It'S Me

It'S Me
Episode 262



Ariana ikut tersenyum dan mengusap lembut perutnya, membuat Arkan tersenyum, dan menggenggam tangan istrinya, yang mengusap lembut perut istrinya.


"Hm... Dua bulan lagi." kata Ariana membuat Arkan memandangnya dengan pandangan bahagia.


...


Lain hal nya dengan Ariana dan Arkan, Raya saat ini tengah tertidur pulas di kasurnya. tak lama kemudian Lidia, Riko dan Rahen masuk ke dalam kamarnya.


"Sayang..." kata Lidia dengan hati hati membangunkan Raya, mata Raya tampak sedikit sembab. Raya sengaja menangis, dan sebelum menangis, agar terlihat sembab saat di lihat keluarganya.


"Raya tak apa apa, ada kakak di sini, semua baik baik saja." kata Riko membuat Raya mengangguk.


Raya tersenyum kemenangan, apalagi jika mereka melihat ekspresi Mala, membuatnya semakin senang. Raya bahagia karena bisa membalas semua perbuatannya Mala, di masa lalu.


"Sudah jangan kamu fikirkan." kata Rahen mengusap lembut kepala Raya. Setelah itu Rahen memutuskan keluar dari kamar Raya.


Rahen segera berjalan ke kamarnya, memikirkan semua yang terjadi. Lidia yang melihat raut wajah suaminya, merasa khawatir. Lidia pun segera menghampiri Rahen di kamar mereka.


"Mas kamu kenapa?" tanya Lidia, sembari memegang pundak Rahen.


Merasakan tangan Lidia, Rahen segera berbalik, dan memeluk Lidia. Ingatan Rahen kembali di mana saat saat Rahen mengkhianati Lidia. Hal itu sontak membuat Rahen merasa bersalah.


^^^Ya mungkin karma. Kata Rahen dalam hatinya, ketika terbayang kembali apa yang terjadi.^^^


Rahen mengeratkan pelukannya, dan menyandarkan kepalanya di bahu Lidia. Tampa ia sadari air matanya lolos begitu saja, tampa bisa di kontrol.


"Mas kamu menangis?" tanya Lidia, melonggarkan pelukannya, membuat Lidia melihat wajah sembab suaminya.


"Mas minta maaf ya, Mas benar benar minta maaf." hanya itu yang keluar dari bibir Rahen, membuat Lidia menghela nafasnya.


"Mas kenapa?" tanya Lidia, dia ingin suaminya sendiri yang jujur kepada nya.


"Seandainya Mas tidak main serong dengan Mala, mungkin semua ini tak akan terjadi," kata Rahen mendudukkan dirinya di samping tempat tidur. "Seandainya Mas tidak termakan bujuk rayuan dari masa lalu Mas mungkin semua akan baik baik saja." lanjut Rahen.


Ya dulu Lidia dan Rahen adalah korban perjodohan, awalnya mereka memang tidak saling mencintai, namun berjalannya waktu, mereka mulai saling mencintai, hingga akhirnya Mala masuk ke dalam pernikahan mereka, dan merusak semua.


Itu adalah sepenggal kisah Rahen, yang membuat Rahen merasa bersalah hingga sekarang. Meski Lidia sudah mengatakan memaafkan namun, Rahen tahu segala perlakuannya dengan Lidia, akan selalu teringat dalam ingatan Lidia. Rahen bahkan sangat menyadari, apapun yang ia lakukan hingga sekarang, tak akan mampu menghapus luka lama tersebut.


Rahen kembali memeluk Lidia dengan erat, Meskipun sudah memaafkan, namun Rahen tetap mampu melihat keraguan Lidia terhadap Rahen. Rahen adalah awal mula semua ini terjadi, dan kini karma telah berlaku bagi nya.


"Apa ini semua karma untuk ku?" kata Rahen, membuat Lidia tersenyum, kemudian menggeleng kan kepalanya.


"Bukan Mas, ini semua adalah jalan hidup kita." kata Lidia menenangkan suaminya. "Asalkan jangan mengulangi hal yang sama, maka semua akan baik baik saja." lanjut Lidia, membuat Rahen memandang manik mata istrinya dengan sendu.


"Mas minta maaf." kembali lagi Rahen mengucapkan permintaan maaf nya.


Rahen memeluk erat istrinya, dan merebahkan kepalanya di bahu Lidia. Rahen memejamkan matanya, tempat bersandar ini lah yang membuat Rahen merasa nyaman. Seolah sedang melepas bebannya, Rahen menghirup udara segar, dan wangi tubuh istrinya, kemudian menghembuskan ya dengan perlahan.


"Mas mau tidur?" tanya Lidia, membuat Rahen mengangguk.


Rahen dan Lidia kemudian merebahkan badannya, di tempat tidur. Rahen segera memeluk Lidia dengan erat.


"Mas minta maaf, Mas tahu apa pun yang Mas lakukan saat ini, tak akan mampu menghapus masa lalu." kata Rahen kembali. Membuat Lidia mengangguk.


"Sudah lah Mas, tidur aja lagi." kata Lidia, tak menjawab kata kata dari suaminya.


"Hm... terimakasih untuk segalanya." kata Rahen kembali, dan menutup matanya.


Rahen pun terlelap sembari memeluk istrinya, membuat Lidia sedikit tersenyum, karena Rahen memang sudah berubah. Lidia segera bergegas, kemudian meninggalkan Rahen. Lidia berjalan ke arah kamar Raya, untuk memastikan keadaannya. Saat Lidia masuk, ternyata raya telah terlelap, dengan memegang foto Ririn. Lidia kemudian mengecup puncak kepala Raya, kemudian keluar dari kamar Raya.


Saat pintu tertutup, Raya membuka matanya, dan segera tersenyum ke arah pintu kamar yang telah tertutup.


^^^Sepertinya aku memang bisa bermain film. Kata dalam hati, sambil tersenyum penuh kemenangan.^^^


...


Selamat datang 2021.