
Ariana kini telah melewati masa akhir kuliahnya, kini Ariana tengah berdiri dengan cantik untuk acara wisuda kampusnya. Ariana saat ini di dampingi oleh Arkan dan Erick tengah berdiri menunggu namanya di panggil. Setelah acara wisuda di panggil, Ariana segera keluar, dari gedung. Di depan gedung sudah ada semua sahabat sahabatnya, dan saudara saudaranya yang menyambutnya.
"Wih akhirnya mah mud di wisuda juga..." seru Maxim sembari membawa gandengannya.
Ariana melihat hal itu hanya tersenyum. Ia memang termasuk sangat lama menjalani masa kuliahnya, hampir lima tahun. Karena kendala hamil, dan menikah kemarin. Apalagi Arkan yang menginginkan Ariana cuti selama mengandung.
Arkan tersenyum memeluk pinggang istrinya, sembari menggendong Vekran. "Gilang fotoin om dong."
Ariana yang menyadari maksud dari Arkan segera berpose, dan ikut memeluk suaminya. Sementara Vekran ikut tersenyum di antara Arina dan Arkan.
Beberapa mata mahasiswa yang melihat hal tersebut, mereka berbisik bisik, dengan tingkah dosennya yang terkenal dingin.
Arkan memang kembali ikut mengajar, setelah Ariana mulai kembali kuliah. Arkan selalu menjaga istrinya, agar tidak di lirik mahasiswanya. Apalagi setelah Ariana melahirkan Ariana terlihat lebih cantik, dan seksi.
Ariana melakukan berbagai gaya dengan yang lainnya, membuat Armin mencubit pipi Ariana dengan gemas. Bagi Armin baik masa lalu, ataupun kini Ariana tetaplah merupakan adiknya yang menggemaskan.
Setelah puas berfoto di kampus yang sangat ramai, akhirnya mereka memilih untuk ke pulang ke rumah. Di sana sudah ada orang orang yang menunggu mereka.
Sampai nya di rumah, mereka segera melakukan sesi foto lagi. Ini merupakan sesi photo keluarga, dengan Ariana sebagai bintang utamanya. Para anak anak ikut berfoto ria, bersama.
Melly tiba bersama dengan Raya dan Bili. Mereka ikut bergabung dan berfoto bersama.
"Hua..." suara tangisan Melly mengejutkan semua orang.
Bili segera menghampiri anaknya, karena istrinya baru saja berdiri untuk berfoto. "Sayang kenapa?"
"Mel mau foto dengan kak Vekran," Isak Melly membuat semua orang tertawa.
Vekran yang tadinya asyik bermain dengan keponakan, sepupu, dan teman teman jadi berhenti. Vekran memilih untuk menenangkan Melly terlebih dahulu.
Melly tersenyum, ketika Vekran mendekatinya. Semua orang tersenyum melihat hal itu.
"Aduh anakku centil sejak dini ya," celetuk Raya, membuat yang lain tertawa seketika.
Maxim yang mendengar hal itu, sontak mendengus kesal. "Anakku lebih tampan."
"Iya iya, anakku yang cantik mengalah." kata Jasson menimpali, sembari menggendong anaknya yang masih berusia lima bulan di gendongan.
Maxim yang mendengar hal itu, sontak ingin memukul Jasson, sungguh jika bukan karena anak yang di gendongannya.
"Heh... anakku lebih tampan, liat nih bibit nya bibit unggul," kata Ariana tak mau kalah.
"Bibit cabe iya," ejek Maxim, sontak membuat Ariana melemparkan topi toganya ke arah Maxim.
Semua orang melongo, karena meskipun mereka telah memiliki anak, namun mereka tetap saja bertingkah seperti anak kecil. Mereka memang selalu bertengkar, entah itu soal yang penting ataupun tidak.
"Lo ngelempar gue ya," kesal Maxim ke arah Ariana.
"Kalau iya kenapa," tantang Ariana. "Emang tadi kalau bukan lempar apa namanya."
"Awas lo ya, gue jambak sanggul lu," kesal Maxim, mengeluarkan kesalnya.
"Heleh, sini lu kalau berani, biar gue botakin lu," Ariana tak mau kalah.
Bima datang sembari membawa pluit, sembari meniupnya. Seolah mengisyaratkan pertarungan sengit sudah bisa di mulai. Bima tak tanggung tanggung membawa kertas dan pulpen, untuk mencatat skor antara Ariana dan Maxim.
Photographer yang melihat hal itu hanya bisa melongo, sementara yang lain hanya menggeleng. Bahkan di depan anak anak sekali pun mereka akan tetap bertingkah begitu. Bertengkar karena hal yang sepele.
Armin yang datang di tengah tengahnya, seolah menjadi wasit penengah untuk mereka. "Jangan bertengkar sebentar bisa tidak, malu dengan anak anak kalian."
Ariana dan Maxim mengikuti telunjuk Armin, dan melihat anak anak mereka yang menjadikan mereka tontonan. Ariana dan Maxim tersenyum canggung, karena lupa bahwa sudah memiliki momongan.
Mereka berdua tertawa sembari merangkul satu sama lain. "Itu tadi contoh yang tidak baik, nah kalian tidak boleh. Tadi mommy Ana, dan daddy Max cuman ngasih contoh, ga beneran," ujar Ariana.
Maxim mengangguk meng iyakan kata kata Ariana, membuat para anak anak mengangguk, dan kembali melanjutkan aktifitas bermainnya lagi.