You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 115



Setibanya di rumah, Dara masuk lebih dulu masih dengan wajah ditekuk tanpa memperdulikan suaminya, bahkan rujak yang dibeli Wira tadi ditinggalkannya begitu saja di dalam mobil.


Wira melirik bungkusan yang ditinggalkan Dara, dengan sabar ia membawanya masuk ke dalam rumah dan meminta bu Rina untuk memindahkan isinya ke dalam piring saji.


"Bu Rina, nanti tolong antarkan rujaknya ke kamar," perintahnya.


"Baik Tuan."


Wira menyusul Dara yang sudah masuk lebih dulu ke kamar utama. Ia mengedarkan pandangannya dan tidak mendapati istri kecilnya, tetapi kemudian telinganya menangkap suara gemericik air dari kamar mandi, sepertinya Dara sedang membersihkan diri.


Terdengar bunyi ketukan di pintu dan suara bu Rina yang meminta izin untuk masuk. Wira membuka pintu kamarnya dan mengambil alih nampan berisi semangkuk rujak yang dibawa Bu Rina.


Tak lama berselang Dara keluar dari kamar mandi hanya memakai bathrobe, istrinya terlihat begitu segar dan cantik membuat Wira makin memujanya. Pria tinggi itu menghampiri sambil membawa mangkuk tersebut dan tersenyum ke arahnya.


"Sayang ayo duduk dulu, aku suapi," pintanya lembut.


Dara sebetulnya masih dongkol, tetapi ketika melihat tampilan rujak yang terlihat segar akhirnya ia tergiur dan menuruti perkataan Wira untuk duduk di sofa. Wira menyuapi sesendok rujak ke mulut Dara, lalu sesaat kemudian istrinya itu malah menangis.


"Lho, kenapa menangis hmm?" Wira panik karena tiba-tiba Dara berurai air mata, ia menaruh mangkuk yang dipegangnya ke atas meja dan jemarinya menghapus buliran kristal bening di pipi mulus istrinya itu.


"Rujaknya nggak enak... aku mau yang di pinggir jalan tadi, nggak mau yang ini," rengeknya sambil menangis sesenggukan.


"Sayang, aku tidak membelinya karena di sana tidak higienis. Bukankah ini juga sama-sama rujak? atau mau kuminta Bu Rina untuk membuatkannya sesuai keinginanmu, bagaimana?" tawarnya tetap sabar membujuk Dara.


"Mas jahat! Aku cuma mau rujak yang tadi nggak mau yang lain. Ini dedeknya yang minta lho, cuma minta yang begitu aja masa nggak boleh sih? aku nggak mau ngomong lagi sama Mas!" serunya kesal.


Dara naik ke ranjang, membenamkan wajahnya di atas bantal dan kembali menangis. Wira mendekat, ia duduk di tepiannya dan mencoba menyentuh rambut Dara, tetapi kemudian Dara menepis tangannya.


"Jangan sentuh aku! Pergi jangan dekat-dekat. Aku benci sama Mas," serunya kembali masih dalam tangisannya.


"Sayang, jangan ngambek dong. Please... maafin aku ya," mohonnya.


Wira kebingungan, ini adalah pertama kalinya Dara menolaknya dan merajuk separah ini. Jika Dara bahkan tak mau disentuh dan didekati olehnya, maka itu adalah bencana besar karena malam-malamnya akan berada dalam situasi gawat darurat.


"Keluar dari kamar ini! Aku nggak mau liat Mas, aku ingin tidur sendiri." Dara melemparkan bantal serta guling kepada Wira dengan membabi buta.


Bu Rina yang sejak tadi masih berada di ruang tengah, menghampiri Wira saat melihat kemunculan tuannya dari balik pintu kamarnya dengan wajah kusut.


"Nyonya kenapa Tuan?" Tanpa basa basi bu Rina langsung bertanya karena tangisan nyonya mudanya melengking terdengar hingga keluar kamar.


Wira menggaruk-garuk kepalanya tak gatal dan menceritakan penyebab istrinya mengamuk. Setelah mendengar penuturan Wira, bu Rina mengulum senyumnya.


"Begitulah wanita yang sedang hamil muda, Tuan. Sebaiknya kemauan nyonya dituruti, itu yang disebut dengan ngidam, bawaan bayi," jelas Bu Rina.


"Tapi aku takut Dara sakit perut jika memakan rujak pinggir jalan itu," keluhnya.


"Biasanya jika tak dituruti nanti saat lahir bayinya ngeces, Tuan." Bu Rina sebetulnya tidak mempercayai mitos tersebut, dia menggunakan cara itu agar Wira melunak dan mau mengabulkan permintaan Dara.


"Benarkah?" tanya Wira cemas.


Bu Rina mengangguk penuh semangat agar Wira yakin bahwa mitos itu benar adanya.


"Kalau begitu aku akan pergi membelinya."


Akhirnya Wira mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi untuk membelikan rujak yang diinginkan Dara.


*****


Author note.


Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa juga tinggalkan jejak kalian setelah membaca. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis.


Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.


Terima kasih telah membaca 😘💜


With Love,


Senjahari_ID24