You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 172



Mereka berdua membersihkan diri sebelum fajar tiba, Dara membasuh dirinya terlebih dahulu setelah kembali muntah-muntah pagi ini. Mual muntahnya masih dalam batas yang wajar, tetapi sebagai suami, Wira selalu setia mendampingi ketika Dara mengalami morning sickness entah itu berat ataupun ringan.


Si cantik berambut panjang itu membuka tas berisi pakaian ganti yang dibawanya, ia mencari-cari dasi yang sudah disiapkannya dari rumah dengan gerakan sepelan mungkin agar tidak membuat suara berisik yang bisa mengganggu tidur ayah serta ibu mertuanya.


Haris dan Ratih masih belum terjaga, pria paruh baya itu tidur di kursi panjang sebrang sofa besar yang dijadikan tempat tidur oleh Dara dan Wira.


Wira keluar dari kamar mandi setelah selesai menyegarkan dirinya serta berganti berpakaian. Dara menghampiri dengan dasi di tangannya.


"Sini, kupasangkan dasinya Mas." Dara berdiri tepat di hadapan Wira, mengancingkan kemeja suaminya di bagi kerah leher serta lengan dan si tampan bertubuh tinggi itu membungkuk mensejajarkan dirinya dengan Dara.


Lagi-lagi Ratih menyaksikan dua sejoli itu berinteraksi. Ia terbangun sekitar tiga puluh menit yang lalu ketika Dara muntah-muntah di kamar mandi. Sudut matanya mencuri pandang melihat sorot mata serta senyuman putranya yang tampak bahagia ketika menatap istrinya, dan juga aura ketulusan yang menguar kuat dari diri Dara sungguh menyilaukan di seisi ruangan.


Kata-kata Haris semalam masih terngiang-ngiang di telinganya. Rasa sesal mulai merayapi kalbunya, hatinya seketika mencelos. Selama ini dia berusaha memisahkan mereka dengan dalih demi kebaikan Wira, tetapi pada kenyataannya dirinya hampir saja menghancurkan kebahagiaan putra berharganya dan hendak memaksanya berbagi hidup dengan wanita busuk bak lintah.


Bahkan menantu yang tak dianggapnya itu mau ikut menginap di rumah sakit untuk menemani dan menjaganya. Usianya memang masih sangat muda belia, tetapi pribadinya sungguh bijak dan dewasa.


Mungkin karena Dara banyak mengalami pahitnya kehidupan sewaktu kecil, tanpa sadar dan secara alamiah hal itu menjadikan dirinya mempunyai pemikiran yang lebih dewasa dari orang-orang seusianya.


"Nah, sudah selesai. Nanti, Mas harus sarapan dulu sebelum bekerja." Dara mengingatkan dan Wira mendaratkan bibirnya di kening Dara mengecupnya mesra.


"Mas jangan khawatir, setiap pagi begini aku sudah mulai terbiasa kok. Barusan aku sudah meminum obatku dan sekarang tiba-tiba aku ingin sarapan bubur ayam komplit, apakah di dekat sini ada yang menjualnya?" tanya Dara.


"Kita sarapan di restoran depan rumah sakit. Mereka biasa buka sejak pagi dan menyediakan berbagai macam menu sarapan di sana termasuk makanan yang kamu sebutkan tadi. Hanya saja restorannya baru buka sekitar satu jam lagi, tapi jika kamu menginginkannya sekarang aku akan mencari ke luar area rumah sakit."


"Tidak usah Mas, menunggu sebentar tak. masalah," sahutnya sembari mengelus sisi lengan Wira.


Lalu terdengar bunyi gemerisik dari tempat tidur di mana Ratih berbaring, keduanya langsung menoleh dan mereka mendapati Ratih yang sedang berusaha bangun mendudukkan dirinya. Wira dan Dara segera menghampiri serta membantunya untuk duduk bersandar.


"Maaf, pasti karena aku berisik jadi membangunkan Tante," ucap Dara merasa tak enak lalu menundukkan wajahnya.


Dia acap kali lupa diri sedang berada di mana ketika berdekatan dengan suaminya, efek dahsyat dari cinta yang membara membuat seolah dunia hanya milik berdua dan yang lainnya terlupakan.


"Sama sekali tidak. Memang sudah waktunya untuk bangun," jawab Ratih yang kemudian mengulas senyum.


"Tapi kenapa kamu masih memanggilku Tante, bukankah aku ini juga Ibumu? panggil aku Ibu. Janganlah memanggilku seperti orang asing," ucapnya dengan nada khas seorang ibu.


Dara yang menunduk seketika mengangkat wajahnya karena terkesiap dan langsung menatap lurus ke arah Ratih, apakah yang didengarnya sungguh nyata dan bukanlah mimpi belaka?