You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 256



Beberapa saat sebelumnya, wanita seumuran Ratih yang tak lain adalah Ibunya Michelia diusir dari sebuah privat dining room di restoran tersebut lantaran tak mampu membayar arisan kaum sosialita dalam jumlah fantastis, bualannya kali ini sudah tak mempan lagi untuk membodohi para kaum elit yang sempat berada satu lingkaran dengannya. Lingkaran pemborosan yang tak berfaedah.


Ayahnya Michelia sudah tak mau lagi melumuri tangannya dengan cara-cara kotor demi memenuhi tuntutan anak dan istrinya. Dia kini hanya ingin bekerja sebaik-baiknya, hidup seadanya, mengabdikan diri kepada negara seperti yang seharusnya, berharap dirinya dan keluarganya bisa mawas diri memperbaiki diri dari kesalahan yang telah terlalu lama dibiarkan berlarut.


Perubahan pandangan hidup Ayah Michelia itu ternyata masih belum bisa menyadarkan sang istri yang masih saja bergaul dengan kaum penghambur uang, meskipun suaminya sudah memperingatkan berkali-kali dengan keras takkan sudi lagi memenuhi keinginan istrinya di luar kesanggupannya.


“Semua ini gara-gara kau gadis ingusan!” geramnya penuh emosi dengan tangan mengepal.


“Jika saja kamu tak menghalangi jalan anakku, Chelia takkan berakhir di penjara dan aku tak harus hidup susah seperti sekarang. Semuanya gara-gara si anak sialan itu, seharusnya posisi pendamping pewaris kelurga Aryasatya adalah milik putriku!” ujarnya pelan namun penuh amarah dibarengi gertakan gigi hingga gemeletuk.


Emosi setan semakin menguasainya, ditambah lagi seseorang yang dianggapnya membawa kesialan pada kehidupan glamornya kini berada dekat dengan jangkauannya. Hidupnya kini menjadi menderita sebetulnya disebabkan oleh ulahnya sendiri, menghalalkan segala cara dalam upaya memenuhi gaya hidupnya yang luar biasa boros. Namun, sangat disayangkan, saat alam menegurnya agar tersadar dia malah sibuk mencari kambing hitam bukannya introspeksi diri.


Ibunya Michelia semakin gelap mata, netranya berkilat tajam penuh dendam dipenuhi nafsu angkara murka, pandangannya terus tertuju pada pintu bilik di mana Dara berada. “Anakku menderita di penjara, sementara kamu hidup enak dan berbahagia. Aku tak rela, takkan kubiarkan kebahagiannmu berlangsung lama gadis ingusan!”


*****


“Bagaimana hidangannya? semoga sesuai dengan selera kalian.” Wira menyapa dengan ramah.


“Kami suka sekali Kak, rasanya sangat enak,” sahut Anggi dengan mulut penuh mengunyah makanan sehingga suara yang keluar terdengar lucu.


“Syukurlah. Tapi, di mana Dara? bukankah tadi dia bersama kalian?” tanya Wira kepada mereka.


“Dara lagi ke toilet Kak,” sahut Freya yang kemudian melirik jam tangannya dan berakhir dengan mata membulat. "Ya ampun ini sudah hampir tiga puluh menit, saking terpukau dengan berbagai macam dessert ini aku sampai lupa kalau Dara masih belum kembali.” Freya menepuk-nepuk jidatnya sendiri menggunakan telapak tangannya.


“Akan kususul,” ucap Anggi. Dia menaruh sendok puding yang dipegangnya, bangkit dari duduknya hendak pergi keluar ruangan.


“Biar aku saja yang menyusul Dara, kamu adalah tamu pesta, jadi silakan menikmati acaranya ya. Mari.” Wira undur diri dengan sopan, segera berbalik badan dan bergegas menuju toilet.