wanita itu kembali fokus kepadanya.
Almira hanya terdiam mendengar pertanyaan yang dilontarkan kepadanya, ia masih menelaah tentang getaran yang kini dirasakannya ketika kembali bertemu dengan sang cinta pertamanya, apakah dirinya juga masih mencintainya?
Jemari Giovani menyentuh dagu Almira, dengan lembut memalingkannya membuat mata mereka kembali saling bertemu pandang.
"Jangan bohong padaku. Apa kamu lupa? aku sangat mengenalmu Al." Giovani kembali bertanya, tatapannya menelisik ke dalam iris Almira.
Almira menghela napasnya berat, tenggorokannya tercekat, dadanya sesak. Bola mata cantik itu mulai mengeluarkan sumber airnya, menggenang berkumpul di sudut matanya.
"Aku... aku sudah menikah, tidak sepantasnya Kakak bertanya tentang hal seperti ini pada wanita yang sudah bersuami," ucapnya dengan bibir gemetar menahan tangis. Sungguh sulit baginya, harus kembali menyakiti pria yang menjadi cinta pertamanya untuk kedua kalinya.
Sejujurnya, di hatinya masih ada rasa cinta yang tersimpan rapi untuk pria di hadapannya itu, tetapi Almira segera tersadar, jika dia mengutarakannya, maka hal itu hanya akan menciptakan permasalahan pelik antara dia, Wira, dan Giovani kedepannya.
*****
Wira menaruh berkas pasien terakhir yang diperiksanya hari ini, matanya melirik ke arah jam berbentuk bola sepak yang terdapat di atas mejanya, dan jarum pendeknya sudah menunjukan pukul empat sore. Sedari tadi Wira menunggu istrinya untuk pulang bersama, karena kebetulan waktu kerjanya minggu ini berbarengan dengan jadwal Almira. Namun, hingga kini istri tercintanya masih belum datang juga.
Apa mungkin Almira belum selesai bekerja? Pikirnya.
"Fatih, tolong bereskan sisanya, kamu hanya tinggal memasukannya ke dalam data pasien di komputer, aku akan mencari istriku dulu," perintahnya. Fatih mengangguk dan Wira segera menuju poli anak tempat di mana Almira bertugas di rumah sakit itu.
Dokter tampan itu mencegatnya dan juga bertanya kepadanya, beruntung perawat itu ternyata bekerja satu tim dengan Almira. Dia memberitahukan bahwa istrinya itu sedang pergi ke poli radiologi untuk mengambil hasil rontgen salah satu pasien. Wira mengucapkan terimakasih, dan tanpa membuang waktu lagi segera menuju ke poli radiologi untuk menyusul istrinya.
Wira celingak-celinguk karena keadaan begitu sepi ketika sampai di depan pintu poli yang di maksud, ia keheranan, kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam, mengedarkan pandangannya, tetapi tidak ada satupun perawat ataupun petugas yang berada di sana.
Lalu sayup-sayup, telinganya menangkap seperti ada yang sedang bercakap-cakap dari kejauhan, ia penasaran, berjalan semakin mendekat dan makin jelas terdengar suara itu berasal dari ruangan paling pojok yang pintunya tidak tertutup sempurna.
Wira menghentikan langkahnya tepat dibalik pintu, dari dalam sana terdengar ada suara pria dan wanita yang sedang bercakap-cakap. Ia menajamkan pendengarannya mencoba menelaah suara wanita yang sepertinya sangat familiar di telinganya.
*****
"Jawab aku dengan jujur Al, aku hanya ingin tahu, masih adakah aku walaupun hanya berada di ruang sempit di relung hatimu?" Suara Giovani setengah memelas putus asa.
Dalam satu kedipan mata, air bening itu meluncur bebas dari sudut matanya, dengan gerakan ragu akhirnya Almira mengangguk lemah sambil terisak. Ia menangis membenci dirinya sendiri, separuh hatinya mencintai Wira, namun separuhnya lagi Giovani lah pemiliknya. Dirinya dihantam rasa bersalah yang tak terkira, telah menjadi manusia serakah karena mencintai keduanya.
"Maaf, rasaku untukmu selalu ada, tapi sebagai masa lalu, karena kini, aku sudah mempunyai seseorang yang menemaniku untuk menapaki masa depan, yaitu suamiku," tutur Almira dengan suara serak.
Giovani tersenyum lega, jemarinya bergerak mengusap pipi Almira yang basah karena air mata.
"Itu cukup bagiku Al, mengetahui masih ada aku di hatimu sudah cukup membuatku bahagia. Sejujurnya, jantungku terasa sakit luar biasa saat kamu mengatakan sudah menjadi milik orang lain, tetapi, sekarang aku hanya ingin kamu berbahagia." Giovani membelai rambut Almira dengan sayang.