
“Aku bahagia mendengarnya, aku menyangimu dan akan terus menyayangimu, untuk di kehidupan ini dan di kehidupan selanjutnya.” Kata pangerang Zang Limo sambil terus menatap cermin, yang memantulkan cahaya dirinya dan Gu Ana.
Gu Ana entah kenapa hatinya menghangat mendengarkan pernyataan dari pangeran Zang Limo, kemudian berbalik memandang pangeran Zang Limo dan membalas pelukan pangeran Zang Limo.
“Hm… aku harap juga begitu.” Kata Gu Ana di sela sela pelukannya.
Gu Ana kemudian melepaskan pelukannya dan mengalungkan tangannya di leher pangeran Zang Limo, lalu menjinjitkan kakinya agar sejajar dengan pangeran Zang Limo, kemudian menyatukan bibirnya dan bibir pangeran Zang Limo dengan mata yang terpejam. Pangeran Zang Limo menundukkan kepalanya agar memudahkan Gu Ana yang jauh lebih pendek darinya.
Beberapa menit kemudian mereka melepaskan sama lain sambil bersiap siap untuk latihan bersama. Setelah mereka keluar mereka segera melangkah menuju lapangan kosong yang biasa di gunakan Gu Ana untuk latihan. Sesampainya di lapangan pangeran Zang Limo melihat sekira lapangan tersebut, tempat yang tak begitu luas namun pas untuk latihan bersama.
“Limo apa kau sudah siap?” tanya Gu Ana dengan santainya sambil memegang tongkat kayu yang Ia miliki. “Untuk sementara kita menggunakan tongkat kayu dahulu, karana kita tak terbiasa untuk latihan bersama.” Kata Gu Ana sambil melemparkan tongkat kayu kepada pangeran Zang Limo.
“Hm…” hanya itu kata yang lolos dari bibir pangeran Zang Limo yang kini mengulum senyum saat menerima lemparan tongkat dari pangeran Zang Limo.
Setelah saling memberi hormat, pangeran Zang Limo dan Gu Ana saling menyerang satu sama lain. Pangeran Zang Limo mulai menyerang Gu Ana dan dengan mudah di tangkis oleh Gu Ana, kemudian kembali di balas oleh Gu Ana. Mereka mulai menyerang dengan kecepatan sedang dan bertahan selama beberapa saat, untuk membaca pergerakan lawan mereka.
“Limo, mari kita bertaruh.” Kata Gu Ana di sela sela pertarungan mereka.
Mendengar hal tersebut pangeran Zang Limo menyeringai, pangeran Zang Limo bertekat untuk memenangkan pertandingan tersebut.
Mereka tak ada yang saling mengalah, hingga serangan mereka semakin di percepat, sementara di pinggir lapangan para pengawal dan penjaga sudah berkumpul untuk menyaksikan mereka, bahkan beberapa dayang menghentikan aktivitas mereka. Sementara Gu Min yang akan berangkat ke Mall di buat terkejut dengan keributan sarta kerumunan yang terjad.
Gu Min menghampiri mereka dan memperhatikan mereka, Gu Min dapat melihat dengan jelas kalau dari segi kekuatan mereka seimbang, namun dari segi strategi pangeran Zang Limo masi jauh di bawah Gu Ana. Gu Min faham betul kenapa bisa sampai terjadi, hal itu disebabkan karna Gu Ana yang jiwanya sebenarnya Arian adalah seorang Capten Senior di dunianya, sehingga setiap pergerakan akan selalu diperhitungkan.
Pangeran Zang Limo terlihat lebih agresif dari pada Gu Ana, sehingga dari segi gerakan pangeran Zang Limo terlihat lebih banyak bergerak dari pada Gu Ana. Sementara dari segi gerakan pangeran Zang Limo akan lebih banyak mengeluarkan tenaga.
Gu Ana sangat memahami bahwa tenaga pangeran Zang Limo jauh di atasnya, sedangkan dari segi strategi pangeran Zang Limo berada di bawahnya. Sehingga Gu Ana mengurangi pergerakannya, membiarkan pangeran Zang Limo menyerang terlebih dahulu, hingga sedikit demi sedikit tenaganya akan semakin berkuras, di tandai dengan banyaknya bulir keringat dari pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo terlambat mengetahui hal itu, sehingga tenaga pangeran Zang Limo kini terkuras banyak, semantara Gu Ana sendiri terlihat masih segar saja, bahkan tenaganya sangat sedikit berkurang. Pangeran Zang Limo segera mengurangi tempo gerakannya hingga penyerangan kini tak lagi di lakukan dengan agresif. Mereka kini bertarung menggunakan strategi, untuk dapat memenangkan pertandingan.
“Ah iya, sungguh aku memiliki gadis yang imut…” kata kata pangeran Zang Limo terputus dengan pemisahan diri mereka. “Dan dalam waktu yang bersamaan sangat cerdik.” Puji pangeran Zang Limo saat pedang kayu meraka kembali saling menyatu.
Mereka kembali saling menyerang dengan tempo sedang, yang akhirnya kembali dengan sangat cepat. Sementara Gu Min memperhatikan mereka mulai tersenyum, melihat hal tersebut sontak membuat Gu Min tersenyum.
“Sepertinya mereka akan imbang.” Kata Gu Min.
Seketika semua penjaga dan dayang langsung memandang Gu Min, bagaimana Gu Min tahu, sementara mereka akan melakukan pertandingan lebih lama lagi? “Segera siapkan air minum untuk mereka karna sepertinya pertarungan mereka akan memakan waktu yang lebih lama lagi, dan melelahkan.” Kata Gu Min kepada para dayang. “Ah dan satu lagi, segera siapkan mereka air untuk membersihkan diri mereka berdua.” Lanjut pangeran Zang Limo, sambil meninggalkan mereka.
Sudah beberapa lama Gu Ana dan pangeran Zang Limo masih saling menyerang hingga akhirnya pangeran Zang Limo dan Gu Ana mulai kelalahan, beberapa bagian tubuh mereka sedikit lecet akibat pertarungan tersebut.
Kini merek terlihat sama sama kelelahan, dan akhirnya menghentikan pertarungan ketika Gu Ana mulai terduduk karna kehabisan tenaga, sementara pangeran Zang Limo yang baru saja menurunkan senjatanya ketika melihat Gu Ana terduduk.
Beberapa dayang kini memasuki area pertarungan tersebut dan memberikan air untuk Gu Ana dan pangeran Zang Limo, pangeran Zang Limo segera meneguk air yang di berikan para dayang, dan menyiramnya ke area wajahnya, agar kembali segar. Sementara Gu Ana melakukan sama halnya yang di lakukan pangeran Zang Limo.
Diam diam Gu Ana mengakui keunggulan pangeran Zang Limo, sungguh tenaga yang cukup besar, namun ceroboh dalam membuat sebuah strategi. Gu Ana tersenyum kecut, sambil membaringkan badannya di tengah lapangan, karna kelelahan. Sementara pangeran Zang Limo segera mendekati Gu Ana yang kini tengah berbaring di tengah lapangan sambil menutup matanya.
Pangeran Zang Limo kemudian melihat sekujur tubuh Gu Ana, yang kini terlihat biru di beberapa tempat, dan di sekitar bibirnya terdapat sebuah luka kecil membuat pangeran Zang Limo segera menggendong Gu Ana menuju pafiliumnya. Sementara Gu Ana yang tiba tiba di gendong terkejut bukan main, Ia segera meronta ronta meminta untuk di turunkan.
“An’er diam lah, di tubuhmu itu banyak luka nanti akan sakit.” Kata pangeran Zang Lomo sambil menggendong Gu Ana.
Sementara para dayang dibuat kaget oleh perlakuan pangeran Zang Limo kepada Gu Ana. Mereka semua bingung harus bagaiman.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.
Mohon maaf author cuman bisa up sedikit karena author tengah sibuk saat ini, dikarenakan harus berkutat dan bergelut dengan para tugas yang dengan tidak tahu dirinya semakin bertambah, terimakasih semoga kalian mengerti.