
“Aku hanya menginginkan satu atau dua lagu saja.” Kata pangeran Zang Limo tersenyum kea rah Gu Ana, sambil menuangkan air ke dalam gelasnya, dan gelas Gu Ana.
Gu Ana yang melihat pangeran Zang Limo menuangkan air kedalam gelasnya hanya tersenyum, lagi lagi pria tersebut memperlakukannya sangat manis. Gu Ana tak pernah tahu kalau pria Zaman ini sangat romantis, sampai pada akhirnya Gu Ana bertemu dengan pangeran Zang Limo. Bahkan di dunianya dulu Ia takpernah diperlakukan se manis ini oleh pria selain kakak dan juga ayahnya. Gu Ana bahkan hanya bermain main dengan beberapa pria, untuk mengisi waktu luangnya saat selesai bertugas. Bukan bermain dalam permainan orang dewasa, namun lebih kepada ketidak adanya keseriusan dengan pria sebelumnya. Namun entah kenapa Gu Ana selalu marasa nyaman, dan aman ketika dekat dengan pria ini, bahkan Gu Ana sangat mempercayai pria ini.
…
Pagi ini seperti biasanya Gu Ana datang ke istana untuk melakukan penghormatan, semua aktifitas di lakukan seperti biasanya. Karna Gu Ana merasa senang hari ini dia sedikit menghias dirinya, dan di sepanjang jalan Gu Ana terus tersenyum kepada setiap orang, serta menyapa setiap orang yang Ia kenal. Sesampainya di gerbang Istana seperti biasa Gu Ana menyepa penjaga yang menjaga gerbang. Gu Ana memang terkenal rahmah tampa mebeda bedakan kasta seseorang, bahkan untuk para budak maupun para penjaga. Gu Ana selalu memperlakukan mereka dengan baik, dan ramah, bahkan tidak segan segan untuk menyapa mereka. Jiwa masa depan lah yang membuat Gu Ana mejadi seperti sekarang, sama halnya dengan Gu Min maupun Gu Jun, meskipun mereka memiliki rasa angkuh, dan arogan. Tetapi mereka tidak pernah memperlakukan orang orang lain dengan semena mena, sekalipun kepada budak.
Setelah Gu Ana turun dari keretanya, Gu Ana segera menuju ke aula untuk melakukan penghoratan, meskipun ini sedikit lebih pagi dari biasanya. Saat Gu Ana memasuki aula, hanya sedikit yang baru datang, mereka berbincang bincang tenantang beberapa hal. Saat melihat Gu Ana datang beberapa mentri muda menghampiri Gu Ana dan berbincang bincang dengannya. Sesekali mereka bercanda dan menimbulkan tawa di antara mereka, pagi ini rasanya sedikit lebih hangat karna ada yang mencairkan suasananya, tanpa harus membicarakan sesuatu yang terlalu serius.
Setelah beberapa lama berbincang, anggota keluarga kerajaan datang, di pimpin oleh raja Zang Zuan dan ratu Xu Yian. Mereka semua memberi hormat kepada keluarga kerajaan, termaksud Gu Ana. Akhirnya Gu Ana ikut berbaris di samping pangeran Zang Limo sebagai calon permaisuri dari pangeran Zang Limo.
Setelah melaukan penghormatan Gu Ana keluar berdampingan dengan pangeran Zang Limo, sambil sedikit berbincang bincang tentang latihan mereka.
“Limo, jadi kapan kita akan melakukan latihan?” tanya Gu Ana dengan antusisa, sebenarnya buka karna pangeran Zang Limo sebagai tunangannya, makanya Gu Ana bersemangat. Itu karena Gu Ana penasaran bagaimana sebenarnya ilmu beladiri yang dimiliki pangeran Zang Limo.
Pangeran Zang Limo yang mulai menerti jalan fikiran dari Gu Ana, hanya tersenyum. Pangeran Zang Limo memilih diam, dan mengikuti Gu Ana untuk ikut ke dalam kereta Gu Ana. Melihat pangeran Zang Limo mengikuti dirinya menuju kereta membuat Gu Ana berkerut bingung. Kenapa harus mengikutinya? Padahal pekerjaannya sebagai pangeran juga banyak.
“Kau tidak mengerjakan pekerjaan mu? Pagi pagi sudah mengikutiku, aku akan ke rumah seni pagi ini untuk mengerjakan pekerjaanku?” kata Gu Ana memandang pangeran Zang Limo.
Mendengar pertanyaan dari Gu Ana, pangeran Zang Limo hanya tersenyum senyum sambil terus memandang Gu Ana.
Ketika malam hari tiba, pangeran Zang Limo kembali berkutat dengan berbagai gulungan kerajaan yang harus pangeran Zang Limo selesaikan, pangeran Zang Limo kembali mengerjakan seluruh gulungan tersebut setelah makan malam. Bukan tanpa alasa pangeran Zang Limo melakukan hal tersebut, karna pangeran Zang Limo ingin bersama dengan Gu Ana, sambil melakukan latihan dengan Gu Ana. Pekerjaan pangeran Zang Limo selesai setelah hampir dini hari.
Setelah menyelesaikan gulungan gulungan tersebut, pangeran Zang Limo akhirnya bisa beristirahat, dan merebahkan diri di kasurnya, pangeran Zang Limo mengingat kembali bagaiman nyamannya tidur di kasur Gu Ana, membuatnya kembali merindukan Gu Ana. Entah apa yang membuatnya seperti ini, jujur saja hanya Gu Ana yang mampu membuatnya melakukan hal ini, rela melakukan segalanya hanya demi bisa bersama gadis tersebut. Pangeran Zang Limo akhirnya tertidur dengan sangat nyenyak.
Flashback off
Setelah sampai di rumah seni pangeran Zang Limo dan Gu Ana segera turun dari keretanya, semua mata tertuju kepada pangeran Zang Limo dan Gu Ana. Bahkan kebersamaan mereka sudah tersebar ke seluruh kerajaan tersebut, baik begaiman perlakuan pangeran Zang Limo dengan Gu Ana, bagaiman pangeran Zang Limo memanjakan, serta pangeran Zang Limo yang tak segan segan memeluk dan memangku Gu Ana di depan para pelayan.
Setelah mereka turun, pangeran Zang Limo dan Gu Ana segera menaiki tangga hingga menuju lantai tiga tempat Gu Ana akan mengerjakan tugasnya. Pangeran Zang Limo kemudian membawa seluruh tugas Gu Ana ke tempat bangku yang terbuat dari kayu, bangku tersebut sengaja Gu Ana buat layaknya sebuah sofa, di mana di atasnya bangku tersebut telah Gu Ana berikan busa agar lebih nyaman untuk di duduki.
Gu ana yang melihat pangeran Zang Limo membawa seluruh gulungan, maupun catatan yang berbentuk buku tersebet ke bangku panjangnya hanya bisa pasrah, dan mengikuti pangeran Zang Limo. Sebelum Gu Ana menutup pintu ruangan tersebut, Gu Ana meminta pelayan untuk menyiapkan cemilan dan the hijau. Kemudian duduk di bangku panjang tersebut, sambil terus membuka setiap laporan yang telah di catat oleh para pegewainya.
Saat Gu Ana tengah membaca setiap catatan laporan keuangan tersebut, Gu Ana tiba tiba dikejutkan dengan pangeran Zang Limo yang tiba tiba berbaring di paha Gu Ana, Gu Ana mengalihkan pandangannya ke arah pangeran Zang Limo yang tengah menutup matanya, Gu Ana yang milihat tingkah pangeran Zang Limo, hanya tersenyum sambil mengusap kepala pangeran Zang Limo. Setelah mengusap kepala pangeran Zang Limo, Gu Ana segera mengembalikan fokusnya ke arah laporan laporan yang telah tertata rapi di atas meja, meminta untuk di periksa.
…
Jangan lupa like and comment, tolong tinggalkan jejak ya biar author tambah semangat, dan punya masukan agar bisa memperbaiki kesalahan yang author buat, sip… ok.
Mohon maaf author cuman bisa up sedikit karena author tengah sibuk saat ini, dikarenakan harus berkutat dan bergelut dengan para tugas yang dengan tidak tahu dirinya semakin bertambah, terimakasih semoga kalian mengerti.