
"Mas masih lama ya? Lapar tau." kata Ariana dengan nada manja. Membuat Arkan terkekeh mendengar nada manja dari Ariana.
"Sabar sayang sebentar lagi ya..." kata Arkan tersenyum, melihat tingkah Ariana, yang sangat menggemaskan saat ini. Ariana hanya mengembangkan pipinya, sembari mendongakkan kepalanya, melihat wajah Arkan yang terkekeh.
...
Setelah sekian lama menunggu akhirnya, pesanan makanan mereka datang, membuat Ariana bersorak kegirangan. Arkan duduk di samping Ariana, sembari membawa pesanan Ariana. Ariana segera menyambut makanan yang mereka pesan, kemudian membukannya.
Ariana tampak lahap memakan makanan yang Ia pesan. Arkan terkekeh sembari menyuapkan kepada dirinya sendiri.
"Sayang jangan buru buru, nanti kamu kesedek loh." kata Arkan, sembari mendekatkan air ke arah Ariana, karna khawatir Ariana akan tersedak. Sebelah selesai makan, Ariana segera mengusap perutnya. "Sayang habis ini kita jadi foto?" tanya Arkan memandang Ariana yang tengah menyenderkan tubuhnya di senderan sofa.
"Terserah Mas... soalnya kalau kampung tengah aman, aku juga tenang." kata Ariana, sembari tersenyum ke arah Arkan. Arkan mengangkat sebelah alisnya, sedikit terlihat bingung, dengan maksud kata kata dari Ariana. "Jangan gitu Mas sayang, entar tambah tua." kata Ariana sembari terkekeh melihat wajah Arkan, yang sedikit mengerut, karna tampak berfikir.
"Kampung tengah itu apa sayang?" tanya Arkan masih memikirkan tentang kata kata kampung tengah. Sontak membuat Ariana terkekeh, ternyata kata kata kampung tengah lah, yang membuat Arkan mengerutkan sedikit wajahnya. "Sayang..." kata Arkan geram sambil membaringkan kepalanya di paha Ariana.
"Kampung tengah itu, perut Mas sayang." kata Ariana, sembari terkekeh, dan mencubit gemas pipi Arkan.
"Sayang... kamu mau janji ga sama Mas?" tanya Arkan, sedikit ragu ragu.
"Janji apa Mas?" tanya Ariana dengan bingung.
"Janji ga bakalan ninggalin Mas." kata Arkan meraih wajah Ariana, dengan posisi masih berbaring di, paha Ariana.
"Ga..." kata Ariana santai, sembari memperhatikan raut wajah Arkan tiba tiba berubah.
"Sayang..." kata Arkan sembari bangun dari posisinya, sembari memperhatikan wajah Arkan dengan seksama.
"Ya Mas..." jawab Ariana santai.
"Jadi kamu bakalan ninggalin Mas?" tanya Arkan serius memandangi, Ariana dengan tatapan tajamnya.
"Ya iya lah mas." kata Ariana dengan santainya, sembari membalas tatapan Arkan dengan tatapan polos.
"Ana..." kesal Arkan, sekarang Arkan benar benar marah, karna Ariana menjawab apa yang di takutkan Arkan.
Arkan yang kesal kini berdiri di samping toilet, sembari menunggu Ariana keluar dari toilet. Setelah selesai Ariana keluar, dengan santainya. Sementara Arkan hendak memeluk Ariana dari belakang, mendadak di serang Ariana secara tiba tiba, hingga Arkan dengan refleks memangkis tangan Ariana, dan mengunci Ariana, dengan cara memelintir tangan Ariana ke belakang.
"Kamu fikir, kamu saja yang bisa bela diri?" tanya Arkan dengan santainya, kemudian memeluk Ariana dari belakang. "Mas cuman ga terlatih aja di lapangan." kata Arkan menyeringai ke arah Ariana, kemudian mencium telinga Ariana, turun ke tengkuk Ariana.
"Mas geli mas." keluh Ariana, sembari menggeliatkan badannya, karna merasa geli. "Mas kita harus foto." kata Ariana kembali.
"Janji kamu ga bakal ninggalin Mas?" tanya Arkan kembali, sembari memeluk erat pinggang Ariana, dan menciumi pipi Ariana.
"Iya... lagian pertanyaan mas ada ada aja." kata Ariana mencoba melepaskan pelukan mereka.
"Mau lepas? Cium dulu." kata Arkan sembari tersenyum puas. Cup... Ariana mengecup bibir Arkan singkan, dengan wajah yang memerah. Ariana melangkah menuju sofa, kemudian mengambil tasnya.
"Mas Ayo... jadi ga? Kalau ga Ana ke kelas ni." kata Ariana membuat Arkan tersenyum, dan segera menyambar posel dan tas laptopnya.
Hari ini adalah hari pernikahan Ariana dan Arkan, Arkan sedikit tegang, saat hendak turun dari mobil. Farid yang melihat ketegangan anaknya, segera menggenggam tangan Arkan, guna menghilangkan rasa gugup Arkan.
"Pah gimana nih?" tanya Arkan sembari memegang dadanya, yang sejak tadi berdetak tidak karuan. "Aduh..." keluh Arkan, sembari terus mengusap keningnya yang berkeringat.
"Sabar Ka, jangan gugup." kata Farid tersenyum ke arah Arkan. Kemudian mereka turun dari mobil, dan melihat anggota keluarga Ariana yang sudah menunggunya, sejak tadi.
"Kenapa lama? Ngapal Peta rumah, atau ngapal doa." goda Erick, menimbulkan tawa yang membahana, sehingga membuat Arkan memerah karna malu.
Arkan dan rombongan segera duduk di kursi masing masing. Sementara Arkan kini dengan sangat gugup, menjabat tangan Erick, untuk melakukan ijab qabul.
Sementara Ariana yang berada di kamar, sama tegangnya dengan Arkan. Di temani pacar sahabatnya, karna Ariana tidak memiliki teman. Ariana tersenyum kikuk ketika di hibur oleh yang lainnya, sesekali di goda, hingga membuatnya memerah.
...
Sorry Guys ☹️😥 entah kenapa review nya se abad, jadi Author ga bisa up banyak banyak. Mungkin terjadi kesalahan di pusatnya, mohon pengertiannya teman teman.
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.