
Author note.
Hai my beloved readers, terima kasih banyak atas apresiasi dan dukungan kalian untuk ceritaku ini. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian setelah membaca ya. Kutunggu like, komentar, serta vote seikhlasnya. Dukungan kalian selama ini melalui like, vote poin serta koinnya dan juga komentar positif membuatku semakin semangat menulis๐.
Follow juga akun Instagramku @Senjahari2412 untuk mendapatkan kabar seputar novel yang kutulis.
Terima kasih, selamat membaca ๐
With Love,
Senjahari_ID24
*****
Ratih dan Haris memasuki ruang makan. Wanita paruh baya yang selalu tampil glamor dan elegan itu mempercepat langkahnya begitu melihat putranya sudah berada di sana tengah menyesap kopi yang masih mengepul.
"Wira, kapan datang? sudah lama sekali kamu tidak sarapan bersama di sini," sambut Ratih hangat yang langsung menarik kursi di sebelah anaknya.
"Pagi Yah, Bu. Aku baru saja sampai. Ada hal penting yang ingin kusampaikan. Maka dari itu aku sengaja datang pagi-pagi kemari." Wira tersenyum tipis, kemudian menaruh cangkir dari tangannya dan mengambil amplop besar yang dibawanya tadi.
"Apakah ada hal yang sangat mendesak Nak?" Haris tampak khawatir.
"Yah, coba periksa ini." Wira membuka amplop tersebut. Mengambil dan menyodorkan dua butir obat peluruh yang ditaruhnya dalam plastik kecil, sementara sisanya sudah ia berikan sebagai barang bukti kepada polisi.
Haris mengambil dan memeriksa obat tersebut. Sebagai pemilik perusahaan Farmasi tentu saja beliau sangat paham mengenai obat-obatan.
Begitu juga Ratih, meskipun kini sudah tidak ikut mengurus masalah perusahaan, tetapi dia juga pernah berkecimpung di perusahaan dan pernah mencicipi bangku kuliah di bidang farmasi.
Haris mengerutkan keningnya dalam, menaruh kembali obat tersebut ke meja yang disambar oleh Ratih karena sejak tadi penasaran ingin ikut memeriksanya.
Setelah memeriksa dan mengamati, Ratih juga bereaksi sama seperti suaminya. "Untuk apa kamu membawa obat semacam ini kemari? atau jangan-jangan...."
Kalimatnya mengambang di udara, lalu sesaat kemudian mata Ratih membeliak dengan emosi yang mulai merayap.
"Jangan-jangan gadis ingusan itu hendak menggugurkan kandungannya? dia ingin membunuh cucuku? makanya Ibu tidak setuju kamu berumah tangga dengan gadis rendahan seperti dia!" tuduhnya pada Dara sembari berteriak.
"Bukan Dara Bu. Ada seseorang yang sengaja mengganti obatnya untuk mencelakakan Dara dan juga anakku. Seseorang yang sangat Ibu banggakan justru ingin membunuh keturunan keluarga ini!" tegas Wira.
Dokter tampan itu masih berusaha menahan kemarahannya dan menjaga nada bicaranya agar tidak meninggi ketika ibunya kembali memaki wanita yang dicintainya. Karena bagaimanapun juga Wira masih menaruh rasa hormat kepada Ratih sebagai ibunya, wanita yang telah melahirkannya.
"Apa maksudmu? si-siapa yang ingin berbuat seperti itu pada cucu keluarga Aryasatya!" Ratih mulai terbakar amarah, tentu saja dia tak rela jika cucu yang sudah dinanti-nantikannya sejak lama kini ada yang ingin mencelakai.
"Ibu lihat rekaman CCTV ini dengan baik untuk mengetahui siapa pelakunya."
Wira mengeluarkan ponselnya dan memutar sebuah video. Haris menarik kursinya mendekat karena ingin ikut menyaksikan apa yang terjadi di dalam video tersebut. Wira juga memperbesar resolusinya agar lebih jelas siapa yang ada di dalamnya dan perbuatan apa yang sedang dilakukannya.
"Ke- kenapa Michelia... i.-ini pasti salah. Kamu jangan mengada-ada dan menuduh wanita anggun yang berpendidikan tinggi seperti dia. Tidak mungkin Michelia berbuat seperti itu! I-ini rekaman ini pasti palsu. Coba kamu periksa lagi baik-baik Wira!"
Ratih masih menyangkal tentang apa yang dilihatnya barusan, sementara Haris tampak termenung berusaha mencerna hal tak terduga yang baru saja ditunjukkan Wira.
"Semua itu benar Bu. Untuk apa aku mengada-ada, dan juga karena ini sudah menyangkut urusan nyawa jadi aku takkan membiarkannya begitu saja. Terserah Ibu mau percaya padaku atau tidak, yang pasti semua rekaman ini dan juga barang buktinya adalah asli."
Wira menjeda kalimatnya, tangannya menggeser amplop besar berwarna coklat yang tergeletak di atas meja ke hadapan Ratih.
"Ini adalah bukti-bukti lain tentang siapa sebenarnya Michelia. Setelah melihatnya aku harap Ibu bisa membuka mata dan tidak dibodohi lagi oleh wanita busuk itu."