It'S Me

It'S Me
Keputusan Xie Jun Ze



"Papa akan mendukungmu, Yuru!! Kamu sudah berhasil membuktikan kepada papa, jika kamu pantas dan layak untuk tetap memperjuangkan mimpimu!"


Tiba-tiba saja terdengar suara seorang pria paruh baya yang berasal dari arah pintu masuk ruangan ganti.


Yan Yuru dan Xu Kai beralih menatap ke arah pemilik suara. Dan mereka melihat sudah ada seorang pria paruh baya dengan setelan jasnya yang super rapi dan necis sudah berdiri di dekar pintu.


Wajahnya yang sudah dipenuhi dengan beberapa guratan halus menandakan jika dia sudah cukup tua. Namun di usianya saat ini, pria paruh baya itu masih cukup tampan dan berwibawa.


Dia menyunggingkan sebuah senyuman haru penuh kebahagiaan saat menatap Yan Yuru. Putranya yang selama ini dia kira sudah tiada.


Yan Yuru mulai bangkit dari tempat duduknya dan melenggang pelan menghampiri papanya yang terlihat begitu rapuh dan tak berdaya karena merasa bersalah.


"Papa ..." ucap Yan Yuru bergetar.


"Yuru ..." pria paruh baya itu langsung memeluk Yan Yuru penuh haru, mendekapnya dengan hangat dan sangat erat.


Sedangkan Yan Yuru tak kuasa untuk menahan air matanya, hingga akhirnya lelehan air mata hangatnya mulai membasahi pipinya. Kehangatan dan aroma tubuh khas dari sang papa yang selalu dia rindukan selama ini membuatnya tenggelam di pelukan sang papa selama beberapa saat.


"Maafkan papa, Yuru. Seharusnya papa lebih bekerja keras saat itu untuk mencarimu. Seharusnya papa tidak menyerah saat itu untuk terus mencari dan menemukanmu! Maafkan papa yang tak bisa diandalkan ini. Maafkan papa, Yuru ..." ucap tuan besar Yan terlihat begitu menyesali semuanya.


Karena saat itu dia percaya begitu saja kepada Yan Chen dan tak pernah menyelidiki kasus itu lebih jauh lagi.


"Maafkan papa, Yuru. Papa bersalah kepadamu ..." imbuhnya lagi dengan sepasang mata yang sudah berkaca-kaca dan melepaskan pelukannya.


Dia menatap lekat putranya yang sangat dia rindukan selama ini.


"Papa sama sekali tidak bersalah." ucap Yan Yuru lirih. "Aku minta maaf jika aku tidak menuruti ucapan papa dan malah melakukan semua ini."


"Maaf aku menyela ..." ucap Xu Kai tiba-tiba menyela mereka berdua dan menghampiri mereka berdua. "Ini semua adalah salahku, Tuan besar Yan. Zie Jun Ze sama sekali tak pernah menginginkan semua ini sejak awal. Namun aku yang telah memaksanya untuk melakukan semua ini. Aku melihat dia bernyanyi dengan sangat indah, dan aku mulai mendorongnya untuk melakukan semua ini. Jun Ze tidak bersalah, Tuan besar Yan. Karena itu semua adalah aku yang memulainya."


"Aku tidak akan marah mengenai hal itu. Bagiku putraku kembali saja aku sudah merasa bahagia." jawab tuan Yan dengan lirih dan hangat. "Kembalilah dan hiduplah bersama dengan papa, Yuru. Papa selalu merindukanmu selama ini ..." imbuhnya menatap lekat putranya.


Yan Yuru merasa cukup terharu mendengar semua itu, namun dia merasa berat saat harus meninggalkan teman-temannya. Bahkan sudah cukup lama Yuru belum mengunjungi sang nenek kembali.


"Aku ingin sekali kembali, Papa. Namun aku tidak ingin pindah sekolah. Aku masih ingin melanjutkan sekolahku di SMU Keio. Dan aku ... juga tak ingin berpisah dengan teman-temanku. Untuk pertama kalinya aku memiliki seorang teman yang sangat peduli dan menyayangiku, Papa. Bahkan dia lebih peduli kepadaku dibandingkan dengan saudaraku sendiri yang ingin melenyapkanku saat itu. Aku tidak bisa meninggalkan Yokohama, Papa." ucap Yan Yuru memutuskan, meskipun sebenarnya dia juga ingin kembali hidup bersama sang papa.


"Hhm. Bolehkah aku mengajak Xu Kai, Papa?" tanya Yan Yuru sesekali melirik Xu Kai.


"Tentu saja boleh." jawab tuan Yan tersenyum lebar.


...🍁🍁🍁...


Sejak malam itu Yan Yuru dan Xu Kai pulang ke rumah besar keluarga Yan. Rumah itu cukup besar dan mewah, namun sangat sepi karena saat ini hanya ditinggali tuan Yan bersama beberapa asiten rumah tangga dan beberapa petugas keamanan serta pengawal.


Yan Yuru mengamati setiap sudut rumahnya. Ada rasa rindu dan bahagia karena sudah cukup lama dia meninggalkan rumah ini.


"Rumahmu memiliki interior yang cukup bagus dan keren, Jun Ze!" ucap Xu Kai yang rupanya juga mengamati setiap detail rumah sahabatnya.


"Papa yang mendesain semua ini. Selera papaku sangat tinggi mengenai hal seperti ini, Xu Kai." jawab Yan Yuru mulai duduk di meja belajarnya, karena saar ini mereka sudah berada di dalam kamar milik Yan Yuru.


Kamar ini masih saja utuh dan lengkap dengan barang-barang milik Yan Yuru sebelum dia mengalami kecelakaan dan dinyatakan meninggal. Tak ada satupun barang yang menghilang dari dalam kamar ini.


Semua masih terawat dan bersih. Bahkan sang papa selalu meminta asisten rumah tangganya untuk selalu membersihkan kamar ini. Dan terkadang sang papa masih sering mendatangi kamar Yan Yuru. Untuk melihat-lihat atau menggunakannya untuk tidur disaat sang papa kembali merindukan putranya.


"Jun Ze, jadi apa rencanamu?" tanya Xu Kai yang kini mulai meraih sebuah figura kecil yang pada awalnya berada di atas meja belajar Yan Yuru.


Di dalam figura kecil itu ada foto bersama seorang wanita yang masih cukup muda bersama seorang pria yang masih cukup muda juga. Mereka berfoto bersama seorang anak laki-laki yang kira-kira masih berusia 10 tahun. Foto yang sudah berusia cukup tua itu masih terlihat begitu bagus dan belum rusak.


"Seperti yang aku katakan sebelumnya. Aku akan tetap berada di Yokohama. Namun aku juga akan sering mengunjungi papa di Osaka. Biar bagaimanapun seharusnya akulah yang selalu menjaga dan menemani papa ..." Yan Yuru menyauti sambil melihat-lihat beberapa barangnya yang masih tersusun dengan rapi.


"Maafkan aku, Jun Ze. Aku malah membuatmu terjebak seperti ini. Andai saja saat itu aku tidak egois dan sesuka hatiku sendiri, mungkin semua ini tak akan menjadi serumit ini. Kamu bisa kembali berkumpul bersama papamu tanpa ada beban seperti ini. Maaf ..." lagi-lagi Xu Kai kembali merasa bersalah.


Yan Yuru tertawa kecil menatap Xu Kai, "Sampai mau berapa kali kamu mau meminta maaf kepadaku, Xu Kai? Sudah aku katakan ini bukan salahmu kok. Jadi jangan merasa bersalah seperti ini."


Xu Kai nyengir dan mengusap tengkuknya, "Uhm. Jun Ze ..."


"Ya? Ada apa, Xu Kai?"


"Kamu mengatakan jika papamu tidak mengijinkan kamu untuk menjadi seorang penyanyi. Kalau boleh tau, mengapa papamu melakukan semua itu, Jun Ze?" tanya Xu Kai tiba-tiba ingin tau.