
Tok.
Tok.
Tok.
Ketukan puntu terdengar dari luar, sontak mengejutkan semua orang yang ada di dalam.
“Maaf tuan tuan dan nona muda, makanan telah siap.” Kata pelayan tersebut dan di susul beberapa pelayan yang mengantarkan makanan untuk mereka.
“Ah… terimakasih kakak kakak cantik.” Kata Gu Ana sambil tersenyum kepada para pelayan.
Mendengar hal tersebut mereka mengangguk dan pamit undur diri.
“Itu sudah kewajiban kami nona, kalau begitu kami pamit undur diri.” Kata pelayan tersebut, kemudian keluar dari ruangan tersebut dan menutup pintunya.
…
Setelah mereka semua selesai makan mereka semua memutuskan untuk kembali ke kediaman keluarga Gu, mereka berencana akan bermalam di sana, karna ini sudah terlalu malam. Mereka semua menaiki kuda masing masing, dan menuju kediaman Gu.
Sesampainya mereka di kediaman keluaga Gu, merka menuju ke pafilium yang telah ditunjukkan dan di temani oleh para dayang. Sementara pangeran Zang Limo sudah mengekori Gu Ana ke dalam pafilumnya. Karna mereka terlalu lelah malam itu kemudian mereka terlelap ke dalam mimpi mereka masing masing.
Pagi hari menyingsing, kini mereka telah berkumpul di gazebo taman belakang kediaman keluarga Gu, semua masih terlihat lelah, seperti kurang tidur semalam. Gu Ana sendiri tidak bisa tidur semalam karna pangeran Zang Limo yang tidak bisa tidur, karna terbangun selalu bermimpi tentang rumah hantu itu terus.
“Maaf sebenarnya pangeran Zang Jade, pangeran Zang Handrong, pangeran Zang Limo, pangeran Nan Cheng, dan anak anak ayah kenapa kalian seperti kekurangan tidur semalam?” tanya tuan Gu kepada mereka semua.
“Aku tidak bisa tidur, aku tidak tahu ada apa dengan mereka.” Kata Gu Ana menjawab cepat pertanyaan dari tuan Gu.
Mendengar pernyataan dari Gu Ana membuat tuan Gu menjadi curiga, dan berfikir yang tidak tidak.
“An’er apa yang membuatmu tak bisa tidur?” tanya tuan Gu kepada Gu Ana, dengan pandangan menyelidiki.
“Ayah jangan tanyakan kepadaku, tanyakan dengan Limo, kenapa tadi malam dia begitu gelisah sehingga membuatku tidak bisa tidur.” Kata Gu Ana sambil menguap.
Mendengar jawaban Gu Ana sontak membuat tuan Gu sedikit lega, karna mengira telah terjadi sesuatu di antara mereka sebelum sah menjadi sepasang suami istri.
“Aku mimpi buruk terus semalam.” Jujur pangeran Zang Limo.
“Ya aku juga mimpi buruk terus selama semalaman.” Kata pangeran Zang Jade.
“Ya aku juga.” Kata pangeran Zang Handrong.
“Aku juga.” Kata pangeran Nan Cheng.
“Aku juga.” Kata Gu Min.
“Aku juga.” Kata Gu Jun.
Mendengar hal tersebut tuan Gu keheranan dengan mereka bagaimana mungkin mereka memiliki mimpi buruk yang bersamaan saat mera telah tiba disini.
“Bagaiman mungkin kalian bisa mimpi buruk secara bersamaan?” tanya Tuan Gu bingung. Karna tak kunjung mendapatkan jawaban tuan Gu memilih meninggalkan mereka. “Panjaga segera panggilkan pendeta Sho kemari.” Kata tuan Gu kepada penjaga, karna khawatir dengan kediamannya.
Setelah tuan Gu pergi, mereka semua memandang Gu Ana yang terlihat sangat mengantuk dan bersandar di bahu pangeran Zang Limo.
“An’er, apa hanya kau yang tidak bermimpi?” tanya Gu Min penasaran.
“Bagaimana mungkin? Kau juga terlihat biasa saja semalam, dank au mengatakan bahwa mereka tidak menyeramkan, ada apa sebenarnya?” tanay pangeran Zang Handrong.
Namun bukan jawaban yang Gu Ana beikan, justru hanya deheman yang keluar.
“Karna terkadang An’er bisa melihat merek dengan jelas.” Kata pangeran Nan Cheng sontak membuat mereka terkejut kecuali Gu Min dan Gu Jun.
Karna terlalu kaget mendengar pernyataan dari pangera Nan Cheng, hingga membuat kantuk mereka membentak meja, sedangkan pangeran Zang Limo refleks begrerak hingga membuat Gu Ana terjatuh ke lantai.
“Limo kenapa kau bergerak?” Tanya Gu Ana kesal karna kepalanya terbentur kelantai sehingga membuat kantuknya hilang seketika.
“An’er, kau kadang kadang bisa melihat mereka dengan jelas?” tanya pangeran Zang Limo.
Mendengar pertanyaan pangeran Zang Limo Gu Ana mengerutkan keningnya karna tidak mengerti maksud pangeran Zang Limo.
“Melihat apa?” kata Gu Ana sambil mengusap wajahnya.
“Mereka.” Kata pangeran Zang Limo.
“Mereka siapa? Para dayang? Atau siapa? Kalian membicarakan apa sih?” tanya Gu Ana semakin bingung dengan pembicaraan mereka.
“Hantu.” Kata pangeran Zang Handrong.
“Mana? Tidak ada.” Kata Gu Ana sambil melihat sekeliling.
“Jadi benar ya kau bisa melihat mereka?” tanya pangeran Zang Jade antusias.
“Terkadang bisa melihat, terkadang bisa mendengar.” Jujur Gu Ana.
Pernyataan Gu Ana mengejutkan semua orang, bagaiman tidak Gu Ana dengan santainya menagkui hal itu.
“Apa di istana ada juga?” tanya pangeran Zang Handrong wanti wanti.
Mendengar pertanyaan Zang Handrong membuat Gu Ana menaikkan sebelah alisnya.
“Gege Handrong kan aku bilang kadang kadang, tidak terus terusan. Lagian aku melihat mereka hanya karna kesialan saja.” Kata Gu Ana menjelaskan.
“Apa kau bisa menjelaskan bgaiman wajah mereka?” tanya pangeran Zang Limo penasaran.
“Berbagai macam, tapi yang sering aku lihat, mereka seperti manusia biasa, namun lebih pucat dan berwajah datar, terkadang mereka berwarna merah darah, dan menjulurkan lidahnya hingga keperut, terkadang merek setinggi anak kecil terkadang mereka setinggi pohon itu.” Kata Gu Ana menjelaskan sambil menunjuk sebuah pohon besar yang ada di dekat mereka.
Mendengar penuturan Gu Ana sontak membuat mereka merinding, karna ternyata yang mereka lihat tadi malam tidak ada apa apanya.
“Lalu bagaiman dengan suaranya?” tanya pangeran Zang Handrong dengan sangat antusisas.
Mendengar pertanyaan pangeran Zang Handrong membuat Gu Ana mengingat bagaiman seramnya tawa sebuah kunti yang tak sengaja tersengar saat di dunia modern, saat tengah menjalankan misi di salah satu pulau pribadi yang ada di Indonesia.
“Aku lebih baik melihat dari dari pada mendengar, kalian tahu saat aku tengah pergi ke suatu tempat yang sangat terpencil di daerah tersebut, aku mendengar tawa seorang wanita yang sangat menakutkan, kemudian tawa itu berangsur angsur berubah menjadi tangisan yang sangat pilu, itu sangat menyeramkan, karna dia tertawa dan menangis di saat yang bersamaan dan terdengar sangat dekat, namun di saat yang bersamaan juga tidak ada.” Kata Gu Ana sambil bergidik ngeri ketika mengingat hal itu.
“Kau melihat mereka sangat dekat atau jauh?” tanya pangeran Zang Handrong kembali.
“Terkadang aku melihat mereka dari dekat, contohnya saja saat aku berkunjuk ketempat lain, aku berbaring di tempat tidurku, saat itu entah kenapa aku sangat ingin tidur lebih cepat, namun tiba tiba di tengah malam aku terbangun dan mendapati seorang wanita sedang berada di atasku, mungkin jaraknya setengah meter. Wanita intu berwajah datar, dan pucat, tidak ada senyum di wajahnya, hanya saja matanya terus memandangku, rambutnya pendek sebahu, dan mengenakan baju putih. Dan pada saat malam menyingsing, matahari baru saja tenggelam aku melihat seorang wanita berdiri dengan setinggi tempat tersebut, tengah melihat ku sambil mengeluarkan lidahnya hingga keperut, karna terkejut, aku mengalihkan pandanganku, pada saat padanganku kembali makhluk itu sudah tidak ada lagi.” Kata Gu Ana membayangkan sambil menceritakan pengalamannya.