
Pukul sebelas malam semua rangkaian resepsi pun usai. Acara berjalan lancar sesuai harapan, tak ada kendala apapun yang menghambat terselenggaranya pesta tersebut.
Saat ini, Wira dan Dara memasuki kamar hotel yang sudah dipesankan mertuanya untuk mereka menginap malam ini. Kamar didekorasi sedemikian rupa, berbuket-buket bunga mawar menghiasi ruangan, lilin-lilin aromaterapi yang menebarkan wangi menenangkan juga melengkapi kamar tersebut.
Ini bukanlah malam pertama mereka sebagai pasangan suami istri, kendati begitu Ratih dan Haris tetap mempersiapkannya selayaknya kamar pengantin meskipun sedikit terlambat.
Dara duduk di tepian tempat tidur besar itu dan menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan sorot mata berlumur sukacita, disusul Wira yang duduk disampingnya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Dara.
"Akhh... capek sekali," gumam Wira sembari meregangkan otot-ototnya yang terasa pegal.
"Mau kupijat?" tawar Dara. Ia mengangsurkan tangannya dari mulai bahu hingga siku Wira dengan gerakan lembut teratur sambil sesekali memijat ringan.
"Nggak usah, sayang. Kamu juga pasti lelah kan? aku hanya perlu berbaring dipangkuanmu yang nyaman ini sebentar saja. Setelah ini aku akan membersihkan diri," ujarnya yang kemudian meraih tangan Dara dan mengecupnya mesra.
"Baiklah," jawab Dara. Ia kembali menggulirkan tangannya mengusap penuh sayang lengan pria tercintanya, sementara itu ingatannya kembali pada pembicaraannya tadi bersama mertuanya selepas acara pesta selesai.
*****
"Dara, terimalah hadiah sederhana ini. Hadiah pernikahan dan juga ucapan selamat atas kehamilanmu, Nak. Tanda cinta ungkapan kebahagiaan kami sebagai orang tua kepadamu. Selamat datang di keluarga Aryasatya." Haris memberikan sebuah kotak ke pangkuan Dara.
"Apa ini? aku... aku bahkan tak memerlukan hadiah apapun lagi. Kalian adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan kepadaku, menganugerahiku suami yang begitu mencintaiku dan orang tua yang menyayangiku," ucap Dara penuh ketulusan.
Wira yang duduk di sebelah Dara, menautkan jemarinya dengan Dara dan meremasnya lembut membuat si cantik bermata indah itu menoleh ke arahnya.
"Terimalah hadiah dari Ayah dan Ibu. Seperti halnya dirimu pun adalah hadiah terbaik yang Tuhan berikan dalam kehidupan kami." Wira berkata dengan senyuman yang menyejukkan hati.
Dara menatap satu persatu mereka bertiga secara bergantian, mematrikan di memorinya bahwa sekarang mereka semua adalah keluarganya, kemudian Dara mengangguk dan menerima hadiahnya dengan hati yang membuncah bahagia disertai ucapan terima kasih yang mengalir dari bibirnya.
"Bukalah." Wira meminta Dara untuk membuka hadiahnya.
"Ini, terlalu banyak." Dara tampak kembali ragu untuk menerima hadiah tersebut.
"Terimalah sayang. Ini hanyalah hadiah kecil, sama sekali tak sebanding dengan kebahagiaan yang kamu bawa ke tengah-tengah kami," pinta Ratih.
"Benar, Nak. Mungkin kamu mempunyai impian yang ingin diwujudkan dan semua itu bisa kamu gunakan, Ayah percaya kamu akan menggunakannya dengan bijak." Haris menimpali dengan nada penuh pemakluman.
*****
Pikiran Dara masih berada dalam lamunannya, masih berpesta pora dalam balutan kasih sayang sebuah keluarga yang melingkupi dan melengkapi dirinya. Kemudian memori tentang semua kebersamaannya dengan Wira ikut berkelebat, ikatan yang dimulai karena keduanya terpaksa namun ternyata malah ditakdirkan berakhir saling mencinta.
Di keheningan suara dengkuran halus terdengar, ternyata pria yang berada dipangkuannya sudah jatuh tertidur karena kelelahan, ditambah usapan lembut Dara yang menenangkan merayu matanya untuk terpejam.
Ia terkekeh. Membelai rambut hitam legam itu, membungkukkan tubuhnya lebih dalam dan mengecup pelipis Wira penuh sayang. "Selamat tidur bayi besarku," cicitnya pelan.
Dara menyandarkan dirinya dan ikut memejamkan mata, kantuk mulai menggodanya, tetapi ia tak sampai hati membangunkan Wira yang terlihat sangat pulas.
Akhirnya Dara tertidur dengan posisi duduk bersandar masih dalam posisi kepala Wira dipangkuannya. Ia tak keberatan sama sekali, justru rasa bahagia semakin tumpah ruah, merasa dirinya dipercaya mampu menjadi sandaran serta dibutuhkan oleh suaminya.
*****
Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.
Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.
Selamat membaca....
😘💕.