It'S Me

It'S Me
capt



Angel dan Daniel saat ini tengah nonton bersama, Daniel saat ini tengah merangkul pundak Angel. Angel meletakkan kepalanya di bahu Daniel. Bak pasangan pengantin baru yang masih mesra mesranya.


"Bee kita beli treadmill yuk," ajak Deniel sembari menggenggam tangan Angel. "Biar bisa olahraga meski di rumah."


Angel tampak berfikir, kemudian menusuk nusuk perutnya. "Iya boleh deh, soalnya perutku takut membesar," kata Angel ambigu.


Daniel mendengar hal itu, sontak membuat otak jahilnya kembali bekerja dan merangsang sarafnya. "Bagus dong sayang," kata Daniel dengan wajah polos.


"Ih bagus dari mananya?" tanya Angel bingung.


"Bagus dong, kalau membesar artinya usaha kita ga sia sia ngadon dedek nya," goda Daniel membuat Angel melotot.


"Ih... dasar sunit mesum!" teriak Angel sembari melempar bantal ke arah wajah Daniel.


Daniel terkekeh mendengarkan teriakan Angel, sungguh wajah Angel sangat menggemaskan jika ia marah. Bagaimana tidak wajahnya akan berubah menjadi merah, jika emosinya tiba tiba naik.


"Ih... kenapa bee, kan enak kalau ngadon dedek, suara kamu juga kedengeran tambah merdu," kembali lagi Daniel menggoda Angel.


"Dasar ya kirain pas duda doang mesumnya kuat, rupanya setelah menjadi alumni duda jurusan genit kelas me*sum bakalan berhenti, eh ternyata malah nambah" cibir Angel.


Mendengar cibiran Angel sontak membuat Daniel semakin tergelak karena tertawa. Menggoda dan menjahili Angel merupakan hal yang menyenangkan, sungguh Angel sangat lucu jika sedang dalam mode kesal.


"Kalau alumni berarti senior dong bee," balas Daniel semakin membuat Angel kesal. "Ah tapi senior bukan apa apa di bandingkan junior bee, kamu tahu ga?"


"Ga tahu, dan ga mau tahu," ketus Angel semakin membuat Daniel tersenyum penuh kemenangan.


"Ini loh bee juniornya, namanya kapten," kata Daniel menuntun tangan Angel ke arah si kapten, sontak membuat Angel segera menarik tangannya.


"Dasar suami kehausan be*la*yan, padahal hampir tiap hari," kesal Angel membuat Daniel semakin terkekeh.


Ponsel Daniel berbunyi, membuat Angel segera memandang ke arah ponsel suaminya. Bukan karena curiga, namun karena nada dering mereka yang sama.


"Cie ngintip, mulai protektif ya," goda Daniel, meskipun sebenarnya ia tahu kenapa Angel mengintip ponselnya.


Angel memutar bola matanya dengan malas, Angel tahu jika di balas Daniel akan terus membalasnya. "Huh..." hanya itu yang lulus dari bibir Angel.


Daniel mengecup puncak kepala Angel, kemudian kembali lagi kepada ponselnya, karena jika tidak maka ia takut kutukan dari ibu malingkundang akan mendarat padanya.


"Halo Bu..." sapa Daniel sembari tersenyum dan memperlihatkan wajahnya dan Angel.


"Halo sayang..." sama Melisa dari ujung sana, terlihat tersenyum secerah mentari. "Kalian kapan ke sini?" tanya Melisa kembali membuat Angel tersenyum cerah.


Angel seperti mendapat sebuah cahaya ilahi, agar dapat keluar dari rumah itu. Sudah hampir dua minggu mereka terkurung di rumah yang bisa di kategorikan elegan tersebut.


"Tidak bisa Bu, kita kan lagi menjalani musim karantina, lagian kami mau fokus sekaligus patuh pada pemerintah," kata Deniel beralasan.


Angel sontak cemberut mendengarkannya, satu pukulan dari bantal kursi. Sukses mendarat di bahu Daniel. Sementara Melisa juga terlihat sedikit kesal dengan ucapan anaknya.


"Ck... dasar kau, memangnya kau mau fokus apa?" tanya Melisa dengan kesal.


Angel mengangguk mengiyakan, sedetik kemudian otaknya tiba tiba terkoneksi dengan maksud dari Daniel. Angel melotot tajam ke arah Daniel, sungguh arahnya tidak jauh jauh dari masalah me*sum.


"Ya apa lagi bu, mau buat cucu untuk mu," kata Daniel nyengir kuda.


Angel mendengus, sudah Angel duga kalau Daniel adalah salah satu makhluk dengan spesialis langkah, dengan kepala penuh dengan seribu satu kata me*sum. Angel menggeleng tak percaya bagaiman mungkin ia jatuh cinta dengan makhluk berotak me*sum.


"Ck... otak mesum," kesal Angel memandang tajam ke arah Daniel.


Daniel terkekeh melihat wajah kesal Angel, Angel segera mengambil alih ponsel tersebut, sebelum Daniel mengatakan hal yang memalukan lagi.


"Lagian kalian bisa mengadon anak juga di sini," celetuk Melisa membuat Angel melongo tak percaya, sementara Daniel semakin tergelak mendengarkan kata kata dari ibunya.


^^^Aih... ternyata ibu dan anak itu sama saja, dan otak mesumnya aku rasa keturunan dari ibu. Angel menggeleng, karena mendengar kata kata dari mulut ibu nya.^^^


"Memangnya di sana bisa memberi kualitas yang baik? Kami di sini memberinya kualitas yang baik, apalagi dari segi waktu," kata Daniel tergelak dengan sangat keras, membuat Angel segera mengambil bantal untuk menutup mulut lemes Daniel.


"Dasar lemes..." teriak Angel menutup bibir Daniel. Tak menghiraukan video call yang masih tersambung. Yang terpenting saat ini, adalah membuat Daniel tutup mulut untuk sementara.


Setelah puas bergelut, akhirnya Angel kembali mengambil ponsel yang masih tersambung. "Halo Bu..." kata Angel dengan rambut ambur adul, karena habis bergulat dengan suaminya yang memiliki mulut lemes.


"Aduh Angel, yang sabar ya dengan anak lemes itu, dia memang anak tak tahu malu," Melisa terkekeh mengingat kelakuan anaknya yang memang mengesalkan.


"Iya bu... karena Angel istri solehah jadi Angel sabar menghadapi suami lemes bin me*sum," kata Angel sembari memandang suaminya dengan sinis.


Melisa tertawa mendengar kan penuturan menantunya, sungguh sebuah pukulan telak untuk anaknya. "Jadi kalian ke sini ya, di sini sepi, satu minggu saja," pinta Melisa.


"Iya ibu kamu kesana nanti," putus Angel tampa meminta persetujuan dari Daniel.


Daniel mengangguk setuju dengan keinginan istrinya. Kemudian ikut menunjukkan wajahnya di hadapan kamera. Daniel tersenyum melihat wajah ibunya, sembari melambaikan tangan nya.


"Iya nanti kami akan ke sana," kata Daniel sembari mematikan sambungan telfonnya.


...----------------...


"Sunit mau?" tanya Angel sembari menyodorkan makanan ke mulut Daniel.


Daniel tersenyum sebentar kemudian menganga, Angel segera memasukkan cemilan tersebut ke dalam mulut Daniel. Daniel memperlambat laju mobilnya ketika sebuah mobil ambulans melewati mereka, Daniel sedikit berkerut karena entah kenapa sejak tadi sudah tiga mobil ambulans yang melewati mereka.


Tak lama kemudian akhirnya mereka sampai di rumah yang di diami Melisa, Daniel segera memarkirkan mobilnya, mereka segera keluar dari dalam mobil. Melisa tampak dari luar sedang menyambut mereka, tiba-tiba sebuah mobil kembali masuk ke dalam pekarangan, membuat Angel sedikit berkerut.


Saat Angel memandangi Daniel, Daniel tampak acuh dan tak peduli terhadap mobil tersebut. Seorang wanita dengan gaya glamor dan bedak yang lumayan tebal turun dari mobil, dan menyapa Daniel.


"Hai Daniel," siapa wanita tersebut dengan sedikit nada manja.


Angel memandang ke arah Daniel, namun Daniel tetap saja diam dan tak menanggapi wanita tersebut. Melisa melihat hal itu menjadi berkerut dan tidak suka, Melisa takut menantunya akan marah dengan hal tersebut.


"Daniel, Angel ayo cepat masuk nak sudah mau magrib takutnya ada wewe gombel," seru Melisa sembari memandang wanita tersebut dengan rasa tidak suka.


Angel yang Mendengar hal itu hampir tertawa dibuatnya, Jika saja wanita itu tidak ada di depannya. Angel tahu betul kepada siapa kata-kata itu ditujukan.


"Ayo bee, saya takut di sini ada makhluk halus," kata Daniel sembari menggandeng Angel, tanpa mempedulikan wanita tersebut.


"Permisi tante..." kata Angel seolah sopan kepada wanita tersebut, padahal dalam hati ia hampir kelepasan menertawai wanita tersebut.


Angel bukan makhluk yang sangat polos seperti yang diceritakan novel-novel, dimana sang pemeran wanita sangat ramah, dan berfikiran selalu positif kepada setiap orang. Angel tahu jelas siapa wanita ini. Wanita ini pasti ingin menggoda suaminya, dan menjadi salah satu tokoh antagonis di dalam sebuah film ataupun novel.


"Bee kamu bicara dengan siapa?" tanya Deniel seolah wanita yang barusan tadi tidak terlihat.


"Ah sunit... aku kira sekarang aku punya kemampuan indra keenam," kata Angel membuat Deniel dan Melisa terkekeh.


"Hey..." wanita itu tidak terima dengan apa yang dikatakan Angel.


"Tu kan... sepertinya di rumah ini dan di rumah sana harus diberi taburkan garam, karena katanya makhluk halus dan ular akan menjauh ketika tempat kita dikelilingi oleh garam," kata Angel mengacuhkan wanita tersebut, namun dalam waktu bersamaan juga membuat wanita tersebut menggeram kesal.


"Ah benarkah, nanti akan saya katakan dengan bi Minah untuk menaburkannya," kata Deniel menimpali. Mereka bertiga seolah tidak menganggap wanita tersebut, tetapi dalam waktu bersamaan menghina wanita itu secara terang-terangan. Daniel sungguh tak suka dengan sikap wanita itu, Daniel tahu apa yang akan wanita itu lakukan kepada Angel. Untung saja istri cantiknya ini cerdas dan juga dewasa.


Wanita itu mendengus kesal dan meninggalkan tempat tersebut, wanita itu segera masuk ke dalam mobil dan segera menjauh dari kediaman mereka. Dari dulu hingga sekarang, Daniel dan Melisa memang tidak pernah menerimanya, namun bagaiman pula cintanya memaksanya untuk terus mengejar.


Setelah kepergian wanita itu mereka bertiga segera masuk, Melisa mempersilahkan mereka berdua untuk duduk di ruang keluarga, sementara Melisa meminta asisten rumah tangganya mba Maya untuk mengambil minuman untuk mereka bertiga. Daniel meletakkan kue kesukaan ibunya di meja.


"Angel kamu harus hati hati sama cewek siluman ular sanca tadi, berbisa," kata Melisa membuka pembicaraan semabari berbicara penuh arti dengan Angel.


Angel yang mengerti akan hal itu segera mengangguk, dan tersenyum. Angel tahu apa yang membuat wanita itu terdiam mundur. "Santai lah bu, siluman jelmaan wewe gombel itu ga ada apa apanya di banding Angel yang imut dan cantik ini," kata Angel membanggakan dirinya, sontak membuat Melisa tergelak.


Melisa tahu sejak awal, dirinya dan menantunya ini satu server. Sementara Daniel? Sudah merasakan hawa hawa penindasan yang akan ibunya ajarkan kepada istri tercintanya.


"Nak kalau itu cewek datang lagi, timpuk aja pake apa aja, kalau perlu batu alam sekalian, biar ga timbul timbul lagi," kata Melisa mulai menggurui menantunya.


Angel mangangguk mengerti maksud mertuanya, Angel memasang wajah serius seolah itu adalah sesuatu hal yang harus di ingat selamanya.


"Nah kalau dia nakal jangan kasih jatah selama seminggu kalau perlu satu bulan, biar dia tahu rasa," kata Melisa kembali, sembari menunjuk ke arah Daniel, sontak menbuat Daniel bergidik ngeri mendengarkannya.


Daniel memandang Angel yang saat ini masih mangut mangut, membuatnya semakin merasa dalam bahaya besar. "Ih ibu apa apaan sih? Daniel ini sudah menjadi suami tersoleha sejagat raya ini loh..." protes dari Daniel tak terima dengan apa yang ibunya katakan. Bisa bisa kaptennya dalam bahaya.


^^^Dasar ibu tiri Sangkuriang, berani sekali dia mengajarkan Angel yang berbahaya bagi kelangsungan hidup si kapten. Kesal Daniel.^^^


"Eh kan kalau, kedepannya siapa yang tahu," kata Melisa enteng sontak membuat Angel mengangguk.


"Bee jangan ngangguk ngangguk aja ya, nanti jadi burung platuk," kesal Daniel kepada istrinya. "Lagian ibu ga takut apa kalau ga dapat cucu? Lagian kan harus terus berusaha, biar dedek yang di adon-nya bisa jadi."


Daniel memandang Angel dengan kerlingan mesumnya. Sontak membuat Angel menggeleng, memang benar firasatnya kedua anak dan ibu ini pembicaraannya memang tidak jauh dari ini.


^^^Ck... mereka memang sangat pantas di sebut anak dan ibu, kekompakan mereka memang masuk kategori kekompakan haqiqi, tetapi hanya dalam satu bidang, yaitu bidang ke me*sum-man. Kata Angel sungguh tak percaya akan hal itu.^^^


"Sayang jangan di pikirin tentang adonan baby nya, kita akan terus mencoba kok," kata Daniel dengan kerlingan me*sum-nya.


"Ck... aku rasa otak kamu sunit bermasalah, sepertinya kita perlu mengadakan yasinan deh Bu," kata Angel membuat Melisa terkikik, sementara Daniel melotot tak percaya.


"Untuk apa bee?" tanya Daniel tak terima dengan perkataan istrinya.


"Untuk minta air Yasin, terus buat kamu minum biar otak kamu jernih lagi dari hal hal yang berbau me*sum," kata Angel santai. "Nih ya bu... Angel ini suka pusing dengan anak ibu ini, masa pikirannya ga jauh jauh dari hal yang berbau me*sum, Angel khawatir kalau waktu kuliah dulu dia salah ngambil jurusan, dia ngambil jurusan biologi bagian alat reproduksinya saja," kesal Angel sembari melihat suaminya.


Tawa Melisa pecah mendengarkan ledekan Angel kepada anaknya, sungguh hanya Angel yang membuat anaknya yang tak mau kalah ini, kehabisan kata kata.


Sementara Daniel mendengar kan hal itu hanya mampu menganga tak percaya dengan ucapan Angel. Sepertinya kali ini dia memang mengambil menantu yang tepat untuk ibunya, sungguh satu server dengan ibunya, yang akan mampu membuatnya menganga kehabisan kata kata.


Melisa melihat anaknya yang menganga, segera menimpuki mulut anaknya dengan bantal sofa, sontak membuat Daniel semakin terkejut. Melihat hal itu, kedua wanita yang menyebalkan itu sontak terkekeh, dan menertawainya. Kedua wanita yang sangat menyebalkan si*al-nya justru sangat ia sayangi.


^^^Hadeh nasib nasib punya istri dan ibu satu pemikiran, bikin pusing. Kesal Daniel hanya bisa mengeluh di dalam hati, sembari mengusap dadanya.^^^


"Atur jadwal aja, kapan kita bisanya. Ah... sayang sekarang lagi corona, kalau ga malam ini juga ibu adakan, biar nanti cucu ibu pikirannya tak seperti bapaknya," kata Melisa semakin mengompori keadaan.


"Ibu..." kesal Daniel menimpuki kepala istrinya dengan bantal sofa, karena tak mungkin ia melempar kepada ibunya.