It'S Me

It'S Me
Episode 73



“Limo tenang lah dia hanya bercanda dengan Gegenya, dan Jun’er, bukan kepada lelaki lain. Dan satu lagi jangan begitu kesal melihat tatapan lelaki lain kepada An’er, percayalah itu diluar kendalinya, jika memang sikapnya yang mudah menarik perhatian orang orang, itu memang sudah sikapnya. An’er aku yakin tak bermaksud seperti itu.” Kata pangeran Zang Jade menasehati pangeran Zang Limo, yang terkadang cemburu terlalu berlebihan. Mendengar hal tersebut sontak membuat pangeran Zang Limo menunduk, dan memikirkan ucapan pangeran Zang Jade yang menurutnya ada baiknya juga. Kemudian pangeran Zang Limo kembali memandangi Gu Ana dengan penuh kasih sayang, yang ternyata di sadari oleh Gu Ana. Kemudian Gu Ana menunjukkan tanda hati kepada pangeran Zang Limo yang membuat pangeran Zang Limo tersenyum sambil menundukkan kepalanya.


“Wah… pangeran bucinmu memang sulit untuk di goda ya, langsung tersipu malu seperti putri malu.” Ejeka Gu Jun.



Mendengar ejekan Gu Jun, sontak saja Gu Ana langsung mengerucutkan bibirnya, sambil mengembangkan pipinya.


“Ih… Jun’er kau kok suka bener kalo ngomong?” kata Gu Ana sambil cengengesan.


“Eh… bukannya bantuin malah nambahin.” Kata Gu Min sambil merangkul Gu Ana dan Gu Jun.


Gu Jun yang mendapatkan rangkulan sontak melepaskan rangkulan Gu Min, lain halnya dengan Gu Ana yang malah memeluk Gu Min dan bergaya imut andalannya.


“Idih sok imut.” Kata Gu Jun dengan jijik kepada Gu Ana.


“Emang imut, lebih imut dari ciwi ciwi tiktok ala bagaikan langit.” Kata Gu Ana mengembangkan senyumnya sehingga lesum pipinya semakin dalam dan membuat semua orang semakin gumas melihatnya.


“Eh… ayo coba, kita main tu, dari pada nunggu acara selesai. Dari pada bosan di sini.” Kata Gu Jun kepada Gu Ana.


“Boleh tapi gantian ya.” Tawar Gu Ana.


“Ok… mulai dari Jiejie, aku dan terahir Gege.” Kata Gu Jun.


Sementara Gu Min dan Gu Ana mengangguk setuju.


Four, there, two, one…


Bagaikan langit, disore hari, berwarna biru, sebiru hatiku.


Di iringi dengan ekspresi Gu Ana yang awalnya datar tiba tiba menjulrkan lidahnya dengan mimik wajah imut, selanjutnya mengkerucutkan bibirnya dengan mengembangkan wajahnya, selanjutnya mengkerbikkan bibirnya sambil mengembangkan pipinya dan terakhir tersenyum manis sambil menyipitkan matanya..


“Ayo Jun’er kau lagi.” Kata Gu Ana, sambil menyanyikan lagu bagaikan langit ala tiktok. Diiringi ekspresi Gu Jun yang tak kalah menggemaskan dengan   Gu Ana. Setelah itu sekarang Gu Mim.


“Aku tak tau cara melakukannya.” Kata Gu Min jujur.


Mendengar hal itu Gu Ana dan Gu Jun tersenyum. Kemudian Gu Ana berdiri kehadapan Gu Min sambil sedikit menundukkan kepalanya untuk mensejajarkan wajah Gu Min yang sedang duduk.


“Ayo mulai.” Kata Gu Ana kepada Gu Jun


“Ampun, ampun.” Kata Gu Ana sambil menjauh dari Gu Min dan Gu Jun, sambil segera berdiri lalu melangkahkan kakinya untuk duduk di pangkuan Tuan Gu, sambil meminta pertolongan.


Tuan Gu yang melihat kelakuan anak anaknya hanya bisa menggeleng, sementara Gu Ana yang kini telah berada di pangkuannya meringkuk seperti bayi, sambil memeluk tuan Gu dengan erat.


Melihat hal tersebut membuat Gu Min dan Gu Jun semakin bersemangat untuk mengerjai Gu Ana. Gu Min segera menarik dan mengangkat Gu Ana kedalam pangkuannya dan memelukknya, sementara Gu Jun menarik pipi serta menggelitiki Gu Ana, yang sontak membuatnya cekikikan karna geli.


Tuan Gu hanya bisa menggeleng melihat kelakuan anak anaknya yang memang tidak pernah tau tempat jika saling menjahili.


“Ehem… kalian menjadi pusat perhatian.” Kata tuan Gu menyadarkan anak anaknya akan kelakuan mereka, yang kini menjadi pusat perhatian. Sementara Gu Min, Gu Ana, dan Gu Jun yang menyadari hal tersebut hanya tertunduk malu, menggerutuki kebodohan mereka yang seperti anak kecil.


Semua yang mereka lakukan tak luput dari pandangan orang orang, mereka melihat sebuah keharmonisan keluarga yang membuat banyak orang iri, perlakuan mereka membuat semua orang tersenyum senyum, ditambah lagi ketika mereka menundukkan kepala secara serempak dengan wajah yang semerah tomat, karna malu.


Kini sudah siang menjelang sore, acara Akademi Rakyat kini sudah selesai, sementara Gu Min, Gu Ana, dan Gu Jun kini lebih tenang, dan memilih untuk diam agar tak terpancing seperti tadi. Pangeran Zang Jade, pangeran Zang Handrong, pangeran Zang Limo, dan pangeran Nan Cheng segera menghampiri mereka yang kini terlihat lebih tenang.


“Weis… tumben kalian diam.” Kata pangeran Nan Cheng sambil memandang Gu Min, Gu Ana, dan Gu Jun bergantian.


“Malu, aku malu, a… ya ampun reputasiku sebagai gadis imut nan kalem tercoreng.” Kata Gu Ana tiba tiba dengan wajah sedih.


Mendengar kata kata Gu Ana membuat semua orang memandang heran kearahnya, karna jika imut memang benar adanya, namun sekarang Gu Ana mengaku kalem, membuat mereka memandang Gu Ana jengah. Gu Ana yang menyadari hal tersebut sontak saja mengerutkan dahinya karna bingung.


“Ada yang salah dengan kata kataku barusan?” tanya Gu Ana bingung dengan tatapan mereka.


“Hei An’er jika kau kalem aku akan bingung menyebut gadis lain yang tidak memiliki tingkah seaneh dirimu.” Kata pangeran Zang Handrong.


“Gege Jade, lihat Gege Handrong, masa dia bilang aku begitu, apa kau tidak kasihan melihat adik kecilmu ini teraniaya.” Kata Gu Ana merengek kepada pangeran Zang Jade, sementara pangeran Zang Jade yang melihat Gu Ana merengek mencubit pelan pipi Gu Ana.


“Jadi apa yang An’er inginkan untuk menghukum Handrong?” tanya pangeran Zang Handrong sambil mencubit pipi Gu Ana dengan pelan.


Gu Ana melihat pangeran Zang Handrong dengan seksama. Lalu kemudian mengalihkan pandangannya ke pangeran Zang Jade.


“Aku beum memiliki ide.” kata Gu Ana dengan wajah sendu. “Ah…” tiba tiba wajah Gu Ana yang berubah dari sendu dan sedih beralih kepada wajah yang berbinar. Melihat hal tersebut memubuat orang melongo, tentang perubahan ekspresi Gu Ana yang bisa secepat kilat. “Nanti malam aku akan membuka rumah hantu untuk pertama kali, jadi mau tidak kita pergi bersama sama nanti malam.” Kata Gu Ana sambil tersenyum manis dengan mereka semua, sementara wajahnya dipenuhi dengan binar harapan, sehingga membuat membuat mereka secara serempak mengangguk.


Melihat semua orang mengangguk secara serentak membuat Gu Ana sangat bersemangat.


“Gege Gege ku yang tampan, tampa ampun, kalau begitu kita semua akan berkumpul Mall ok?” kata Gu Ana dengan penuh semangat.


Sementara mereka yang baru saja sadar telah menganggukkan kepala atas ajakan Gu Ana tak dapat menolak lagi.