It'S Me

It'S Me
Episode 152



Arkan terus mengembangkan senyumnya, dan melihat ke arah lukisan tersebut. Arkan kemudian membuka ponselnya, dan segera melihat gambar wanita yang tengah serius dengan aktifitas yang di lakukan nya.


...


"Dasar anak kecil." kekeh Arkan karna teringat segala kelakuan absrud dari Ariana.


Tok.


Tok.


Tok.


"Makan tuan." kata seorang asisten rumah tangga di kediaman Candana.


Arkan segera bangun dan menyimpan telfon genggamnya di naklas samping tempat tidur. Kemudian keluar dari kamarnya dan turun ke tangga. Arkan dapat melihat Farid tengah berbincang sesekali tertawa dengan Ariana, Mereka tampak begitu akrab.


"Kalian lagi ngomongin apa?" tanya Arkan ketika sudah sampai di meja makan dan mendudukkan diri di samping Ariana. "Ana tolong ambilkan nasi, dan lauk saya." bisik Arkan ke telinga Ariana, yang baru saja mengambilkan Farid makan.


Ariana hanya mengangguk dan mengambilkan makanan untuk Arkan, beberapa lauk pauk untuk Arkan. Membuat Farid tersenyum ke arah Ariana dan Arkan.


Mereka makan dengan senyap, hanya ada suara dentingan piring dan sendok yang beradu. Setelah makan mereka segera berbincang bincang di ruang keluarga.


"Kek temen Ana mau datang main ke sini, boleh ya." pinta Ariana saat mereka tengah bersantai di ruang keluarga.


"Boleh biar kakek bisa kenal sama teman teman kamu." kata kakek tersenyum.


"Ana besok kamu ngampus, besoknya aja lagi." nasihat Arkan, karna Rayen berpesan kepada Arkan bahwa Ariana itu susah di bangun kan.


Mendengar kata kata Arkan, Ariana mengangguk mengerti. Karna memang benar Ariana butuh istirahat untuk besok pagi.


"Lupa Om..." kata Ariana cengengesan, "Ana pergi tidur dulu ya kek." kata Ariana sambil beranjak menuju ke lantai dua.


"Arkan juka Pa, mau istirahat." kata Arkan segera menuju ke kamarnya.


Sendangkan Farid memilih untuk kembali ke kanarnya. Kamar Arkan dan Ariana berada di lantai dua, sedangkan Kamar Farhan berada di lantai satu.


Ke esokan hari nya Arkan setelah menyelesaikan Sholat Subuhnya segera menuju ke kamar Ariana, Arkan yakin Ariana belum bangun. Benar saja Ariana masih asyik dengan tidur nya, Ariana masih mengurung diri dengan Selimut.


Arkan melangkahkan kakinya masuk ke kamar Ariana. Dengan segera Arkan menyingkap selimut Ariana.


"Ana sudah subuh, ayo bangun." kata Arkan membangunkan Ariana, yang saat ini masih tidak merspon ketika selimut tersingkap.


Merasa ada gangguan di bagian paha, Ariana segera mengerjapkan matanya, dan mengumpulkan seluruh kesadarannya.


Ariana terkejut dengan keberadaan Arkan yang tengah memeluknya, baru saja Ariana ingin berteriak, Arkan sudah membekap mulut Ariana dengan tangannya.


"Kalau kamu berteriak saya pastikan, orang orang akan salah faham dan..." kata Arkana tersenyum ke arah Ariana, sembari menaiki tubuh Ariana. "Dan saya pastikan kita tidak akan kekampus, melainkan ke penghulu." kata Arkan yang kini telah sempurna menindih Ariana.


Ariana hanya mengerjap tak percaya, dengan apa yang baru saja Ia dengar. Penghulu bukanlah sesuatu hal yang tepat untuknya, Ali incarannya belum sempat ia jadikan mantan.


Cup.


Arkan mengecup bibir Ariana cukup lama, kemudian berdiri meninggalkan Ariana. Takutnya akan terjadi sesuatu yang tak ingin di bangunkan untuk saat ini.


"Bangun sebelum saya menjadikanmu seorang ibu muda." kata Arkan menutup pintu Ariana, melesat keluar dari kamar Ariana.


"Mesum." teriak Ariana tak terima dengan tindakan Arkan.


Hari ini adalah hari pertama Ariana masuk kuliah, Ariana memang tidak menjalani ospek, karna alasan kesehatan. Ariana hari memakai baju kaus biru tua lengan panjang di padukan dengan celana joger levis.


"Ana ayo berangkat." ajak Arkan ketika mereka telah menyelesaikan sarapannya.


Ariana hanya pasrah mengikuti Arkan, Ia harus terbiasa dengan wajah Arkana yang akan menghiasi hari harinya. Mulai dari rumah, kampus, dan kantor, mulai dari hari senin sampai senin lagi. Wajah Arkan akan mendominasi matanya setiap hari.


Tidak ada salahnya, karna Arkan sangat mirip dengan wajah pangeran Bao Ling, membuat kerinduan Ariana sedikit berkurang kepada, pangeran Bao Ling.


Ariana menghela nafas saat memasuki mobil Arkan, dan Arkan segera melajukan mobilnya. Ariana terdiam selama perjalanan, membuat Arkan mengernyit.


"Ingat di sana jangan centil centil, kamu itu calon istri saya." kata Arkan membuka suara, mambuat Ariana menganga tak percaya, dengan apa yang baru saja Arkan sebut.


"Om Ana ini ga centil ya om." kesal Ariana, membuat Arkan mengangkat sebelah alisnya.


"Ya terserah kamu, asal jangan dekat dekat dengan laki laki lain." kata Arkan kembali mengingatkan, sukses membuat Arian memutar bola matanya malas.


...


Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, meramaikan, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.


Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.


Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.