You Are My Sunshine

You Are My Sunshine
Part 287



Satu jam Wira menunggu di luar bersama Bibinya Dara hingga akhirnya istrinya keluar dari kamar perawatan karena waktu besuk sudah habis. Wanita cantik yang kini berwajah sembap itu langsung memeluk sang suami ketika keluar dari sana, meneggelamkan diri di dekapan hangat prianya, menghirup aroma menenangkan dari tubuh kokoh yang selalu membuatnya merasa aman.


“Bi, aku akan kembali lagi besok atau lusa. Titip ibuku, jika ada sesuatu hubungi aku.” Dara memberikan nomor ponselnya kepada bibinya.


“Jangan khawatir. Pasti Bibi akan mengabari jika ada hal mendesak. Terima kasih atas kemurahan hatimu telah sudi menemui ibumu,” ucap bibinya penuh syukur.


“Semuanya berkat Mas Wira yang selalu mengingatkanku tentang apa yang sebaiknya kulakukan, hingga aku memutuskan menemui ibu yang telah membuangku, kendati rasa marah juga luka karena pernah tak diinginkan masih basah di permukaan, tetapi aku juga merindukannya di saat bersamaan dan tak ingin rasa sesal menghantuiku di kemudian hari.”


“Suamimu luar biasa. Begitu pun juga dirimu, Nak. Semoga kebahagian dan keberkahan selalu melimpahi kalian sekeluarga,” ucap bibinya tulus.


*****


Di ruang kerja, Wira masih fokus dengan laptop dan setumpuk kertas di atas meja, saat ini jam menujukkan pukul sepuluh malam. Dara masuk ke ruang kerja setelah memastikan Selena tertidur pulas, berdiri di belakang Wira, mendaratkan kedua tangannya di pundak sang suami dan mulai memijatnya.


Wira langsung menegakkan tubuhnya dan mendesah pelan ketika jemari sang istri memijat pundaknya yang jujur saja memang terasa kaku dan pegal, memejamkan matanya menikmati dan tersenyum senang.


“Mmhh… pijatanmu enak," ujarnya serak.


“Masih belum selesai? sebaiknya dilanjutkan besok saja, Mas harus beristirahat,” ucap Dara dengan tangan yang terus bergerak di pundak Wira.


“Aku tak bisa memejamkan mata kalau Mas tak memelukku,” ujar Dara manja menggoda. “Dan juga, jika Mas punya waktu luang, ada hal yang ingin kubicarakan," sambungnya.


Diraihnya tangan Dara yang sedang memijatnya, memutar kursi yang didudukinya sehingga kini mereka berhadapan satu sama lain. “Untuk istriku aku selalu punya waktu, ada apa hmm?” Wira menghela Dara agar duduk dipangkuannya kemudian memeluknya posesif.


“Kurasa sekarang bukan waktu yang tepat. aku tak ingin menganggu pekerjaaanmu, Mas.”


“Pekerjaanku memang penting, tapi istriku lebih penting. Katakan saja,” pinta Wira penuh perhatian.


“Ini… tentang ibuku. Apakah masih ada kemungkinan untuk dia kembali sembuh? sebagai seorang dokter, Mas pasti lebih paham tentang hal ini dibanding aku.” Tak dipungkiri setelah bertatap muka secara langsung, Dara menginginkan ibunya bisa bersamanya lebih lama lagi.


Pria tampan bermata memukau itu menarik napasnya dalam, mengembuskannya perlahan, lalu kembali menatap Dara. “Aku tak ingin memberi harapan palsu. Stadium akhir kanker sangat sulit disembuhkan dikarenakan sel-sel kankernya sudah menjalar ke seluruh tubuh. Tapi bukan berarti kita hanya berpangku tangan, akan kuusahakan semua pengobatan terbaik yang pernah ada, dan jangan lupa berdo’a memohon yang terbaik karena usaha dan do’a harus selalu berjalan beriringan.”


“Terima kasih, Mas. Untuk semuanya.” Matanya berkaca-kaca, Dara berucap penuh haru serta rasa syukur memiliki suami yang selalu mencurahkan yang terbaik untuknya.


“Sudah kewajibanku. Sebagai suami aku harus berusaha untuk bisa membimbing dan mengingatkan saat istriku keliru, melindungi dan menguatkan ketika istriku lemah, dan juga membantu di kala istriku kesusahan,” jawab Wira berbalut nada sayang yang kental menyeruak.


“Aku mencintaimu suamiku, sangat," desah Dara parau. Kedua tangannya menangkup sisi wajah Wira lalu melabuhkan kecupan sayangnya di kening suaminya itu yang dibalas Wira dengan pelukan erat menentramkan kalbu.