
Mereka berdua tertawa sembari merangkul satu sama lain. "Itu tadi contoh yang tidak baik, nah kalian tidak boleh. Tadi mommy Ana, dan daddy Max cuman ngasih contoh, ga beneran," ujar Ariana.
Maxim mengangguk meng iyakan kata kata Ariana, membuat para anak anak mengangguk, dan kembali melanjutkan aktifitas bermainnya lagi.
...----------------...
Bunyi alarm membangunkan Ariana, Ariana bangun dan segera menyingkirkan tangan Vekran, Ariana tersenyum ketika melihat Vekran masih tertidur lelap.
"Dasar, curang sekali tidur pun masih kelihatan tampannya," monolog Ariana sembari tersenyum mengusap lembut wajah suaminya.
Setelah puas mengusap wajah suaminya, Ariana segera turun dari tempat tidur nya. Ariana segera menuju kamar mandi, Ariana segera menghidupkan shower menikmati air yang menerpa kulitnya. Setelah lima belas menit Ariana akhirnya selesai mandi, Ariana segera keluar menggunakan handuk kimononya. Ariana kemudian membangunkan Vekran yang saat ini masih terlelap.
"Mas bangun," kata Ariana sembari mengusap handuk kecil di rambutnya.
Karena merasa terganggu, akhirny Arkan bangun dan melihat istrinya yang telah selesai mandi. Wangi sabun yang ditimbulkan oleh sabun yang ia pakai, selalu membuatnya nyaman. Apalagi jika di pakai oleh sang istri, entah kenapa itu akan membuatnya lebih nyaman lagi.
"Sayang, selamat pagi," sapa Arkan kepada istrinya, Arkan selalu terpesona melihat wajah polos tampa polesan bedak sang istri.
"Ayo bangun Mas, nanti telat loh," kata Ariana sembari menarik tangan suaminya yang terlihat enggan untuk bangun.
"Sayang kiss morning nya dulu..." pinta Arkan sembari memonyongkan bibirnya.
Arian terkekeh melihat tingkah suaminya, yang selalu manja di pagi hari. "Dasar big baby."
Ariana duduk di samping Akran yang masih enggan untuk bangun, Ariana kemudian merebahkan badannya, dan segera mengecup bibir Arkan. Rencana awal hanya ingin singkat, namun telah di batalkan oleh suaminya, Arkan menekan tengkuk Ariana lebih lama.
Arkan me*lu*mat lembut bibir Ariana, yang selalu membuatnya candu, bagi Arkan Ariana adalah cinta pertamanya dan akan selamanya.
Setelah kehabisan nafas, keduanya melepaskan pa*ngu*tan tersebut. Arkan bangun dan segera menuju ke kamar mandi, meninggalkan Ariana di dalam kamar.
Ariana segera memakai baju, lalu Ariana menyiapkan baju untuk suaminya. Setelah itu Arian segera ke kamar Vekran, karena ini hari pertama Vekran masuk sekolah. Jadi Ariana mempersiapkan baju untuk Vekran.
"Sayang bangun..." kata Ariana sembari mengusap lembut pipi anaknya.
"Masih ngantuk Mom," keluh Vekran, masih enggan untuk membuka matanya.
Ariana tersenyum. "Sayang bangun dong, ini sudah siang," kali ini Ariana mencubit pelan pipi Vekran. "Sayang ingat ini hari pertama kamu sekolah loh."
Mendengar penuturan Mommy nya Vekran segera beranjak dari tempat tidur. Vekran beranjak ke kamar mandi dengan semangat.
"Hati hati sayang," kata Ariana tersenyum ke arah Vekran. "Sayang mau di mandiin?"
"Ga usah mah, Vekran udah besar," teriak Vekran dari kamar mandi.
Ariana mempersiapkan baju untuk Vekran, sementara Vekran baru saja keluar dari kamar mandi. Vekran tersenyum melihat seragam TK nya, kemudian memakainya dengan semangat.
Arkan tiba-tiba datang dari belakang, untuk melihat anaknya yang tengah bersiap berangkat ke sekolahnya.
"Daddy, nanti mommy sama Daddy ngantar Vekran kan ke sekolah?" tanya Vekran dengan penuh semangat.
"Hm... Vekran kan anak Daddy, jadi harua di anterin dong," kata Arkan mengeringkan rambut Vekran.
"Ya sudah, Daddy dan anak mommy, mommy turun ke bawah dulu ya, mau nyiapin sarapan," kata Ariana, langsung diangguki berdua ayah dan anak tersebut.
Ariana segera turun dan mempersiapkan sarapan, untuk mereka sekeluarga. Arian tersenyum ketika Farid datang dan mendudukkan pantatnya di meja makan.
Arkan turun dari tangga, dan memeluk Arian dari arah belakang, tampa memperdulikan gelengan Farid.
Farid memang sudah terbiasa melihat hal itu, membuatnya menggeleng, dan juga tersenyum dalam waktu bersamaan. Farid hanya berharap rumah tangga anaknya, akan terus berada dalam keadaan langgeng.
Arkan membuat Ariana segera memandang ke arah belakang. Ariana tersenyum kemudian merespon pelukan suaminya, dengan mengusap lembut tangan suaminya yang tengah memeluknya.
"Mas, ini mau nata makanan dulu," kata Ariana sembari, mencoba melepaskan pelukan dari Arkan.
"Pagi mom, dad, kakek..." panggil Vekran yang baru turun dari lantai dua.
Semua orang tersenyum melihat kedatangan Vekran, terutama Farid yang merasa sangat bahagia, saat lihat cucu bungsunya sudah rapi mengenakan pakaian seragam TK.
"Cucu kakek, sudah besar ya. Sini peluk kakek dulu," kata Farid sembari merentangkan tangan tuanya ke arah Vekran.
Vekran dengan senang hati meluncur ke arah Farid untuk menyambut pelukan kakeknya. "Iya dong Kek, coba lihat background sudah pakai baju seragam sekolah!" seru Vekran dengan penuh semangat.
"Ya sudah cucu kakek yang sudah besar ini ayo makan dulu," kata Farid segera membawa Vekran ke meja makan. "Aduh Vekran mereka tambah besar ya, sekarang tambah berat malah."
Vekran terkekeh bahagia mendengar pernyataan dari kakeknya, "Iya kek biar kayak Daddy." kata vekran dengan semangat. "Ah biar kayak uncle, sama abang Gilang dan Andre," lanjut Vekran dengan semangat.
"Kek kalau Vekran besar bisa kaya abang Gilang sama Abang Andre nggak?" tanya Vekran menanyakan kedua keponakan dari Daddy nya. Yang lebih tepatnya seperti pamannya.
Vekran memiliki nasib yang sama seperti Daddy nya, Yang memiliki keponakan, yang hampir seumuran dengannya. Atau lebih tepatnya hanya berbeda satu tahun.
Mereka bahkan terkadang hanya memanggil Vekran dengan sebutan nama, bukan dengan sebutan Om. Hal itu terjadi karena umur mereka yang cenderung sama, sehingga jika di depan umum mereka lebih terlihat seperti kakak beradik.
Terlebih lagi Vekran dan kedua ponakannya tumbuh bersama, sehingga mereka tak tampak seperti keponakan dan Paman.
Setelah makan, Vekran, Ariana dan Arkan pamit dengan Farid. Mereka bertiga telah bersiap-siap untuk pergi ke sekolah Vekran terlebih dahulu, mereka bertiga segera menyalami Farid, kemudian segera masuk ke dalam mobil yang mereka tumpangi.
Ariana dan Arkan tersenyum melihat Vekran, yang terlihat begitu bersemangat saat setengah di dalam mobil. Vekran bahkan beberapa kali bernyanyi sembari melihat melihat keluar jendela.
"Daddy nanti di sana Vekran bakal punya banyak teman kan?" tanya Vekran bersemangat.
"Iya sayang, ingat tetap renda hati, jangan menjahili teman, rukun dengan teman, dan jangan sombong," kata Ariana diikuti dengan Vekran.
Arkan tersenyum melihat istrinya yang tengah mengajarkan anaknya tentang kepribadian, Arkan sangat bahagia memiliki istri seperti Ariana. Membesarkan anak, dan mengajarkan anak agar tetap menghargai satu sama lain, merupakan hal yang sulit. Apalagi dengan keadaan mereka, Ariana masih sempat mengajarkan Vekran, meski pekerjaan kantornya masih banyak. Itulah yang membuat Arkan tambah mencintai istrinya, Arkan tak bisa membayangkan akan hidup tampa dirinya.
Bahkan saat Arkan ada pekerjaan di luar kota, Ariana harus ikut, karena Ariana merupakan sekertaris pribadi Arkan. Karena tak ingin meninggalkan Vekran maka Ariana berinisiatif membawa Vekran untuk ikut bersamanya.
Bahkan ketika akan meninggalkan kediaman Candana, Ariana bahkan mengantarkan Farid ke rumah kakaknya, dan mempersiapkan semua keperluan untuk Farid.
Ketika mereka sampai di sekolah Vekran, mereka bertiga segera turun dan masuk ke kelas Vekran. Ariana dan Arkan mengantar Vekran, kemudian setelah memastikan Vekran baik baik saja, mereka segera kembali ke mobil, dan berangkat ke kantor.
Vekran tersenyum ketika melihat tingkah istrinya yang menggemaskan, sedang berbicara tentang jadwal Vekran akan di jemput kepada supir mereka. Sikap Ariana memang protektif, namun tidak memanjakan. Catat hanya protektif.
Ariana takut kejadiannya dulu terulang kembali, saat dirinya tengah pulang dari sekolah di. Ia malah di culik, oleh saingan bisnis perusahaan Daddy-nya. Jika mengingat hal itu, sungguh Ariana bergidik ngeri.
"Mas bodyguard kita tetap ada yang berjaga untuk menjaga Arkan kan dari kejauhan?" tanya Ariana khawatir.
Arkan tersenyum kemudian mengangguk. Arkan segera memeluk Ariana, yang terlihat sedikit gelisah. "Tenang semua akan baik baik saja, kejadian di masa lalu kamu, tidak akan terulang lagi."
Ariana mengangguk mendengarkan penuturan dari Arkan yang menenangkan. Tak ada kenyamanan dan ketenangan seperti ini, kecuali jika bersama dengan Arkan. Ariana bahkan merasa aman, dan tentram ketika di peluk oleh suaminya.
"Makasih mas," kata Ariana sembari tersenyum kearah Arkan.
Tak lama kemudian mereka sampai di parkiran perkantoran, Arkan dan Ariana segera turun dari mobil mereka. Seperti biasa mereka selalu menjadi sorotan utama, terlebih lagi mereka terlihat sangat serasi.
Mereka melenggang masuk ke dalam ruangan mereka, Ariana dan Arkan memang berada di dalam satu ruangan. Karena Mariana merupakan sekretaris pribadi dari Arkan.
"Mas lima menit lagi ada rapat," kata Ariana sembari memegang buku jadwal dari Arkan.
"Iya sayang istri sekaligus sekertaris ku," kata Arkan menggoda Ariana. "Kamu memang sekertaris ter the best, sudah hebat dalam pekerjaan, hebat dalam hal rumah tangga, dan ini yang paling hebat..." Kata Barca sengaja menggantungkan kata-katanya, agar sang istri penasaran.
"Hebat dalam apaan mas?" tanya Ariana penasaran, karena Arkan sengaja menggantung kata-katanya.
"Paling hebat urusan ranjang," bisik Arkan membuat Ariana memerah. "Nah ini lah di sebut sekertaris kesayangan sempanjangan masa."
...----------------...
Hi terimakasih telah membaca novel ini, jangan lupa like, Comment, dan beri tanda suka.
Hai author mau promosi nih novel baru autor duda genit, bagi yang penasaran dan suka gendre romantis dan komedi yuk baca novel duda genit.
"Dunit..." tegur Angel, menyadarkan Daniel.
Daniel segera mengalihkan pandangannya, ke arah lain. Daniel terkejut, melihat beberapa pria memandang Angel, dengan pandangan yang tak biasa. Ya Daniel jelas tahu, pandangan tersebut, adalah pandangan lapar para lelaki hidung belang.
"Sayang, ganti sekarang," perintah Daniel, mebuat Angel segera memasuki ruang ganti.
Setelah Angel memasuki ruang ganti, Daniel segera berbicara dengan pelayan tersebut. "Bungkus semuanya," kata Daniel kepada pelayan tersebut. "Ah... carikan jas, celana, dan sepatu wanita yang senada dengan setiap gaun tersebut."
Pelayan tersebut mengangguk, dan mengiyakan perintah Daniel. Kemudian meninggalkan Daniel. Setelah Angel keluar dari ruangan ganti, Daniel segera memeluk Angel posesif, karena kesal dengan pandangan pria pria itu.
"Dunit kenapa?" tanya Angel bingung dengan perlakuan Daniel.
"Biar mereka tahu, kamu itu pacar, sekaligus calon istri saya," kata Daniel segera menggandeng Angel, serta melindungi Angel dari tatapan mata para pria, yang berada di tempat itu.
Tak lama kemudian sampai pada tujuan, Daniel segera mengajak Angel keluar. Daniel menuntun Angel ke sebuah taman yang gelap, kemudia mendudukkan Angel di sebuah bangku taman.
Daniel kemudian memberi kode kepada para pelayan, membuat merek segera menghidupkan lampu. Di taman tersebut, terdapat sebuah tulisan 'will you marry me' membuat Angel tertegun.
"Sayang, mungkin kata kata ga akan pernah mampu untuk menggambarkan rasa cinta saya ke kamu. Namun ini merupakan penuturan rasa cinta saya kepada kamu, dengan setulus tulusnya," kata kata Daniel sedikit terhenti. "Sayang, sudihkah engkau menjadi istri saya, pendaping saya seumur hidupmu, serta pelengkap kekurangan saya."
Angel mengangguk, sembari menitihkan air matanya, kemudian memeluk Daniel. "Iya aku mau."
"Hah cepat banget," tanya Angel semakin bingung.
"Sini sayang," kata Denny tersenyum ke arah Angel, membuat Angel mendekati Denny.
Angel berdiri di samping Denny, sembari tersenyum dan mengusap perut Angel. "Papi akan menjadi kakek ya?" kata Denny sembari tersenyum.
"Ya iyalah, kan kak Laura sebentar lagi melahirkan," kata Angel bingung. "Lagian ngapain coba papi ngusap perut Angel? Emang Angel hamil?" tanya Angel.
"Iya kamu hamil, lalu apa lagi? Sudah berapa lama kamu berhubungan badan dengan laki laki bere*ngsek itu?" tanya Aldo kesal.
"Maksud Daddy apa ngomong gitu? Angel bahkan belum ngapa ngapain," kata Angel dengan mata yang berkaca kaca.
"Lalu ini apa?" kesal Aldo, tak lagi sanggup memandang wajah putihnya.
"Dunit jelasin..." teriak Angel, segera masuk ke dalam kamar.
Angel benar benar terkejut dengan tuduhan tersebut, Angel memang pernah hampir kebablasan saat bermalam dengan Daniel, namun tak sampai melakukan hal lain.
"Jadi begini dad..._" Daniel menceritaka semua kejadian yang sesungguhnya. "Tapi Daddy sudah janji, jadi tetap harus di pegang janjinya."
Denny kali ini maju dan menghadiahkan bogem mentah di pipi Daniel, karena merasa tertipu dengan ulah Daniel. Namun Daniel tampak tak menghiraukan nya.
"Ya kau menang sekarang, dan temui lah Angel yang pasti sedang menangis," kata Denny segera duduk di samping abangnya.
"Nih..." kata Aska menyodorkan kota p3k kepada Daniel.
"Thanks," kata Daniel sembari mengambil obat tersebut, kemudian melangkah kan kaki ke kamar Angel.
Penasaran selanjutnya, kyukbaca duda genit, dengan cover dan cerita yang menarik.
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanyak banyaknya telah mendukung, dengan memberikan like, dan comment, maafkan atas kesalaham di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemic covid 19 ini. Ingat pesan ibu.