It'S Me

It'S Me
Episode 41



Pagi ini merupakan penghormatan Gu Ana sebagai calon istri pangeran Zang Limo, dan membuat seluruh mentri muda menghela nafas kecewa atas pertunangan Gu Ana dan pangeran Zang Limo. Semua pemuda berterus terang memberikan sebuah bunga mawar putih pertanda perkabungan dari para pemuda.


Melihat hal tersebut membuat Gu Ana mendesah kesal, sungguh Gu Ana sangat sedih karna menurutnya para penggemarnya akan berkurang dengan derastis setelah pertunangan ini, sedangkan yang dijodohkan dengannya tidak pernah mengungkapkan atau mengucapkan kata cinta.


“Hai An’er kenapa kau begitu lesu hari ini? Buakkah hari ini kau seperti biasa banyak mendapatkan hadiah? Oh ya hari ini semua hadiahmu hanya bunga mawar putih?” tanya pangeran Zang Jade kepada Gu Ana.


Gu Ana yang mendengar pertanyaan pangeran Zang Jade hanya menghela nafas pasrah. Ia tak tahu apakah ini berkah atau malah sebaliknya. Disisi lain ada sebuah kebahagian di dalam hatinya, disisi lain Gu Ana merasa ada sesuatu yang salah.


Melihat keraguan Gu Ana tentang pertunangan ini membuat pangeran Zang Limo tersenyum kecut. Melihat raut wajah dari pangeran Zang Limo, pangeran Zang Handrong sedikit berkerut.


“Limo… apa kau pernah mengungkapkan perasaanmu kepada An’er?” tanya pangeran Zang Handrong sedkit berbisik.


“Aku memang belum pernah, tapi aku yakin An’er mengetahui hal itu.” Kata pangeran Zang Limo sedikit malu-malu.


“Hem… aku sungguh tak mengerti bagaimana kau bisa seyakin itu, jika kau tidak keberatan aku akan mencontohkan ungkapan perasaan kepada An’er.” Kata pangeran Zang Handrong dengan santai dan tenang.


“Dengan siapa Gege akan mengungkapkannya?” tanya pangeran Zang Limo penasaran.


“Tentu saja dengan An’er.” Jawab pangeran Zang Handrong.


“Jangan, aku sendiri yang akan melakukannya, dan mempelajarinya. Jika kau ingin mencontoh kannya maka contohkan dengan orang lain saja.” Kata pangeran Zang Limo kepada pangeran Zang Handrong.


Mendengan perkataan pangeran Zang Limo, pangeran Zang Handrong sedikit tertawa karna berhasil menggoda adiknya pangeran Zang Limo.


Gu Ana berjalan meninggalkan mereka menuju tandunya, Gu Ana meletakkan bunga tersebut ke dalam tandunya. Sementara pangeran Zang Limo mengikuti Gu Ana dari belakang.


“Apa kau menyesal? Apa kau tak terima?” tanya pangeran Zang Limo tiba-tiba.


Gu Ana mendengar pertanyaan pangeran Zang Limo tiba-tiba membuatnya terkejut, karna tak menyedari kedatangan pengera Zang Limo.


“Apa maksudmu? Aku hanya menegur mu.” Kata pangeran Zang Limo dengan nada yang sedikit tinggi.


“Hadeh mulai lagi.” Keluh Gu Ana. “Kenapa pangeran yang jadi sewot?” tanya Gu Ana lebih tinggi lagi.


“Kau…” kata pangeran Zang Limo menggantungkan kata-katanya, namun tergantung karna pangeran Zang Limo tidak mengerti arti kata sewot.


“Apa?” tanya Gu Ana memandang pangeran Zang Limo. “Sebenarnya pangeran kesini karna apa? Bahkan kau kengagetkanku.” Tanya Gu Ana akhirnya.


“Aku hanya ingin bertanya, apa kau tak suka bertunangan dengan ku.” Jujur pangeran Zang Limo.


“hahahaha… kau hanya ingin menanyakan itu.” Tawa Gu Ana membahana mendengar perkataan pangeran Zang Limo.


“Apanya yang lucu?” tanya pangeran Zang Limo kepada Gu Ana.


“Jelas kau yang lucu, kenapa kau bertanya seperti itu? Kau tau berapa banyak gadis yang ingin berada di posisiku? Dan aku mendapatkan hal itu dengan mudah. Ayolah kau jangan membuat lelucon, kau sungguh lucu pangeran.” Kata Gu Ana kepada pangeran Zang Limo.


“Ti…tidak.” Kata pangeran Zang Limo tergagap.


“Ayo… ayo, jangan berfikiran yang aneh-aneh ini masih pagi.” Kata Gu Ana menekan emosi pangeran Zang Limo. “Pagi-pagi kau sungguh menjadi bucin.” Kata Gu Ana sambil gelang-gelang.


“Tidak…” kata pangeran Zang Limo tergantung karna mendengar perut Gu Ana yang berbunyi.


“hehehe… tadi sarapanku kurang.” Kata Gu Ana tertawa kepada pangeran Zang Limo.


“Ayo ke tempat ku.” Tawar pangeran Zang Limo.