You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 211



Di luar gedung hotel tak jauh dari lobi, mobil berwarna putih yang sejak tadi terparkir di sana beserta si pengemudi yang tak kunjung turun dari dalam, kini perlahan bergerak meninggalkan tempat tersebut.


Itu adalah mobil si dosen muda, dari semenjak pesta dimulai hingga usai Rifki hanya berdiam diri di dalam mobilnya. Ia enggan untuk turun dan masuk ke dalam ballroom, kakinya terasa berat ketika hendak melangkah seolah ada rantai besi yang membelenggunya, cerminan hatinya yang dirundung kelabu serta penuh beban derita.


Hari ini adalah hari terakhirnya di Ibukota. Awalnya dia sudah memantapkan hati untuk menghadiri pesta tersebut dan bermaksud untuk sekalian berpamitan mengucapkan salam perpisahan karena esok hari dia akan pulang ke kampung halaman. Akan tetapi setelah sampai di tempat tujuan, semua itu tak semudah yang menggaung di kepalanya, rasa perih tak dapat memiliki si pujaan hati kembali menyeruak ke permukaan.


Akhirnya ia hanya menunggu tanpa menemui Dara dan Wira, menunggu hingga acara selesai kemudian melajukan mobilnya pergi meninggalkan tempat resepsi tersebut sembari bergumam.


"Selamat tinggal, Daraku...."


*****


"Sayang, kenapa tak membangunkanku? kamu pasti pegal dan tak nyaman tertidur dengan posisi duduk bersandar hampir dua jam lamanya. Aku jadi merasa bersalah karena malah terbuai dan sampai ketiduran dipangkuanmu," kata Wira dengan tatapan penuh sesal.


Pagi ini mereka sedang berganti pakaian setelah menyegarkan diri sebelum kembali pulang. Semalam, sekitar pukul satu Wira terbangun dan baru menyadari terlelap di pangkuan Dara. Ia buru-buru terduduk dan menegakkan tubuhnya kemudian membetulkan posisi tidur Dara agar terbaring nyaman di ranjang.


Inginnya Wira membuka gaun pesta yang dipakai Dara dan menggantinya dengan baju tidur yang lebih nyaman. Namun, ia mengurungkan niatnya, khawatir tidur istrinya terganggu dengan pergerakan yang berlebihan, dan Wira pun yang asalnya hendak berganti pakaian malah kembali berbaring memeluk Dara karena rasa kantuk hebat yang menderanya.


Dara tertawa kecil menampakkan deretan gigi putihnya, menggenggam tangan Wira dan mengusap punggung tangannya lembut. "Rasanya tak sampai hati untuk membangunkan, melihat betapa pulasnya Mas tidur semalam. Lagipula aku senang karena suamiku merasa nyaman tidur dipangkuanku," sahutnya lembut.


Wira tersenyum penuh syukur kemudian menghadiahkan kecupan mesra di kening Dara. "Tapi lain kali bangunkan saja jika dirasa tak nyaman untukmu, apalagi kamu sedang mengandung," pinta Wira yang disambut anggukan pelan Dara.


Wira sudah merencanakan hal ini sebelumnya dan Dara baru mengetahuinya sehari sebelum pesta berlangsung. Dia membuat jadwal untuk pergi berlibur selama tiga hari setelah pesta pengumuman. Mereka belum sempat berbulan madu, jadi Wira merencanakan babymoon ini sebagai hadiah untuk istri tercinta.


Awalnya Wira ingin mengajak Dara berlibur ke luar negeri, tetapi dengan kondisi Dara yang tengah hamil membuatnya khawatir jika bepergian terlalu jauh akan menimbulkan efek tidak baik pada kondisi istri dan anaknya.


"Terima kasih hadiahnya, Papa. Mama suka sekali." Dara berjinjit mengecup rahang kokoh Wira dengan mesra. "Semua orang memberikan hadiah untukku, tapi aku sendiri bahkan belum menyiapkan hadiah apapun untukmu, Mas. Aku ini istri yang payah," keluhnya lesu.


"Hei... kamu tak perlu memberiku hadiah apapun, karena kamu dan si kecil adalah hadiah itu sendiri bagiku." Wira membelai sisi wajah Dara penuh sayang. "Tapi kalau kamu berniat memberiku hadiah, aku bisa merekomendasikan hadiah yang kusukai?" ujarnya menyeringai.


"Apa yang Mas inginkan? aku akan berusaha memenuhinya?" jawab Dara antusias.


Wira mendekatkan wajahnya ke dekat telinga Dara, "Hadiah yang kuinginkan adalah saat di mana kamu memanjakanku di atas ranjang ketika tanganku terluka. Aku merindukan momen itu lagi," bisiknya serak dengan nada sensual menggoda, membuat punggung Dara meremang diiringi semburat merah yang merebak di wajah cantiknya.


Wira menggeser bibirnya menyusuri telinga, pipi dan kemudian melabuhkannya memagut bibir Dara yang merekah. Mencecap dengan rakus kemanisan bibir ranum itu untuk melegakan dahaga yang melanda dirinya, membuat wanitanya terbuai dalam sentuhannya yang ahli.


Setelah beberapa saat barulah Wira melepaskan pertautan bibir mereka dengan napas memburu meskipun seolah tak rela, tetapi saat ini ia harus menahan diri dan berhenti. Jika tidak, mungkin dia akan menghabiskan hari ini untuk menarik Dara berkubang dalam lautan gairah dan melewatkan acara liburannya.


"Ayo kita berangkat sekarang, sebelum aku lepas kendali," desahnya parau sarat akan hasrat yang tertahan.