
"Maaashh...."
Wira tersenyum bahagia mendengar desahan yang mengalun indah itu, dan suara merdu tersebut membuatnya semakin berhasrat kepada Dara. Ia mulai melucuti dan membuang semua kain yang melekat di tubuh istrinya dan juga tubuhnya, karena hari masih terang kali ini Dara dapat melihat dengan jelas tubuh kokoh suaminya itu, wajahnya semakin merona melihat raga Wira yang terbentuk sempurna.
Wira mengangsurkan bibirnya dari mulai telinga hingga keseluruh tubuh ramping berkulit mulus itu, semua yang ada di tubuh Dara terasa begitu pas ditangannya saat ia menyentuhnya dimana-mana. Napasnya kian memburu, kehalusan kulit Dara bak sengatan listrik yang membuat hasratnya semakin membumbung tinggi.
Dara sudah tak tahan lagi, akhirnya desahannya keluar dengan bebas dari mulutnya. Ia di landa desiran-desiran hebat hingga membuat kepalanya pening merasakan sengatan yang tiada tara. Sentuhan Wira yang ahli membuat tubuhnya meminta lebih dan lebih seakan kehausan karena gairah telah membakarnya hingga sepenuhnya memanas.
Wira mulai melakukan penyatuan dua tubuh itu selembut mungkin, tetapi kini Dara tidak merasakan sakit seperti yang sebelumnya, hanya ada rasa luar biasa yang menjalar di setiap aliran darahnya.
Wira mengayuh dan memacu dayung surga dunianya penuh gairah yang berkobar dengan hebatnya, detak jantung mereka menggila. Dara yang pada awal peleburan hanya menerima, kini nalurinya menuntunnya mulai bergerak seirama mengikuti sang nahkoda.
Dara mengalungkan tangannya di leher Wira, dan disela-sela pacuan mereka secara impulsif ia memagut bibir seksi suaminya dengan napas yang terengah, menyalurkan semua rasa nikmat yang kini menjalar dan menyiksanya tanpa ampun.
Wira makin menambah kecepatannya saat dirasa tubuh istrinya semakin memeluknya dengan erat. Ketika gelombang itu datang Dara berteriak dan mengerang dipelukan tubuh kokoh itu dengan tangan meremas rambut legam milik Wira disertai tubuh yang bergetar.
Dara menetralkan napasnya yang tersengal dengan peluh bermanik di dahinya, kali ini rasa percintaan mereka terasa begitu dahsyat, sedangkan Wira masih penuh energi untuk kembali menarik istri kecilnya ke dalam pusaran gairah yang seolah tak ada habisnya. Dara tak mampu menolak, ia kembali terbawa arus yang terus menerus menghanyutkannya, terlebih lagi tubuhnya seolah menagih ingin mencicipi rasa itu kembali.
Wira kembali bergerak untuk membawa Dara berkubang dalam peleburan yang bergelora, tubuh ramping itu sungguh membuatnya lupa diri, entah sudah berapa kali ia membuat istri kecilnya itu menjerit nikmat dan bergetar dengan hebatnya begitupun dirinya.
Beberapa jam berlalu sejak mereka bergumul, hanya beristirahat sebentar kemudian mengulangi hal yang sama hingga sore menjelang, setelah menghabiskan hampir setengah hari mengulang lagi dan lagi barulah Wira mencapai ambang batasnya dan entah sudah yang keberapa kalinya ia kembali menyiramkan benihnya tumpah ruah ke dalam tubuh Dara.
Keduanya masih dalam posisi saling berpelukan dengan peluh yang bercucuran, menetralkan napas masing-masing dengan kepuasan batin yang memenuhi jiwa dan raga. Seprei yang membungkus ranjang kini telah kusut masai tak berbentuk, bahkan pakaian mereka serta bantal dan guling berserakan di lantai kamar itu.
Dara hampir memejamkan mata masih dalam lingkupan dekapan nyaman tubuh kokoh tersebut. Namun, Wira menepuk-nepuk pipinya mengajaknya untuk membersihkan diri, tidur dalam keadaan berkeringat pasti membuat tidak nyaman.
"Tapi... aku capek Mas," sahutnya masih dengan mata terpejam.
"Kamu hanya perlu diam, biar aku yang memandikan."
Dara hanya mengangguk pasrah, energinya sudah menipis bahkan untuk sekedar mengerakkan tubuhnya sendiri. Wira bangkit dan membawa Dara dalam gendongannya menuju kamar mandi, diisinya bathtub berukuran besar itu dengan air hangat.
Selama menunggu bathub terisi penuh, Dara memejamkan matanya dan menyandarkan dirinya di tubuh Wira. Pria tampan itu hanya terkekeh melihat istrinya yang kelelahan karena ulahnya, dan setelah air terisi penuh ia membawa Dara masuk ke dalamnya dan berendam bersama.
*****
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Maafkan atas keterlambatan update di karenakan kondisi kesehatan author yang sedang menurun, tetapi untuk update diusahakan setiap hari update walaupun tidak banyak.
Jangan lupa juga like, komentar, rate bintang lima, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian membuatku semakin semangat menulis, ayo vote sebanyak-banyaknya ya readers.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
Happy reading guys, thank you very much 😘😘💕💕.
With Love,
Senjahari_ID24