
Cup... "Kecupan selamat pagi untuk Mas sayang ku, jangan marah marah lagi ya." kata Ariana sambil memperbaiki posisi duduknya, dan memasang pengaman kursinya. "Ayo jalan Mas sayang." kata Ariana meminta Arkan menjalankan mobilnya.
"Sayang, salah. Mas kan buka anak kecil lagi." kata Arkan membujuk Ariana untuk mencium nya lagi.
Cup...
Dengan segera Ariana mengecup bibir Arkan dengan cepat, membuat Arkan menginjak gas dengan semangat, dan melupakan kekesalannya.
...
Sesampainya mereka di kediaman Hanvei, Ariana bersiap untuk turun.
"Mas nanti Ana berangkat sendiri aja ya." kata Ariana, membujuk Arkan untuk berangkat sendirian, karna risih menjadi pusat perhatian setiap wajah wanita yang iri.
"Tidak sayang, sebelum Daddy mu belum di sini kamu masih harus dengan mas." kata Arkan membelai rambut Ariana, dengan lembut.
"Tapi kan..." kata Ariana sedikit mengkerucutkan bibirnya.
"Ga ada tapi tapi nya sayang, mas tunggu kamu aja ya." kata Arkan membujuk Ariana, ager menurut dengannya.
"Ya udah deh, Ana nitip koper bentar dengan Bibi." kata Ariana mengalah, kemudian memasuki kediamannya, lalu kembali ke mobil Arkan.
Arkan tersenyum melihat Ariana keluar dari gerbang utamanya, gadis itu terlihat semakin menggemaskan, hingga membuat Arkan ingin sekali memeluknya. Apalagi saat ini ekspresi Ariana tengah menggebungkan pipinya, hingga terlihat sangat imut.
Arkan sedikit terkekeh membayangkan profesi Ariana saat ini, sebagai Capten Senior di angkatan militer. Yang pasti Ariana mendapatkan gelar itu bukan tampa kerja keras, pasti Ariana telah mengikuti banyak misi berbahaya, hingga mampu mendapatkan kedudukan setinggi itu di dalam angkatan militer.
Arkan memang baru sekali melihat Ariana bertarung, saat Ariana mengawal keluarganya. Sungguh gadis yang sangat tangguh, di balik paras imutnya yang kekanak kanakan. Arkan masih sedikit tak percaya, bagaiman Ariana secara tidak sengaja menjadi pengawalnya, hingga akhirnya saat ini menjadi kekasihnya.
Ya Allah terimakasih telah mengirim Ana untukku. Ucap Arkan dalam hati, dengan seulas senyum menyertai di wajahnya yang tampan.
"Ih Om eh Mas ngapain senyum senyum sendiri?" tanya Ariana saat melihat Arkan tengah tersenyum kepadanya, ketika Ariana memasuki mobil. "Mas kalau ga kuat bawa mobil, biar Ana aja, kita ke rumah sakit." lanjut Ariana, karna Ariana karna Arkan masih saja bertahan dengan senyum menawannya.
"Kerumah sakit mana sayang, Mas ga sakit." kata Arkan tersenyum, sambil mengelus puncak kepala Ariana dengan gemas.
"Sayang..." kata Arkan mendengar kata kata Ariana.
"Habisnya Mas sih, senyum senyum ga jelas dari tadi." kata Ariana membela dirinya. Ariana jelas bingung bin heran ketika melihat Arkan yang terus menatapnya, sambil mengulum senyum menawannya.
Senyum Arkan memang sangat menawan, yang tak pernah Ia tunjukkan untuk siapa pun, kecuali wanita yang sedang ada di depannya. Namun Arkan yang terus terusan tersenyum membuat Ariana bingung, dan merasa ada yang salah. Namun setelah melihat wajahnya, Ariana merasa tidak ada yang salah, namun Arkan terus mengulum senyum menawan di wajah tampannya, hingga membuat Ariana menyimpulkan ada yang salah di dalam otak Arkan.
"Mas senyum karna kamu sayang." jelas Arkan mengecup punggung tangan Ariana.
"Ish... Mas pagi pagi jangan bucin ya Mas." kata Ariana jengah melihat tingkah Arkan, seperti seorang remaja yang baru saja jatuh cinta. Padahal umurnya sudah terbilang sangat matang.
"Mas bucinnya cuman sama kamu sayang, kan bucin dengan calon istri sendiri ga papa." jelas Arkan kembali menggenggam tangan Ariana dengan erat.
Di sepanjang perjalanan, Arkan terus menggenggam tangan Ariana, sambil fokus menyetir mobilnya. Sementara Ariana hanya membiarkan saja tangan kanannya terus di genggam Arkan, sementara tangan kirinya sibuk bermain ponsel.
"Sayang... Sayang." panggil Arkan saat melihat Ariana fokus bermain ponsel. "Sayang... sanyang, dengar Mas ga?" tanya Arkan sedikit meninggi, karna Ariana masih fokus dengan ponselnya.
Dengan geram Arkan segera menarik ponsel Ariana, kemudian membaca isi pesan yang Ariana kirimkan kepada teman temannya.
Arkan sedikit kesal ketika melihat nama seorang laki laki, yang aktif mengirim Ariana pesan, tentang resep resep makanan. kemudian membuka chat yang lain, dan terdapat lah banyak chat chat romantis, dan gombalan dari para laki laki. Ada yang Ariana abaikan, bahkan hingga yang Ariana balas.
"Sayang apa apaan ini? Ini lebih mirip asrama putra sayang." kata Arkan sedikit terkejut dengan isi ponsel Ariana, yang di penuhi oleh pesan laki laki. "Ponsel kamu Mas tahan, nanti mas mau nanya lagi ke kamu." kata Arkan segera keluar dari mobil, di susul oelha Ariana.
Ariana hanya menunduk patuh, dan menggerutuki kebodohannya, untung saja seluruh isi Chatnya dengan Ali sudah Ariana hapus. Jika tidak maka, Ariana akan dalam keadaan bahaya besar. Ariana sangat tahu kalau sekarang Arkan dalam keadaan kesal, dan cemburu terhadap para laki laki yang selalu mengirimi pesan untuk Ariana.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload.