
Nuansa pekat sang penguasa malam masih berpesta pora merebak menggelayuti langit, bulan separuh dan gugusan bintang ikut memeriahkan menciptakan keindahan. Mereka masih enggan beranjak meskipun tahu jika sang fajar sudah mulai berteriak dari persembunyiannya, menyerukan agar mereka segera berkemas karena sebentar lagi gilirannya bertahta di singgasana angkasa.
Dini hari sekitar pukul empat pagi, Dara terusik dari tidurnya. Kali ini tubuhnya terasa lebih bertenaga tak selemah ketika terbangun beberapa jam yang lalu. Kantuk hebatnya pun sudah mulai memudar, rasa sakit di bagian dadanya akibat sesak napas yang dialaminya semalam juga semakin membaik, hanya menyisakan sedikit rasa nyeri ketika mencoba menghela napas dalam-dalam.
Kelopak matanya bergerak-gerak, kemudian ia mengerjap lalu membuka secara perlahan, membuat bulu mata panjang dan lentik yang menaungi netra indahnya ikut berkibar saat Dara membuka dan menutup matanya kembali secara konstan dan berulang. Menyesuaikan cahaya yang masuk di iris matanya sembari mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
Tangannya terulur membuka alat penyambung oksigen yang terpasang di hidungnya. Embusan napas panas menggelitik ceruk lehernya, juga aroma maskulin khas yang sangat dikenalnya begitu mendominasi sangat dekat dengannya. Dara melirik ke sisi kanannya, begitu menoleh ia langsung disuguhi pemandangan wajah tampan suaminya yang bergelung di dekat bahunya sambil memeluknya.
Kedua sudut bibir Dara tertarik ke atas, menciptakan lengkungan indah di wajah cantiknya. Dengkuran halus terdengar, ditatapnya lekat-lekat Wira yang masih tertidur pulas. Lalu, Dara teringat beberapa hal yang didengarnya semalam, pantas saja akhir-akhir ini suaminya itu memperlakukannya layaknya seorang bayi, ternyata semua itu karena sebuah alasan.
Belakangan ini Wira semakin membatasi dan melarang banyak hal, serta terkesan menghindari karena tak menyentuhnya untuk menghangatkan ranjang. Juga terkesan seperti ingin mengurungnya di rumah dengan terus membujuknya cuti kuliah, bahkan rencana mereka ke panti asuhan masih belum terealisasi hingga sekarang, Wira terus menunda-nunda dengan berbagai alasan.
Wira mulai terusik dari tidurnya, kedua alisnya bertaut dan keningnya berkerut sebelum akhirnya matanya membuka. Saat matanya terbuka sempurna, netranya langsung bersirobok dengan iris indah Dara.
"Emhh... sayang, sejak kapan kamu bangun?" Wira makin mendekatkan wajahnya tak bisa menahan diri untuk menghadiahkan kecupan sayang di pelipis Dara.
"Baru saja," sahutnya lembut sembari mengulas senyum.
"Kenapa tak membangunkanku, apakah ada yang kamu perlukan?" tanya Wira.
Wira merapikan anak-anak rambut yang menutupi pelipis Dara. "Ada apa, hmm?" gumamnya lembut dengan mata yang tak lepas menatap Dara.
"Aku mendengar separuh pembicaraan Mas dengan dokter Raisa tadi malam, tentang kondisiku."
Wira terkesiap, menelan ludahnya susah payah untuk membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba terasa tercekat. "Ka-kamu men-mendengarnya...."
Dara mengangguk, kemudian meletakkan telapak tangannya yang terbebas selang infus di punggung tangan Wira yang memeluk tubuhnya dan meremasnya lembut. "Kenapa Mas nggak berterus terang tentang kondisi kehamilanku?"
"Aku... aku takut." Wira membalikkan telapak tangannya, menautkannya dan membalas remasan Dara di jemarinya seolah mencari kekuatan di sana.
"Apa yang Mas takutkan? bukankah aku juga berhak tahu tentang kondisiku agar bisa menjaga diriku dengan baik."
"Aku takut kamu tak siap dengan kabar yang tidak mengenakkan itu. Lebih tepatnya karena aku terlalu pengecut dan takut diriku menjadi lemah karena itu. Jika dirimu terpuruk, maka aku akan merapuh. Kamulah sumber kekuatanku." Wira membenamkan wajahnya ke ceruk leher Dara dan bergumam dengan nada lirih serta putus asa, "Jika binarmu meredup, maka gelaplah sudah seluruh duniaku."
Punggung lebar nan kokoh itu berguncang, Wira menangis. Kini Dara paham apa yang ditakutkan Wira. Dara membelai rambut hitam suaminya penuh sayang dan berbisik lembut di telinganya, "Sayang, aku tak selemah itu. Mas harus yakin bahwa aku mampu. Kuatlah, aku membutuhkanmu untuk menopangku supaya bisa melewati semua ini."