You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 176



Dara tersenyum di sela-sela ciumannya, semakin lama ia semakin paham, bahwa suaminya membutuhkan nafkah batin darinya sebagai penyemangat harinya.


Dirinya pun sama bergairahnya ketika Wira merapatkan tubuh mereka satu sama lain walaupun raga masing-masing masih berpakaian lengkap, tetapi ciuman ahli prianya selalu berhasil menghanyutkannya dan membuatnya menyerahkan diri dengan sukarela tergerus arus membuai yang sulit untuk ditolak.


Tanpa melepas pagutannya, tangannya bergerak membuka satu persatu kancing depan baju terusan yang dipakai Dara. Bibirnya mulai berangsur turun ke leher jenjang nan harum itu, menghidu wanginya dalam-dalam seolah indera penciumannya tak pernah puas dengan aroma manis bagai candu yang menguar dari sana.


Wira semakin turun menyusuri leher itu, hingga akhirnya wajahnya berlabuh tepat di tempat favoritnya yang hangat, lembut dan begitu pas digenggamannya.


Dara memejamkan mata, mengigit bibirnya menahan erangan yang ingin keluar dari sana ketika Wira dengan piawai menyesap serta mengolah bagian tubuhnya yang kelak akan menjadi sumber makanan untuk bayinya.


Tubuhnya merasakan geleyar dan senyar yang menyiksanya tanpa ampun, jemarinya meremas rambut legam Wira dengan deru napas memburu karena di dera gejolak yang semakin membawanya membumbung tinggi.


Di tengah-tengah suasana yang makin memanas, terdengar ketukan di pintu. Keduanya menghentikan kegiatan bergelora dengan napas yang masih tak beraturan.


Wira dan Dara saling menatap satu sama lain dan di menit kemudian keduanya malah tergelak bersama karena kegilaan mereka yang hampir lepas kendali di tempat yang bukan seharusnya.


"Dok... Dokter." Ternyata Fatih yang mengetuk dari luar dan Wira segera berseru agar Fatih menunggu sejenak.


"Ini semua Mas yang mulai! Aku jadi lupa diri kan." Dara melayangkan protes sambil memukul sisi dada Wira dengan mata memicing dan bibir mencebik.


"Ahahaha... maafkan aku sayang. Kamu memang berbahaya, membuatku lupa di mana berada." Wira tertawa kecil kemudian mengecup bibir ranum istrinya yang cemberut.


Rona merah sudah merebak di wajah cantiknya tak bisa disembunyikan lagi. Dara mengulum senyumnya kemudian segera membetulkan kembali pakaiannya, ia juga merapikan kemeja Wira serta dasinya yang sedikit kusut karena kegiatan mereka tadi.


Ponsel milik Wira juga ikut berbunyi, sepertinya Pak Jono sudah sampai untuk menjemput Dara pulang. Ia merangkul Dara untuk membuka pintu dan dan begitu pintu terbuka wajah Fatih tampak terkejut melihat keberadaan atasan beserta istrinya di dalam sana.


Matanya salah fokus melihat wajah merona serta bibir Dara yang agak memucat dan basah, ditambah rambut Wira yang sedikit acak-acakan membuat Fatih kembali mulai menerka-nerka. Pantas saja atasannya itu sangat lama membuka pintu, pasti tadi mereka sedang memadu kasih di dalam sana, batinnya.


"Dokter... m-maaf, saya kira tidak ada Mbak Dara di sini. Kalau begitu saya akan ke kantin dulu saja dan silakan dilanjutkan," ucapnya asal bicara kemudian berbalik badan hendak kabur dari sana, tetapi Wira menarik kerah belakang Fatih sehingga langkah pemuda itu terhenti.


"Ehm... ehm. Kamu masuklah dan siapkan ruangan praktekku! Aku akan mengantar Dara ke tempat parkir sebentar," perintahnya berusaha tetap tegas meskipun ada rasa malu yang menggelitiknya karena asistennya itu sepertinya paham apa yang tadi terjadi di dalam sana.


Tanpa basa basi lagi Fatih mengangguk patuh kemudian berjalan kaku seperti robot masuk ke ruangan Wira. Pikiran-pikiran yang sempat padam itu kini kembali memenuhi isi kepala si perjaka yang ingin segera menikah itu.