It'S Me

It'S Me
Episode 241



"Tapi aku anak papah, apa salahnya membantu Ririn?" kata Ririn di sela-sela isak nya.


"Kalau untuk hal lain, mungkin kami akan mengabulkannya, namun untuk hal ini kami tak akan membantu kamu, bahkan kami akan menentangnya." kata Lidia mendengus kesal tak percaya. "Saya tidak akan membiarkan kamu merusak rumah tangga mereka, sudah cukup ibu kamu mengganggu rumah tangga kami." kata Lidia mendengus kesal, dan sukses membuat Rahen merasa tak percaya.


...


Rahen mendengar kata-kata dari istrinya, sedikit mengalihkan pandangan merasa bersalah kepada istrinya, karna telah menduakan nya.


Ririn tersentak mendengarkan pernyataan dari Lidia. Air mata Ririn semakin turun lebih deras, sementara Lidia tiba tiba merasa bersalah, langsung saja memeluk putri tirinya.


"Maaf mama cuman tak ingin nama kamu semakin buruk di mata publik, semua wartawan tengah mengejar kamu." kata Lidia sembari memeluk Ririn, membuat Raya memandangi Ririn dengan pandangan sinis.


Raya selalu bisa membaca jalan pikiran Ririn, membuat Ririn yang dapat pandangan tersebut menjadi bergidik. Raya dan Ririn memang hanya berbeda tiga bulan. Ririn lahir terlebih dahulu, membuat Raya harus memanggil Ririn sebagai kakak.


Namun dari segi jalan pemikiran, Raya memang jauh lebih matang di banding Rini. Rini yang egois selalu tak dapat membedakan, mana yang kebutuhan dan yang mana hanya keinginan. Membuat Ririn terkadang menempatkan diri sendiri ke dalam bahaya.


Raya yang dahulu satu sekolah dengan Ririn, membuat Raya mengetahui segala jenis tindakan kakak nya itu. Raya sangat mengenal Ririn luar dan dalam, serta tentang obsesinya kepada Arkan. Raya bahkan pernah menghentikan tindakan pembunuhan, yang hampir di lakukan oleh Ririn.


Ya Obsesi Ririn memang mencapai level akut, Raya bahkan pernah menyarankan orang tuanya, untuk membawa Ririn ke psikiater, untuk menghilangkan obsesi gilanya itu.


Raya melangkahkan kakinya menuju laci, meja rias Ririn, kemudian menariknya. Benar saja dugaan Raya, bahwa Ririn masih menyimpan banyak foto Arkan, yang di ambilnya secara diam-diam.


"Dasar gila, sudah ku bilang bawa dia ke psikiater saja." seru Raya mengambil semua foto foto tersebut. Sontak membuat Ririn meronta ronta, memohon jangan di sita.


"Raya aku mohon jangan Ray, itu punyaku." kata Ririn memohon kepada Raya, sembari memegang tangan raya dengan erat. Namun Raya tak memperdulikannya, Raya bahkan menyeret Ririn hingga ke taman belakang rumahnya. Sementara yang lain mengikuti Raya ke taman belakang.


"Pah, kak pegang Ririn." titah Raya sembari memegang foto foto Arkan. Membuat Rahen dan Riko segera memegang tangan Ririn, untuk tidak mendekat ke arah Raya.


Raya meminta kepada asisten rumah tangga mereka untuk mengambil bensin, dan korek api. Raya kemudian membakar habis foto Arkan, di depan Ririn. Membuat Ririn meronta ronta ketika melihat foto-foto Arkan, yang telah di ambilnya terbakar habis habisan. Sementara Lidia menangis, melihat keadaan putri tirinya begitu mengenaskan.


"Ambil semua barang elektrik milik Ririn." perintah Raya membuat para


asisten rumah tangga, segera mengambilnya dan membawanya ke hadapan Ririn.


Kali ini Raya tak ingin longgar lagi kepada Ririn. Membuat Raya mengambil tindakan, yang memang harus di ambil sejak dulu.


Raya membakar semua barang elektrik Ririn, membuat Ririn terduduk. Sementara air matanya terus mengalir. Ririn yang sudah kehilangan akal, tiba tiba menyerang Raya, dan hampir menjatuhkan Raya ke arah api, yang sedang menyala besar. Untung saja bodyguard dan Riko bergerak cepat. Sehingga Raya hanya mengalami luka bakar, di bagian lengan dan kaki.


Rahen segera menarik Ririn, kemudian membawanya ke dalam kamar Ririn. Sementara itu Riko dan Lidia, segera membawa Raya ke ruang makan, untuk mengobati Lengan dan kaki Raya dari luka bakar.


"Pah maaf bukan maksud Raya, mau melakukan hal itu." kata Raya penuh dengan penyesalan, sembari meneteskan air matanya. "Raya cuman ga mau Ririn terus hidup dalam bayangan obsesinya." kata Raya ter isak.


"Iya sayang tak apa apa, papa ngerti maaf kalau papa selama ini ga dengerin kamu, seandainya sejak awal kita membawanya ke rumah sakit jiwa, mungkin tidak akan begini." kata Rahen, sembari menghapus air mata, dari Raya.


Tak lama kemudian dokter pribadi pun akhirnya datang, dan mengobati Raya. Dokter itu mengolesi salep, penghilang perih. Kemudian mencatat resep obat.


"Nah nona Raya tolong jangan sampai lukanya terkena air." kata dokter tersebut, sembari memberikan secarik kertas kepada Raya.


"Ah iya dok." kata Raya sembari menerima resep obat tersebut.


"Aaaaaa..." Tiba-tiba sebuah teriakan yang berasal dari kamar Ririn, membuat semua orang bergegas, ke arah kamar Ririn.


Para Bodyguard sejak tadi sudah berusaha mendobrak pintu kamar Ririn, yang terkunci dari dalam. Setelah pintu terbuka, dengan secara paksa. Mereka segera masuk ke dalam kamar Ririn, Alangkah terkejutnya mereka, ketika melihat semua kamar berantakan.


Rahen segera memeluk Ririn, ke dalam pelukannya. Namun Ririn masih tetap meronta ronta, minta untuk di lepaskan. Doker yang datang bersamaan dengan Rahen, segera menyuntikkan sebuah cairan penenang. Sehingga Ririn pun redang dalam hitungan menit. Untung saja mereka menggunakan alas kaki, sehingga pecahan dari kaca, yang berserakan di lantai tidak terkena mereka.


"Tuan sebaiknya kita bawa dia ke rumah sakit jiwa." kata dokter tersebut menyarankan. Membuat Rahen mengangguk pasrah, tak tahu lagi harus berbuat apa. Sementara Lidia hanya mematung, memandangi Ririn yang akan di bawa ke rumah sakit jiwa.


"Tolong bersihkan semua kekacauan ini, saya mau mengantar Ririn dulu, ke rumah sakit jiwa." kata Lidia meninggalkan kamar Ririn, menyusul suaminya.


Sementara para asisten rumah tangga segera, membersihkan semua dengan hati hati. Agar mereka tak terkena pecahan kaca, yang berserakan di lantai, memenuhi hampir seluruh ruangan kamar tersebut, membuat para Asisten rumah tangga tersebut menggeleng tak percaya


...


Hi author mau nanya nih, ada yang mau di buatin untuk cerita kisah Rahen sekeluarga ga? kalau ya komentar di bawah, terimakasih.


Hai author mau promosi nih novel baru autor duda genit, bagi yang penasaran dan suka gendre romantis dan komedi yuk baca novel duda genit.



Dan juga Tersandung Cinta Kolak, dengan gendre romantis, komedi dan Ten. Dengan novel chat story.



Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, dengan memberikan like, dan comment, maafkan atas kesalahan di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.


Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemic covid 19 ini. Ingat pesan ibu.