
Fatih masih setia mendinginkan wajahnya di depan benda kotak pendingin dengan pintu yang terbuka. Penjual minuman di kantin menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan dengan kelakuan pemuda si calon dokter itu. Sudah hampir lima belas menit berlalu, tetapi dia masih belum beranjak dari sana. Si ibu penjual segera menghampiri, karena apa yang dilakukan Fatih menghalangi para pembeli yang hendak membeli minuman dingin.
"Hei anak muda, kamu menghalangi pembeli." Si ibu menepuk pundak Fatih hingga membuatnya berjengit kaget.
"Eh, m-maaf Bu," ujarnya tergagap.
"Anak muda zaman sekarang kelakuannya aneh-aneh, nongkrong kok di depan pintu cooler, nanti masuk angin lho," ucap si ibu. Lengannya mendorong pintu pendingin, mengusir Fatih secara halus agar segera pergi dari tempatnya berdiri.
"Saya... saya sebetulnya mau beli Bu. Hanya saja tadi saya sedang berpikir, kira-kira minuman apa yang paling enak untuk mendinginkan telinga, eh salah kepala, eh salah salah tenggorokan, ya tenggorokan hehe," ujarnya mencari alasan.
"Jadi mau beli yang mana?" tanya si ibu penjual dengan kening berkerut.
"Yang ini saja." Fatih mengambil sembarang sebotol minuman yang berjajar di dalam pendingin itu, memberikan selembar uang lima puluh ribu lalu terbirit-birit kabur dari sana tanpa mengambil kembaliannya.
Fatih yang sedang melarikan diri melihat Wira menuju parkiran sambil menggendong Dara. Ia hendak menyapa dari kejauhan, tetapi kemudian teringat akan ponselnya yang masih tertinggal di ruangan Wira. Pemuda itu kembali menyambung langkahnya dan bergegas untuk mengambil ponselnya.
Dia masuk ke dalam ruangan masih dengan napas tersengal, kemudian mendudukan dirinya dan tangannya bergerak hendak membuka minuman yang dibelinya tadi. Fatih melebarkan matanya, alangkah terkejutnya dia, ternyata yang dibelinya adalah jamu siap minum kemasan botol yang berkhasiat untuk melancarkan datang bulan.
Tangannya mengacak rambutnya kesal dan membuang minuman yang dibelinya ke dalam tong sampah. Namun saat mengedarkan pandangannya, di lantai ruangan itu penuh dengan tisu bekas yang berserakan. Kemudian dia kembali teringat dengan percakapan Dara dan Wira saat menguping tadi.
Pikiran-pikiran aneh kembali menjalar di kepalanya, ditambah lagi tadi dia sempat melihat Dara sampai digendong ke tempat parkir. Dokter Wira menggendongnya pasti karena Dara tak mampu berjalan bukan? Dan juga tisu yang berserakan ini sebenarnya bekas apa? Hingga Fatih menyimpulkan sendiri bahwa penyebab semua kejadian ini sudah pasti karena hal erotis yang melintas di kepalanya.
"Haish!" Fatih mengumpat frustasi, kemudian menghubungi petugas cleaning service rumah sakit untuk segera membersihkan kekacauan di ruangan itu. Dia menyandarkan dirinya di kursi depan komputer, mencoba kembali menyingkirkan semua bayangan-bayangan panas yang berputar di otaknya. Lalu tiba-tiba terlintas di benaknya, apakah ia harus segera menikah juga?
Mobil hitam milik Wira sampai di rumah saat senja menyapa langit, keindahan sore hari yang tak bisa didustakan oleh mata manapun yang menyaksikannya.
Wira turun terlebih dahulu kemudian berputar membukakan pintu untuk Dara, lalu tangannya terulur hendak kembali menggendong tetapi Dara menolaknya.
"Aku bisa sendiri," ucapnya ketus.
"Ya sudah, terserah." Wira melenggang lebih dulu meninggalkan garasi tanpa menghiraukan Dara yang masih duduk di kursi mobil.
Gadis itu tertatih-tatih, menutupkan pintu mobil dan berjalan perlahan sambil berpegangan ke di dinding garasi dengan susah payah.
Wira menghentikan langkahnya, tepat dekat tangga kecil di pintu masuk ke dalam rumah yang tersambung dari garasi. Ia berbalik, lalu bersandar di ambang pintu sambil melipat tangannya.
"Yakin bisa sendiri?" tanyanya kepada Dara sambil menipiskan bibirnya mengejek.
Dara menatap sebal pada pria yang ada di hadapannya itu, tentu saja dirinya akan kesulitan menaiki tangga dengan keadaan kakinya sekarang ini, tetapi, dia juga tidak mau meminta tolong padanya. Itu sungguh memalukan, karena tadi dia sudah menolak bantuan Wira.
"Jangan pedulikan aku, Kakak cepat masuk sana!" sahutnya galak.
Wira berdecak kesal, gadis ini sungguh keras kepala. Tanpa meminta persetujuan, dia mendekati Dara dan kembali menggendongnya. Dara meronta-ronta, mengumpat bahkan menjambak rambutnya, tetapi Wira tidak menggubrisnya dan tetap melangkah masuk langsung menuju kamar baru mereka.