
Sudah hampir tengah malam, Dara masih tak bisa memejamkan mata dengan baik. Berulang kali mengubah posisi berbaring lantaran didera rasa tak nyaman di seluruh tubuhnya.
Mengandung bayi kembar di tubuh mungilnya bukanlah hal mudah. Berat badannya juga ikut bertambah seiring pertumbuhan si jabang bayi di dalam sana. Sehingga berefek pada kakinya yang sering bengkak, menopang tubuh juga kandungannya.
Cucuran keringat kerap kali membanjiri di setiap malamnya di usia kehamilan ke sembilan bulan ini, makin besar kandungannya ia semakin kepayahan setiap harinya. Terlebih lagi jika si kembar menendang kencang, rasa ngilu langsung merebak terkadang membuatnya meringis dan terbangun di lelap malam.
Sebagai suami siaga, Wira selalu ikut terjaga. Mengusap-usap perut juga punggung Dara setiap kali istrinya terbangun diiringi keluhan terdengar, berharap mengurangi rasa tak nyaman yang tengah dirasakan wanita tercintanya yang sedang mengandung benih unggulannya itu.
Wira membenarkan posisi bantal agar Dara bisa beristirahat dengan baik. Ia duduk bersila, mengusap-usap lembut perut bulat Dara lalu membungkuk sambil bergumam di sana. “Anak Papa jangan nakal ya, harus sayang sama Mama. Nendangnya jangan terlalu kencang, nanti saja kalau sudah di luar. Biar Mama bisa bobo,” ujarnya.
Dara memaksakan senyumnya. Curahan cinta sang suami selalu menjadi obat mujarab baginya setiap kali drama kehamilan dirasakan.
"Mas, kok tumben ya. Rasanya perutku gak enak sejak tadi siang. Apa mungkin karena makan tomyum pedas kemarin malam?” tanya Dara yang meringis –ringis, ikut mengelusi perutnya sendiri.
“Gak enak gimana?”
"Gak nyaman aja, kayak mulas pingin pup ketahan gitu. Tapi bukan, ini agak sedikit berbeda," sahut Dara pelan.
Wira seketika menegakkan punggung. Menatap lekat dengan sorot khawatir ketika kata mulas terucap dari bibir ranum istrinya.
“Mungkinkah, si kembar sudah waktunya keluar gerbang?” sambungnya. Wira meraba-raba seluruh perut buncit Dara diserbu kecemasan yang nyata.
Pasalnya, ia tak tahu pasti, apakah sakit yang dirasakannya sekarang adalah rasa sakit alamiah menjelang kelahiran? Ketika melahirkan Selena dulu ia tidak sempat mengalaminya, karena si sulung putri cantiknya dilahirkan dalam kondisi darurat sebelum waktunya tiba akibat dirinya terjatuh di toilet.
Raisa menjadwalkan operasi sesar untuknya sekitar sepuluh hari lagi. Mengingat Dara dulu melahirkan lewat cara pembedahan, maka di kehamilan kedua ini Raisa sebagai dokter kandungan yang menangani menyarankan jalan melahirkan serupa demi keselamatan ibu dan bayinya. Terlebih lagi sekarang ini bayi yang di kandungnya ada dua nyawa. Tak ingin mengambil resiko dengan memaksakan vaginal bitrh.
"Mu-mulasnya, rasanya bagaimana, sayang?" Wira tak melepaskan kedua telapak tangannya dari permukaan perut buncit Dara, ia juga menatap perut bulat juga wajah cantik sang istri bergantian berulang-ulang.
"Ya ... gitu, mulas aja. Terus kayak agak ngilu juga di perut bagian bawah," sahut Dara ragu dengan apa yang dirasakan tubuhnya, sejujurnya ia juga bingung harus menjawab bagaimana.
Wira mulai panik. Dia masih seringkali dihujam ketakutan hebat jika mengingat kembali kala Dara melahirkan Selena. Kendati di kehamilan kedua ini kandungan Dara memang normal, dan sekarang pun sudah mendekati waktu lahir, bukan seperti kehamilan pertama dulu yang banyak terjadi permasalahan semenjak trimester awal sehingga si jabang bayi terpaksa dilahirkan secara prematur.
Tanpa berbasa-basi lagi, Wira menuntun Dara ke garasi. Juga tak lupa membangunkan Pak Jono dan segera melesat ke rumah sakit membelah jalanan di tengah malam.
*****
Halo my beloved readers. Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca sebagai dukungan ya, berupa like, komentar, vote kupon dan hadiahnya juga. Ayok ramaikan readersku sayang. Thank you 🥰.
Follow juga instagramku @Senjahari2412 untuk mengetahui seputar cerita-cerita yang kutulis.
Baca juga kisah dari Fatih & Freya yang gak kalah serunya berjudul 'Double F', selamat membaca 🤗.