
“Baby shower….” Dara berkata dengan nada luar biasa gembira.
“Iya, pesta baby shower. Hal ini sangat penting, menjelang persalinan biasanya para ibu hamil sering dilanda stress, untuk itu dengan diadakannya pesta yang disajikan ringan dalam rangka menyambut kelahiran juga untaian do’a dari keluarga serta teman dekat, diharapakan calon ibu dalam suasana hati yang selalu baik sehingga lebih siap menyongsong lahirnya si buah hati. Ibu juga sudah membicarakan ini dengan Ayah, tinggal menunggu persetujuan dari kalian saja,” ujar Ratih bersemangat.
Wira mengangguk tanda mengiyakan rencana ibunya. “Aku setuju, bagaimana denganmu sayang?” tanyanya kepada Dara.
“Aku… aku juga setuju Bu.” Senyuman mengembang di wajah cantiknya. “Tapi aku tak paham mengenai apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan dalam acara seperti ini,” keluhnya seraya membuang napas sembarang hingga pundaknya ikut bergerak turun seirama.
“Kamu hanya tinggal duduk manis, serahkan semuanya pada Ibu. Sebentar lagi ayah juga akan datang kesini bersama para photografer, kami ingin mengabadikan kehamilan cucu pertama keluarga Aryasatya dalam sebuah album foto keluarga, sebagai kenang-kenangan. Untuk menjaga kondisimu kami memilih memanggil mereka yang terbaik di bidangnya untung datang ke sini."
“Album kehamilan?” Dara semakin tersenyum merekah dengan mata berbinar bahagia.
“Mungkin kalian belum memahami hal ini sekarang, tapi percayalah, setiap momen yang dilalui seorang ibu dari mulai mengandung semuanya sangat berharga. Foto ini Juga untuk keperluan pesta, akan dipajang sebagai pelengkap dekorasi. Kalian pasti belum sempat berfoto dengan perut buncit itu kan? Jangan sampai melewatkan momen-momen berharga kalian sebagai calon orang tua,” tutur Ratih kepada anak dan menantunya berbarengan dengan kedatangan Haris beserta para photograper dengan tim dan kelengkapannya.
“Nah, itu Ayah sudah datang.” Ratih menyambut kedatangan Haris begitu juga dengan Wira dan Dara.
Haris menyapa Dara terlebih dahulu. “Semoga kamu dan bayimu selalu sehat, Nak,” ucap Haris sembari mengusap kepala Dara penuh sayang.
“Terima kasih, Ayah,” sahut Dara berlumur sukacita yang sangat kentara.
Haris juga memeluk putra semata wayangnya dan menepuk-nepuk lembut punggung Wira sebelum kemudain melepaskannya. “Jadilah ayah dan juga suami yang bisa diandalkan, setelah anakmu lahir nanti, dukungan penuh suami sangat penting bagi seorang istri dalam mengasuh anaknya.”
“Tentu saja Yah, aku akan selau berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga kecilku. Kuucapkan terima kasih yang tak terhingga atas semua perhatian Ayah juga Ibu untuk istri dan anakku.” Ucapan Wira berbalut rasa syukur yang menyeruak di dalamnya.
*****
Dua insan yang saling mencinta itu masih menetralkan napas masing-masing, merapat bersentuhan kulit satu sama lain di atas ranjang besar yang selalu setia menjadi saksi dua anak manusia saling memadu kasih memupuk rasa yang tertanam di hati agar tumbuh semakin subur.
Wira menarik selimut guna menutupi tubuh polos mereka berdua, lalu kembali mengenyahkan jarak merapatkan diri dengan posisi Dara yang membelakanginya, menelusupkan tangannya ke bawah lengan Dara lalu meneggelamkan wajahya di ceruk leher harum nan memabukkan itu sambil mendaratkan kecupan kecupan kecil menggoda di sana.
Beberapa saat sebelumnya mereka melakukan pertautan dua tubuh selembut mungkin, tak menggebu-gebu dalam pemenuhan kepuasan batin agar tidak mengganggu kondisi Dara juga bayinya.
Dari hasil pemeriksaan terakhir, Raisa mengatakan mereka masih aman untuk melakukan hubungan suami istri asalkan tetap berhati-hati, juga bisa menjadi salah satu treatment untuk mempermudah jalan lahir saat persalinan nanti. Saat ledakan kenikmatan itu terjadi, Wira menjaga agar tak menyembur di dalam sana sesuai saran Raisa, mengingat usia kehamilan Dara yang semakin besar dikhawatirkan terjadi kontraksi palsu.
“Bagaimana keadaan si kecil di dalam sana?” bisik Wira serak masih dengan mata terpejam sembari mengusap- usap perut buncit Dara.
“Dia sangat senang karena dijenguk Papanya,” sahut Dara terkekeh.
“Kalau begitu aku harus sering-sering menjenguknya,” goda Wira sensual dengan nada sedikit vulgar.
Dara kembali tertawa kecil. Meskipun membelakangi, Dara sudah tahu seperti apa ekspresi suaminya saat ini, menyeringai tipis dengan tatapan sensual tak tahu malu pasti sedang menghiasi wajah tampan pria yang sedang memeluknya. “Dasar modus! Ingat kata Dokter Raisa.” Dara menyikut perut berotot dibelakangnya membuat Wira tergelak gemas.
“Tidurlah sayang, kamu harus segera beristirahat, agar kondisimu segar untuk pesta besok.”
Dara sedikit mengubah posisi berbaringnya, menolehkan wajahnya dan mengecup bibir Wira dengan mesra. “Selamat tidur Papa,” ucapnya yang kemudian kembali bergerak membelakangi, merapatkan punggungnya di dada bidang nan hangat sang suami dan keduanya segera memejamkan mata dalam balutan mimpi indah.