
Cindy melambaikan tangan, “Tidak masalah, hari ini aku memang datang untuk berbincang denganmu. Kita langsung ke topik utama saja.”
Aku dan Cindy duduk berhadapan. Dari sikapnya yang dingin, kutebak pembahasan hari ini tidak akan berjalan lancar. Secara refleks, aku melirik ke lantai dua, untungnya Vivi tidak keluar, kalau tidak, aku pasti akan merasa sangat canggung.
Aku menuangkan teh hangat untuk Cindy. Cindy langsung berkata, “Aku sudah dengar tentang latar belakangmu dari Jerry, aku dan Jerry merasa sakit hati untukmu.”
Aku tersenyum, kutebak ucapan selanjutnya pasti bukan kabar baik.
“Tetapi terkait mas kawin pernikahan kedua keluarga, aku tidak begitu mengerti. Kamu juga bukannya kembali ke keluarga asal, apa ayah dan ibumu benar-benar tidak memberimu mahar? Atau kamu akan dikembalikan karena mereka telah menemukan putri kandung mereka?”
Aku segera melambaikan tangan, “Bukan, aku tetap sekeluarga dengan Ayah dan Ibu.”
“Aku tahu kalian tetap sekeluarga. Keluarga Tanoko juga termasuk kaya. Jika bukan karena kamu punya latar belakang keluarga dan pendidikan yang bagus, aku juga tidak akan menyetujui pernikahanmu dengan Jerry.”
Cindy menyeruput teh dan melanjutkan, “Apa tanggapan ayah dan ibumu terkait mas kawin kamu?” Cindy tersenyum, “Tentu saja, aku bukan bermaksud mengambil keuntungan darimu. Waktu itu sudah sepakat, satu rumah dan mas kawin empat miliar dari kami, lalu satu mobil dan mahar empat miliar dari kalian. Aku meminta seperti itu karena kedua keluarga kita tidak kekurangan uang, juga lebih bergengsi. Sekarang keluargamu tidak bisa mengeluarkan uang sebanyak itu, ini membuatku merasa sedikit malu.”
Ketidakpuasan Cindy masuk akal. Aku duduk di depannya dengan merasa malu dan kehilangan harga diri.
“Tante Cindy, sebenarnya pengurangan mahar dan mas kawin hanya pendapatku pribadi, aku belum membahasnya dengan Ayah dan Ibu.”
Cindy terkejut, “Apa ayah dan ibumu sudah sepenuhnya tidak mengurusimu lagi?”
Aku segera menggelengkan kepala. Tetapi saat ini, Vivi tiba-tiba berjalan masuk dari pintu rumah yang belum sempat ditutup dari tadi dengan pakaian olahraga merah muda.
Rambut Vivi diikat satu ikal, wajahnya cerah bersemangat, tampaknya baru selesai lari pagi. Saat melihat aku dan Cindy, dia membungkuk amat sopan, “Tante!”
Vivi tersenyum manis, “Terima kasih, Tante, Kak Jerry memang pandai puji orang.”
Cindy menoleh padaku dan melanjutkan topik tadi, “Lalu apa kata ayah dan ibumu? Bagaimana pengaturan mereka tentang mahar?”
Vivi berjalan kemari dari depan pintu setelah mendengar percakapan kami, dia menyeka keringat dengan kain di bahu sambil berkata, “Bukankah ayah dan ibu Kak Wenny ada di garasi halaman belakang? Apa yang ingin kalian bicarakan?”
“…”
Aku tidak menyangka Vivi akan menjebakku di sini. Ucapannya ini langsung mematahkan percakapanku dengan Cindy, serta kemungkinan aku menikah dengan Jerry.
Aku mati rasa ketika Cindy menoleh padaku dengan ekspresi curiga, tangan dan kakiku mendingin, bahkan sudah tidak dapat merasakan suhu badanku. Aku panik dan takut, takut Cindy akan pergi keluar untuk menemui “orang tua kandungku”.
Benar saja. Cindy bangkit berdiri dengan ekspresi hendak mengakhiri semua ini, dia berkata, “Karena orang tua kandungmu ada di sini, maka aku seharusnya pergi temui mereka.”
Aku tidak kuat untuk berdiri, kakiku terasa amat berat. Aku pikir, hasilnya sudah ditetapkan entah bertemu atau tidak saat ini. Tidak ada lagi kemungkinan di antara aku dan Jerry. Hari ini Cindy datang sendirian menemuiku hanya untuk menghentikan pernikahanku dengan Jerry. Tetapi Jerry juga membuatku kecewa. Dia hilang jejak dan putus kontak, tunduk akan pengaturan ibunya, harapanku padanya berangsur-angsur padam.
Saat ini, Vivi menghampiriku dan merangkul lenganku, lalu berkata dengan ekspresi lugu dan antusias, “Kak Wenny, kamu kenapa? Tante Cindy bilang ingin ketemu Ayah dan Ibu…”
Aku berdiri dengan bengong, lalu terdengar teriakan histeris di luar, “Ah! Tolong! Herman tidak bernapas lagi! Tolong!”
Di luar pintu, Yanti berteriak sambil berlari kemari, masih memakai kaos kaki putih yang aku berikan tadi malam. Matanya merah bengkak, wajahnya juga masam, “Herman mati, Herman sudah mati…”
**Senang sekali kamu suka karyaku. Jika mau lanjut dulu\, silakan baca karyaku di Fiz*zo ( Waktu cari\, jangan tambah "*") Udh ada lebih 70 bab dan semuanya gratis ya.