It'S Me

It'S Me
Episode 69....



“Cari tahu tentang mereka, dan tangkap seluruh anggota keluarga mereka, aku mau malam ini juga.” Perintah Gu Min kepada Cheng Lan


“Baik tuann.” Kata Cheng Lan lalu pergi meninggalkan mereka.


Setelah kepergian Cheng Lan mereka mulai mengintrogasi mereka untuk mendapatkan informasi tetang raja Nan Cheng.


“Mari kita mulai dari tangan mereka.” Kata pangeran Nan Cheng sambil memandang perajurit dan pelayan tersebut.


Saat mendengarkan kata tangan mereka terkejut bukan main, wajah mereka pucat pasi karna takut tangan mereka akan dipotong.


Setelah mengintrogasi panjaga dan pelayan tersebut, mereka kembali merencanakan untuk penyusupan anak buah mereka.


“Jika kalian ingin keluarga kalian selamat, maka kalian harus menyusupkan beberapa anak buahku ke dalam istana Bei, mengerti!” kata Gu Min kepada pelayan dan juga penjaga itu.


Mendengar hal tersebut pelayan dan juga penjaga tersebut hanya mengangguk pasrah dengan hal tersebut.


“Nah tugas kalian adalah mendapatkan stempel tatonya, kami menginginkannya besok.” Kata Gu Jun sambil tersenyum manis.


Melihat senyum manis Gu Jun, penjaga dan pelayan terkejut dengan hal tersebut, bagaiman mungkin seorang anak kecil mampu bermain main dengan nyawa seseorang tanpa merasa bersalah.


“Ba… Baik.” Kata mereka terbata bata, karna ketakutan.


Mendengar jawaban mereka pangeran Nan Cheng, Gu Min dan Gu Jun tersenyum puas.


“Bagus kalau begitu aku pergi tidur dulu, tidak bagus untuk anak kecil sepertiku tidur larut malam.” Kata Gu Jun sambil menguap.


“Kalian pergilah dari sini, jangan sampai ada yang melihat kalian, laksanakan tugas kalian, aku tak mau ada kegagalan.” Ucap pangeran Nan Cheng.


Menengar perkataan pangeran Nan Cheng penjaga dan pelayan tersebut bergegas keluar dari tempat pangeran Nan Cheng.


Sesuai keinginan banyak anak buah pangeran Nan Cheng, Gu Min, dan Gu Jun yang menjadi mata mata sebagai prajurit dan dayang. Bahkan ada salah satu yang menjadi dayang kepercayaan dari raja Bei Qing, sehingga memudahkan mereka untuk mendapatkan informasi.


Setelah mendapatkan banyak informasi barulah akhirnya mereka melakukan rencana penyerangan kepada kerajaan Bei.


“ Saat raja Bei tidak ada di tempat maka keamanan mereka lengah saat itu juga, dan karna pemimpin mereka sedang tidak ada, maka itu kesempatan kita untuk mencuri pelakat dari penasehat kepercayaan raja Bei Qing, dengan kata lain jika pelakat itu berada di tangan kita maka secara tidak langsung perintah kita adalah perintah Raja.” Kata pangeran Nan Cheng menjelaskan kepada Gu Min dan Gu Jun.


Mendengar hal tersebut Gu Min dan Gu Jun terlihat cukup puas dengan rencanadari pangeran Nan Cheng, namun tiba tiba raut wajah dari Gu Min berubah.


“Baiklah merebut kekuasan sudah kita dapatkan, lalu bagaiman cara kita menaklukkan penasehat Bei Qing?” tanya Gu Min.


“Menaklukkan penasihat itu dengan cara menaklukkan kaki tangannya dulu, barulah pimpinannya, sebuah pemimpin tanpa kaki tangan merupakan cangkang kosong, bukankah begitu jalannya sebuag bisnin.” Kata pangeran Nan Cheng.


Mendengar kata kata dari pangeran Nan Cheng membuat Gu Min dan Gu Jun tersenyum puas dengan hal itu.


“Baiklah, mari kita mulai permainan ini dengan bersih.” Kata Gu Jun disertai dengan seringai.


“Ah… pasti menyenangkan bukan?” kata pangeran Nan Cheng.


“Tapi kita harus menaklukkan para pengawal keluarga Bei saat akan melakukan perjalanan, dan perjalanan mereka harus melebihi dua hari, dan tempat yang terjauh yang kemungkinan akan mereka lakukan adalah kerajaan Zang.” Kata Gu Min, sambil menyusun rencana selanjutnya.


“Kalau begitu kita akan melakukannya saat pernikahan Gege Liue.” Putus pangeran Nan Cheng.


“Kalau begitu berarti seluruh perajurit kita harus menjadi pengawal kepergian raja minimal separuh dari pengawal keluarga Bei, bukankah begitu?” tanya Gu Jun.


“Kalian sangat jahat tak mengajakku bermain.” Kata Gu Ana tiba tiba datang entah dari mana.


“Apa yang kau lakukan? Aku kira kau masih sakit, atau di awasi pangeran bucinmu itu.” Kata Gu Jun mengejaek Gu Ana.


“Ayolah bukankah aku harus ikut andil dalam hal ini?” kata Gu Ana menghiraukan ejekan dari Gu Jun.


“Hem… lagian ini tentang dendam tubuhmu, maka kau diperbolehkan untuk ikut.” Kata Gu Min.


Sedangkan yang lain mengangguki kata kata dari Gu Min tanda menyetujui kalau Gu Ana ikut andil dalam permainan ini.


Setelah diskusi yang amat panjang akhirnya hari eksekusi yang telah dinantikan tiba. Saat keluarga kerajaan Bei berangkat dan meninggalkan kerajaan Bei, seluruh pasukan dari anak buah pangeran Nan Cheng, Gu Min, dan Gu Jun. setengah dari mereka telah memasuki pasukan keluarga kerajaan, dan separuh lagi berangsur angsur di gantikan tanpa kecurigaan dari keluagra kerajaan Bei maupun dari orang kepercayaan mereka.


Sedangkan di Istana para kaki tangan dan pengawal banyangan serta pernjaga dari penasehat kerajaan yang dipercaya untuk memimpin ketika raja tidak ada dilumpuhkan satu persatu. Kemudian barulah penasihat kerajaan tersebutlah yang dilumpuhkan lalu pelakat kepemimpinan raja Bei Qing direbut oelh Cheng Lan.


Setelah pelakat tersebut direbut oleh Cheng Lan, kemudian seluruh anggota kerajaan dikumpulkan dan dieksekusi hari itu juga, sedangkan seorang kasim dibiarkan bebas begitu saja agar memberi tahu raja mereka tentang kerajaan tersebut.


Sedangkan pengawal kerajaan seluruhnya telah terganti dengan anak buah pangeran Nan Cheng, Gu Min, dan Gu Jun. Saat mereka tiba di kerajaan Zang.


Saat malam acara tersebut Gu Ana sengaja berdandan seperti itu untuk menarik perhatian raja Bei Qing. Bahkan saat pesta mereka berusaha menarik semua perhatian agar raja Bei Qing menyapa merek, dan ternyata raja Bei Qing memakan umpan yang mereka berikan hingga akhirnya menyapa mereka.


“Tuan muda dan nona muda keluarga Gu lama tak berjumpa.” Sapa laki laki tersebut dengan penuh wibawa, nampak jelas mereka hanya ingin menyapa anak anak dari keluarga Gu saja.


Mendengar umpan termakan oleh ikan yang mereka incar, mereka diam diam memasang senyum menyeringai, namun memperlihatkan hal yang berbeda di depan semua orang agar terlihat lebih alami.


“Salam Yang Mulia Raja Bei Qing.” Ucap Gu Min, Gu Ana da Gu Jun secara serempak.


“Bagaimana kabar kalian?” tanya raja Bei Qing berbasa basi.


“Jelas saja jika kami sedang sakit kami tak mungkin berada disini.” Kata Gu Jun dengan mulut tajamnya. Memancing emosi dari raja Bei Qing.


Melihat raja Bei Qing sedikit terpancing membuat mereka senang akan hal itu, itu tandanya mereka berhasil.


“Ah… tidak saya hanya penasaran saja.” Kata raja Bei Qing dengan terus mencoba mempertahankan senyumnya.


“Ah… apa kau merasa kecewa karna kegagal anak buahmu dua tahun lalu?” tanya Gu Mui tak kalah pedas.


Melihat Raja Bei Qing terlihat masih tenang dan tersenyum meski telah dipancing, membuat mereka sedikit kecewa, namun ternyata yang termakan umpan justru putrinya sendiri, membuat Gu Ana sedikit menyeringai.


“Dasar kurang ajar, berani sekali kalian dengan raja Bei Qing? Apa kalian tak sadar dengan siapa kalian berbicara.” Bentak putri raja Bei Qing dengan emosi yang meluap luap.


“Ah… putri Bei, kenapa kau begitu kasar kepada Gege ku? Ah aku masih ingat dua tahun lalu kau dengan suka rela mencoba merangkak di atas kasur Gege ku, ah dan satu lagi karna kau ditolak terang terangan dengan Gege ku, kau hampir saja memberi Gege ku obat perngsang, benar begitu?” tanya Gu Ana dengan senyum dan pandangan merendahkan.


Perdebatan mereka akhirnya di mulai dengan dakhiri saat anak buah Gu Ana membawa pelayan peribadi putri Bei, Kasim yang saat itu tidur dengan putri Bei, serta tabib yang bertugas menggugurkan kandungan putri Bei. Sontak membuat putri Bei pucat pasi, dan tak mampu berkata apa apa, Ia hanya meneteskan mata tak percaya jika mereka merencanakan akan membuka seluruh perbuatan kejinya di depan umum.


Dengan adanya hal tersebut akhirnya raja Bei Qing terpancing emosi dan tepat saat Ia dan keluarga kerajaan Bei yang lainnya tengah mendebat keluaraga Gu kasim kerajaan tersebut datang dan memberitahukan tentang keadaan istana saat ini.


Ditambah pernyataan dari Gu Jun yang seolah telah mengetahui segalanya, dan pangeran Nan Cheng yang memperlihatkan pelakat pemerintahan kerajaan Bei.


Sedangkan untuk penebasan kepala putri Bei tersebut sebenarnya adalah tugas Gu Ana, namun apa daya Gu Ana malah terbawa oleh masa lalu dari tubuh tersebut, sehingga pangerang Nan Cheng yang melakukan hal tersebut.


Sementara omongan Gu Ana yang ada di aula saat itu bukanlah rencana yang mereka lakukan, itu semua terjadi akibat Gu Ana tak mampu mengontrol emosinya saat berhadapan dengan raja Bei Qing dan pangeran mahkota Bei Xuang. Hingga berkhir seperti ini.