You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 295



Halo my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa budayakan tinggalkan jejak kalian setelah membaca berupa like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis.


Jangan lupa Ikuti juga give away hingga cerita ini end dengan vote sebanyak-banyaknya. Lima vote teratas akan mendapatkan kenang-kenangan tumbler dari author.


Follow juga Instagramku @senjahari2412 untuk mengetahui informasi seputar cerita-cerita yang kutulis.


Selamat membaca....


*****


“Kamu harus kuat, Ibu sudah pergi.”


Dara sedikit mendorong tubuh Wira dan matanya menatap masih tak percaya. “I-ini nggak mungkin Mas. co-coba periksa lagi, mungkin saja Mas salah mendiagnosa. Lihat baik-baik, ibu hanya tertidur, bahkan tidurnya tersenyum iya kan? ayo, tolong periksa lagi, kumohon.”


Tangannya gemetaran begitu juga bibirnya. Dara menarik-narik kemeja suaminya meminta untuk memeriksa kembali. Dia masih menyangkal, karena ibunya terlihat begitu damai dengan senyuman seakan tengah tertidur lelap.


Wira menangkup kedua sisi wajah Dara dan menatapnya lembut. “Sayang, ibu sudah tak kesakitan lagi sekarang, makanya beliau tersenyum. Kamu harus ikhlas, setiap makhluk yang bernyawa pasti akan tiada ketika waktunya tiba, dan di setiap pertemuan pasti akan ada perpisahan. Ibu sudah pergi ke tempat yang lebih baik, tanpa harus didera rasa sakit lagi.”


Dara tercenung sejenak, pandangannya kembali beralih ke arah tempat tidur. Diperhatikannya beberapa saat, semalam dada ibunya masih kembang kempis tapi sekarang tidak lagi. Akhirnya tangis Dara pecah dipelukan Wira, ia mencengkeram punggung suaminya dengan isakan pilu didera kesedihan juga kehilangan.


*****


Aruna dimakamkan satu area dengan almarhum Ayah Dara, di kota di mana bibinya tinggal, kira-kira dua jam tempuh dari Jakarta. Berdasarkan keterangan bibinya, beberapa waktu yang lalu Aruna sempat membicarakan perihal ini. Meskipun tak bisa bersebelahan, setidaknya dia masih dimakamkan di area yang sama, begitulah keinginannya.


Pemakaman berlangsung khidmat, semua memanjatkan do’a terbaik setulus hati. Keluarga besar Aryasatya, sahabat Dara beserta beberapa teman Wira juga para dokter yang merawat Aruna dari rumah sakit ikut menghadiri, sedangkan dari pihak mantan suaminya tak ada satupun yang muncul, padahal si pelayan yang merawat Aruna sudah mengabarkan meninggalnya sang nyonya kepada tuannya.


Untuk pertama kalinya Dara mengetahui di mana letak pusara ayahnya. Dia juga bersimpuh di sana setelah pemakaman ibunya selesai, memanjatkan do’a terbaik dan mengusap Nisan yang sudah tua itu. Akhirnya kini dia mengetahui dari mana asal usulnya, darimana dirinya berasal, kedua orang tuanya ada di sini, meskipun kini Dara tak bisa lagi nyata memeluk mereka, tetapi untaian do’a akan selalu tercurah untuk memeluk kedua orang tuanya.


Aruna menulis surat wasiat yang dititipkan kepada bibinya. Meminta agar rumah kecil yang ditempatinya dijual saja jika dia meninggal dan menginginkan semua uangnya didonasikan ke panti asuhan yang merawat Dara dulu, sebagai ungkapan terima kasih karena telah merawat anak yang dibuangnya. Ia juga menitipkan sejumlah uang untuk pelayan setianya, berharap uang itu bisa dijadikan modal usaha jika kembali ke kampung halaman saat dirinya sudah tak ada di dunia ini lagi.


Semua orang satu persatu mulai meninggalkan area pemakaman, kemudian diusul Ratih dan Haris beranjak dari sana. Bu Rina juga segera menuju mobil dengan Selena yang tertidur di pangkuannya, sementara Dara kembali bersimpuh di dekat tanah merah merah bertabur bunga setelah mengunjungi makam ayah kandungnya.


Wira menyentuh pundak Dara dan meremasnya lembut. “Ayo, kita pulang,” ajaknya lembut. “Do’akan Ibu tenang di sana.”


Dara menyentuh tanah merah dan bunga-bungaan yang bertaburan. Kemudian seulas senyum menghiasi wajah sembapnya. “Selamat jalan, ibu. Walaupun pertemuan kita singkat, tapi aku sangat bahagia.”