You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 195



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


😘💕.


*****


"Kurasa aku... aku...."


"A-ada apa... M-mas?" tanya Dara tergagap karena mata menyihir milik Wira menatapnya intens.


"Kurasa...." Wira menjeda kalimatnya sejenak. "Kurasa aku juga butuh bantuanmu untuk membasuh tubuhku. Aku tahu ini sudah malam dan sudah waktunya untukmu beristirahat, tetapi maukah kamu melakukannya untukku?" pintanya.


Sebetulnya Wira juga tak sampai hati meminta sang istri yang tengah berbadan dua untuk membantunya mandi, tetapi kondisi luka di tangan kanannya yang belum mengering membuatnya agak kesulitan membersihkan diri mengingat Wira adalah pengguna tangan kanan.


"Ayo, kumandikan. Ini sudah tugasku sebagai seorang istri." Dara mengulurkan tangannya dan mengulas senyum penuh pemakluman. Wira menyambut uluran tangan halus berjemari lentik itu dan melangkah bersama ke kamar mandi.


Hanya mandi, benar-benar hanya kegiatan mandi yang terjadi di dalam sana. Dara membersihkan tubuh jangkung suaminya dengan telaten, meskipun sesekali matanya mencuri pandang ke arah benda tegak gagah menantang yang sejak tadi membuat fokusnya teralihkan.


Selesai mandi, Dara juga membantunya berpakaian. Ia memakaikan satu set piyama tidur sebelum akhirnya keduanya beranjak ke peraduan.


*****


Suara gemerisik selimut serta sprei dan juga bantal guling mengusik tidur Dara, bunyi yang dihasilkan dari gerakan konstan berbalik ke kanan juga ke kiri dari seseorang yang berbaring di sampingnya.


Si cantik bersurai coklat itu menguap, membuka matanya perlahan masih dalam pengaruh kantuk berat yang menderanya. Sepertinya sejak tadi pria tampan yang berada disampingnya masih belum tertidur, Wira tampak gelisah juga embusan napasnya terdengar dalam dan berat.


"Sejak tadi aku tak bisa tidur, padahal tubuhku terasa luar biasa lelah," keluh Wira.


"Apakah lukanya terasa sangat sakit, sehingga membuat Mas tak bisa tidur?" Dara menggeser posisinya semakin mendekat. Dia sedikit membungkuk, mengangsurkan jemarinya penuh sayang di kening dan rambut Wira, lalu tangannya yang satu lagi menyentuh lembut seringan bulu di tangan suaminya yang terluka.


Wira menggeleng pelan. "Nggak kok, sayang. Lukanya sedang dalam proses penyembuhan, memang agak berdenyut tapi itu hal biasa. Luka semacam ini tak berpengaruh banyak padaku."


"Lantas, kenapa Mas terlihat gelisah?" tanya Dara kembali.


"Itu karena... karena...." Wira menghela napasnya seraya memejamkan mata dan memijat pangkal hidungnya sendiri.


"Karena ada bagian tubuhku yang terus terbangun dan enggan untuk tertidur sehingga membuatku gelisah seperti ini," desahnya pelan.


Terdengar nada frustrasi dari setiap untaian kata-kata yang keluar dari mulutnya. Seluruh tubuhnya lelah serta lukanya masih terasa perih, tetapi pusat tubuhnya tak mau berkompromi, tetap memberontak meminta dibebaskan ingin bersua dengan sarangnya dan menyiksanya hingga terasa nyeri.


Sejak tadi dia banyak bersentuhan kulit dan berdekatan dengan istri tercinta yang dirindukannya. Wajar saja jika tubuhnya langsung bereaksi serta bergairah, tetapi karena kondisinya tidak prima seperti biasa akhirnya ia mengurungkan niat untuk membuat istrinya mendesah, mengerang serta meneriakkan namanya dalam dekapan bergelora.


"Maksudnya gimana Mas?" Dara mengerutkan keningnya tanda belum mengerti dengan perkataan suaminya.


"Tak apa sayang. Tidurlah, jangan dipikirkan." Wira meraih jemari Dara yang berada di rambutnya dan mengecup punggung tangannya mesra.


Tanpa sengaja tangan kiri Dara menyentuh sesuatu yang sedang bersemangat di tubuh Wira. Ia terdiam sembari melihat tangannya sendiri yang menyentuh bagian tersebut, tampak gundukkan itu jelas menyembul dan sudah pasti terasa penuh sesak di dalam sana.


Berarti sejak tadi ini terus begini? Batin Dara. Ia pun akhirnya paham permasalahan yang membuat suaminya terus gelisah hingga tak dapat memejamkan mata.


Ragu-ragu Dara menatap manik Wira dan berkata. "Jika Mas mau, aku... aku bisa membantu agar terasa lebih lega. Seperti yang sudah Mas ajarkan padaku," ucapnya kemudian menunduk dibarengi semburat merah yang mulai merebak.