
Identirasanya membuat orang tak percaya dengan apa yang di dengarkannya, mata mereka membulat ke arah Ariana. Karna selama latihan tadi mereka asyik memandang Ariana. Ada yang hanya melihat dari jauh, dan Ada uang terang terangan mengikuti Ariana.
...
"Halo semua saya Ariana, saya merupakan capten senior saat berada di angkatan Prancis." kata Ariana dengan ramah, namun terdengar sedikit tegas. Saat Ariana berada di lapangan latihan dan di kehidupan sehari hari, sungguh berbeda. Jika di kehidupan sehari hari, Ariana terkadang manja, kekanak kanakan. Maka saat di tempat latihan, Ariana sedikit tegas, meski tetap ramah.
Setelah melakukan latihan tepat pukul dua siang, Ariana dan Arkan memutuskan untuk kembali. Ariana menuju ke arah loker, yang menyimpan beberapa barang, dan baju Ariana. Ariana segera memakainya dan menyusul Arkan yang sedamgenunggunya di mobil.
"Lama ya Om?" tanya Ariana sambil measuk ke dalam mobil Arkan.
"Ga juga." kata Arkan melirik ke arah Ariana, sambil menghidupkan mobilnya. "Kamu istirahat aja dulu, nanti kalau udah sampai saya bangun nin." kata Arkan menjalankan mobilnya dari parkiran.
"Iya Om, makasih." kata Ariana mulai memejamkan matanya. "Om pernah naik kuda?" tanya Ariana masih memejamkan matanya.
"Pernah, kenapa?" tanya Arkan sedikit bingung.
"Sekali kali kita naik kuda, enak kali Om." kata Ariana masih dengan mata tertutup. Arkan tersenyum mendengar kata kata Ariana, Arkan sedikit melirik ke arah Ariana yang saat ini sudah terpejam.
"Ya sudah, nanti setelah kita menikah." kata Arkan, sembari mengemudi dengan kecepatan sedang, sedangkan tangan satunya menggenggam tangan Ariana.
Kini Arkan sudah tidak lagi malu malu mengungkapkan perasaannya, Arkan sudah mulai menunjukkan dengan berbagai pekerjaan, belum lagi tadi saat Ariana tengah latihan. Arkan sempat menghubungi Erick, untuk meminta Ariana menjadi istrinya.
Erick yang mendengarkan permintaan Arakan hanya tersenyum senyum. Bagaimana tidak Arkan ingin menikahi Ariana bulan depan, membuat Erick semakin tertawa.
Arkan bahkan saat menelfon Erick, harus menyingkirkan gengsinya, sehingga terlihat seperti seorang yang kebelet kawin.
Erick hanya mengatakan bahwa minggu depan akan kembali ke Indonesia, sedangkan Rayen mungkin akan menjelang pernikahan.
Arkan terus tersenyum jika mengingat satu bulan lagi akan menjadi suami Ariana.
Setelah tiga puluh memenit, mereka sampai di rumah besar Candana. Arkan melihat Arian sedang tertidur pulas di bangku penumpang, hanya tersenyum. Arkan mengibas sedikit rambut kecil yang mengganggu wajah imut Ariana. Arkan mulai menyentuh wajah Ariana dengan telunjuknya, dari kening, turun ke alis, turun ke mata, kemudian hidung, dan terakhir bibir Ariana.
Saat menyentuh bibir Ariana, pikiran Arkan kembali mengingat bagaimana lembut dan manisnya bibir Ariana. Sontak membuat Arkan tersenyum. Tiba tiba sebuah dorongan terjadi di dalam diri Arkan, Arkan menginginkan untuk kembali mencicipi bibir manis Ariana yang membuatnya candu.
Arkan seakan tak ingin melepas lu*ma*tan*nya dari bibir Ariana. Ini lah penyakit Arkan, ketika me*nci*um Arian. Arkan seakan akan tak pernah puas, seolah sedang melepaskan rasa rindu yang amat mendalam, kepada Arian.
Tok tok tok.
sebuah ketukan menyandarkan Arkan dari aksinya, dengan segera Arkan membuka pintu mobilnya, dan Arkan segera membuka pintu kanan mobil nya. Arkan segera menggendong Ariana yang saat ini terlelap, untuk membawanya ke kamar Ariana.
Arkan berusaha membuat wajahnya sedatar mungkin, agar Arkan tidak terlihat gugup, sehingga membuat Arkan ketahuan habis mencium Ariana.
Arkan segera membaringkan Arian di kasurnya, setelah itu segera pergi membersihkan dirinya. Dengan wajah yang semangat Arkan menemui Farid, yang saat ini tengah menonton saluran berita.
"Pah... Arkan mau melamar Ana minggu ini." kata Arkan tampa basa basi, seihingga membuat Farid memandang Arkan dengan pandangan bingung.
Farid seperti masih mencerna perkataan anaknya, membuat Arkan menghela nafasnya.
"Pah Arkan mau melamar Ana minggu ini, papa temani Arkan ya." pinta Arkan mengulangi kata katanya.
"Kamu serius nak? papa ga salah denagar kan?" tanya Farid tak percaya dan bahagia di saat yang bersamaan, membuat Arkan tesenyum senang. "Kamu udah hubung Erick kan Ka?" tanya Farid bahagia, mendengar kata kata Arkan.
"Udah Pa, tadi Arkan hubungi Om Erick." kata Arkan tersenyum ke arah Farid.
"Ya sudah papa hubungi Kakak kamu dulu ya." kata Farid segera meletakkan remot Tv dan menyomot ponsel nya untuk menelfon anak sulungnya, Farhat.
"Ya udah Pa, Arkan Naik ke atas aja ya." kata Arkan segera berdiri menuju lantai dua.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.