It'S Me

It'S Me
Episode 47....



Setelah pangeran Zang Limo makan siang di kamar Gu Ana, pangeran segera membuka gulungan satu persatu untuk Ia kerjakan, kali ini Ia bertekat akan berda di samping Gu Ana. Ia merasa harus memastikan keselamatan Gadis yang Ia cintai hingga tidak ada kesempatan bagi orang lain untuk menyakitinya.


Tiba-tiba pintu kamar Gu Ana terbuka, sehingga membuat pangeran Zang Limo menghentikan aktifitasnya untuk membaca gulungan keduanya. Pangeran Zang Limo melihat kearah pintu yang terbuka, terpampang nyata Tuan Gu sedang berdiri di ambang pintu. Lelaki itu kini terlihat sangat rapuh, padahal dulu Ia sering menampilkan aura ketegasan, dan kebijaksanaan yang membuat orang-orang menaruh hormat segan kepadanya.


Saat tuan Gu mengantar tabib Long, Ia merasa sedikit pusing di kepalanya, sehingga memutuskan kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Setelah tuan Gu terbangun dari tidurnya, tuan Gu segera menuju kamar putri tunggalnya Gu Ana, Ia terkesan sedikit terburu-buru saat menuju kamar anaknya, raut wajah khawatir begitu jelas di wajahnya sehingga membuat orang-orang segan untuk hanya sekedar melihatnya.


Tuan Gu sedikit terkejut melihat pintu kamar Gu Ana telah diperbaiki, Ia mengiri Gu Min lah yang telah memperbaikinya, jadi dengan santainya Ia masuk ke dalam kamar Gu Ana.


Alangkah terkejutnya tuan Gu saat membuka pintu kamar Gu Ana, karna ternyata pangeran Zang Limo tengah duduk sambil memandang ke arahnya.


“Ah… pangeran anda disini?” tanya tuan Gu berbasa basi kepada pangeran Zang Limo.


“Aku hanya ingin menjaga Gu Ana, jadi Ayah jangan khawatir.” Kata pangeran Zang Limo kepada tuan Gu.


“Ayah?” batin tuan Gu, sejenak tuan Gu terdiam mendengarkan kata-kata pangeran Zang Limo, kemudian ingatannya kembali melayang sesaat sebelum pangeran Zang Limo mendobrak paksa pintu anaknya, saat itu pangeran Zang Limo juga memanggilnya dengan sebutan Ayah.


Saat memikirkan itu semua, pandangannya beralih kepada pintu yang telah diperbaiki. Kemudian tuan Gu tersenyum samar memadangi pintu kamar Gu Ana yang telah diperbaiki. Kini Ia bisa tenang dengan menunangkan pangeran Zang Limo kepada putri satu-satunya yang Ia miliki.


“Ayah, apa kau baik-baik saja? Wajahmu terlihat pucat.” Tanya pangeran Zang Limo kepada tuan Gu.


“Tidak apa-apa, hamba baik-baik saja, maaf merepotkan pangeran sehingga harus menjaga An’er.” Kata tuan Gu dengan senyum yang tulus.


“Tidak apa-apa aku memang harus menjaganya, Dia adalah tunanganku, calon permaisuriku. Sudah jelas aku harus menjaganya.” Kata pangeran Zang Limo sambil tersenyum kearah tuan Gu.


Terlihat jelas senyum tulus dari pangeran Zang Limo kepada tuan Gu, nampaknya pangeran Zang Limo benar-benar serius dengan ucapannya.


“Ayah, kembalilah kau harus istirahat, wajahmu pucat, kau boleh mempercayakan An’er kepadaku.” Kata pangeran Zang Limo mengkhawatirkan tuan Gu.


“Terimakasih pangeran.” Ucap tuan Gu berlalu pergi, dan kembali ke kamarnya.


Setelah tuan Gu pergi pangeran Zang Limo kembali menutup pintu kamar Gu Ana, setelah menutup pintu pangeran melangkah kembali menuju meja yang terdapat gulungan-gulungan pekerjaannya, namun langkahnya terhenti ketika pangeran Zang Limo melihat sebuah buku dari meja rias Gu Ana. Pangran melangkahkan kakinya ke arah buku tersebut, dan membuka setiap lebaran. Pangeran Zang Limo bingung kenapa setiap buku itu terdapat gambar beberapa orang yang tak Ia kenal, pakaian dan gaya rambut yang sangat aneh dimatanya, serta tulisannya sungguh aneh dimata pangeran Zang Limo, semua belum pernah pangeran Zang Limo lihat.


Namun yang pangeran Zang Limo kesalkan adalah ketika melihat seluruh Gambar yang Gu Ana lukisan adalah laki-laki yang cukup tampan, walaupun ada yang terlihat cukup tua, ditambah lagi ternyata ada lukisan pangeran Nan Cheng dengan pakaian, dan gaya rambut yang berbeda juga ada.


“Bagaimana mungkin, bahkan aku, saudara laki-laki, serta ayahnya saja tak ada di dalam buku ini, tapi di sini dipenuhi oleh wajah laki-laki, apa aku kurang tampan untuk An’er.” Guman pangeran Zang Limo kesal, sambil menatap wajahnya di cermin.


Saat menatap wajahnya di cermin pangeran Zang Limo merasa wajahnya tak kalah tampan dengan yang ada di dalam buku tersebut.


Karna terlalu kesal, akhirnya pangeran Zang Limo membanting buku itu dengan kesal di atas meja rias Gu Ana. Namun saat membantingnya, buku tersebut justru terbuka menampilkan wajah pangeran Zang Limo yang sedang tertawa. Pangeran Zang Limo tertegun melihat gambar dirinya yang sedang tertawa. Pangeran Zang Limo kembali meraih buku tersebut, senyumnya kini mengembang. Kemudian membuka lembaran selanjutnya, dan terlihat lagi wajah pangeran Zang Limo yang sedang tersenyum. Pangeran Zang Limo kembali tersenyum dengan semu merah di wajahnya. Pandangannya kini beralih kepada Gu Ana yang masih tenang di alam mimpinya.


Pangeran Zang Limo melangkahkan kakinya ke arah Gu Ana, kemudian mendudukkan pantatnya di sisi kiri tempat tidur Gu Ana. Pangeran Zang Limo kini membelai wajah Gu Ana, dengan lembut sambil menatap wajah Gu Ana.


“An’er sebenarnya berapa banyak beban yang kau tanggung hingga membuatmu seperti ini? Aku ingin kau membaginya denganku.” Kata pangeran Zang Limo dengan raut wajah sendunya.


“Bangun lah, apa kau tidak lelah? Ini sudah sore. Kau tertidur dari tadi pagi hingga sekarang, sedangkan aku masih harus bekerja. Enak sekali kerjamu?” kata pangeran Zang Limo dengan sendu kepada Gu Ana, yang masih setia menutup matanya.


Seusai mengatakan hal tersebut, pangeran Zang Limo mengecup kening Gu Ana, lalu beranjak dari sisi kiri Gu Ana lalu melangkah menuju meja yang saat ini menjadi meja kerjanya untuk sementara. Kemudian kembali berkutat dengan gulungan-gulungan yang menumpuk, sesekali memandang Gu Ana yang masih setia di dalam tidurnya.


Gulungan yang harus di kerjakan pangeran Zang Limo, kini masih ada separuh. Namun tampaknya matahari sudah akan akan menenggelamkan diri lagi. Paneran menatap pemandangan matahari tenggelam, sambil teringat bagaiman sore itu Ia dan Gu Ana menghabiskan waktu dengan menatap matahari tenggelam saat berada di taman belakang Istana, wajahnya kembali tersenyum mengingat setiap detik yang Ia nikmati bersama Gu Ana. Namun senyumnya kembali sirnah ketika mengingat keadaan Gu Ana saat ini. Ia berbalik memandangi wajah cantik yang tampak tenang.


Saat tengah memandangi Gu Ana, pangeran Zang Limo dikejutkan dengan ketukan dari arah luar.


“Maaf pangeran Tuan Gu meminta kami mengantarkan makanan untuk anda.” Kata pelayan tersebut.


Pangeran baru mengingat bahwa dirinya belum makan malam. Dan tiba-tiba rasa lapar menyerangnya.


“Ah tepet waktu.” Guman oangeran Zang Limo. “Masuklah dan letakkan saja di mejaku.” Kata pangeran Zang Limo kepada pelayan tersebut.