
"Apa kau bilang? Berani sekali kau membandingkan aku dengan Gege mu." kesal pria tersebut.
Mendengar kekesalan pria tersebut membuat Gu Ana tersenyum, kemenangan.
"Tentu saja jika itu faktanya." tantang Gu Ana membusungkan dadanya, sambil tersenyum kemenangan.
...
"Dasar wanita gila." kesal lelaki tersebut.
Gu Ana tersenyum, dan mendekati laki laki tersebut, hingga langakah kaki laki laki tersebut, mundur hingga tiga langkah.
"Jika aku gila, mungkin saja aku sudah menguliti, kulitmu yang kusam ini, dan wajahmu yang sangat jelek ini, sungguh tak enak untuk di pandang mata." Kata Gu Ana mengejek lelaki tersebut.
"Kau..." belum sempat laki laki tersebut mengeluarkan sumpah serampahnya, seseorang menegur dan memanggil Gu Ana dari kejauhan.
"An'er..." panggil Gu Min dari kejauhan, membuat Gu Ana segera berbalik mencari sumber suara tersebut.
"Gege... aku tersesat." kata Gu Ana sambil berlari menghampiri Gu Min, yang tengah melangkah ke arah Gu Ana, dengan wajah cemas.
"An'er kau dari mana saja? Kau tahu kami mencarimu ke mana mana, sekarang Ayah, dan Jun'er aku suruh kembali ke kediaman terlebih dahulu." kata Gu Min sambil memeluk Gu Ana, dan melangkah ke arah orang yang bersama Gu Ana.
"Ah, tuan terimakasih telah menolong An'er, Saya Gu Min, saya kakak dari An'er, dan kami baru di sisini." kata Gu Min ramah kepada lelaki tersebut.
"Ah... Saya Bao Ling." kata lelaki tersebut yang mengaku Bao Ling.
Gu Ana tidak menanggapi percakapan kedua orang tersebut, Gu Ana terus mengedarkan pandangannya, hingga matanya tertuju pada sebuah lampion, berbentuk bunga.
"Gege berikan aku uang mu." kata Gu Ana merengek kepada Gu Min.
Gu Min hanya menggeleng kepalanya, dan memberikan beberapa keping emas kepada Gu Ana. Saat Gu Ana tengah membeli sebuah lampion berbentuk bunga teratai, seorang laki laki dengan tubuh besar, mendekatinya dan merangkulnya. Gu Ana mencoba melepas rangkulan lelaki tersebut, namun rangkulan lelaki tersebut semakin erat.
"Ya, tuan, lepaskan tanganmu, atau kau akan menyesal." kesal Gu Ana sambil mengancam lelaki tersebut.
"Memangnya gadis muda seperti dirimu bisa melakukan apa?" kata lelaki tersebut, tersenyum simrik.
"Ah... jangan salahkan aku yang cantik ini." kata Gu Ana memperingatkan.
Bao Ling yang melihat hal tersebut, mengerutkan keningnya, meskipun Bao Ling kurang menyukai Gu Ana, namun seorang laki laki tak sepantasnya membiarkan hal tersebut.
"Hei... adik mu sedang di ganggu berandalan." seru Bao Ling, sambil berjalan menuju arah Gu Ana. Gu Min segera mengalihkan pandangannya ke arah Gu Ana, sambil menyusul Bao Ling. Belum sampai lima langkah Gu Min dan Bao Ling melangkah, Gu Ana membanting tubuh laki laki tersebut, semua orang menghentikan aktifitas nya dan memandang, ke arah Gu Ana, yang sedang membanting laki laki, dengan postur badan yang besar.
"Sudah kubilang kan." kata Gu Ana dengan penuh kemenangan, sambil menepuk nepuk kedua telapak tangannya, seolah tengah melakukan hal kecil.
Kemudian Gu Ana segera membayar, dan mengambil lampion bunga teratainya, sambil berjalan riang ke arah Gu Min.
"Gege, lihat cantik kan?" Tanya Gu Ana dengan nada riang, seolah tak terjadi apa apa. Menghiraukan pandangan orang orang yang mengarah kepadanya. sementara Bao Ling, menganga tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Hei, tutup mulutmu nanti dimasuki lalat." kata Gu Ana sambil menyuapi, Bao Ling tanghul. Bao Ling hanya mengunyah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Tuan Ling sekalian saja kami mengantar anda." kata Gu Min menawarkan tumpangan kepada Bao Ling. Namun justru wajah Bao Ling sedikit lesu.
"Sebenarnya aku juga tak tahu daerah ini, dan karna dia aku terpisah dari orang orangku." kata Bao Ling sambil menunjuk Gu Ana, dengan rasa permusuhan yang kentara.
Gu Ana yang ditunjuk hanya mendengus kesal, karna menurutnya ini tak semua salahnya.
"Yak... kau juga salah, seandainya kau berbicara, maka aku tak akan menyeretmu sejauh ini." Protes Gu Ana tak terima disalahkan.
Bao Ling sungguh kesal dibuat dengan sikap Gu Ana, yang menurutnya jelas jelas salah. Bao Ling menggeram kesal, ingin rasanya Bao Ling memukul kepala Gu Ana, namun Bao Ling tahan, karna yang dihadapannya saat ini adalah seorang perempuan, tak baik bagi seorang laki laki memukul seorang perempuan.
"Kau, untung saja kau seorang perempuan." kata Bao Ling, melepas nafas kasar melalui mulutnya.
Sementara Gu Ana tersenyum miring, mendengar kata kata Bao Ling. Lalu menarik tangan Bao Ling yang mengacung ke ke arahnya.
"Baiklah anggap saja aku laki laki." Tantang Gu Ana, tersenyum sinis.
"Dasar wanita aneh." sambil menarik jari telunjuk dari tangan Gu Ana.
Gu Min menghela nafasnya, melihat pertengkaran Gu Ana dan Bao Ling. Gu Min segera melerai perkelahian antara Gu Ana dan Bao Ling.
"An'er, tuan Ling sudahlah, kita menjadi pusat perhatian orang orang, ayo kita segera menaiki tandu." kata Gu Min melerai perkelahian mereka. "Ayo kita ke tandu, lalu membicarakan dengan tenag" kata Gu Min menawarkan solusi perdamaian, antara Gu Ana dan Bao Ling.
"Baiklah, tapi wanita aneh ini harus jauh jauh dari ku." kata Bao Ling menujuk Gu Ana.
Karna kesal terus saja dibilang aneh, dan di salahkan oleh Bao Ling. Gu Ana memukul kepala Bao Ling, dengan sedikit keras, melampiaskan kesalnya, yang sejak tadi di pendam Gu Ana.
"Ya, dasar wanita kasar." kata Bao Ling memandang kesal ke arah Gu Ana, yang saat ini menjulurkan lidah ke arah Bao Ling.
Melihat tingkah Gu Ana, Bao Ling hanya bisa menggeram kesal. Sementara Gu Min, hanya bisa menggeleng kepala, melihat tingkah laku Gu Ana, yang seperti anak kecil.
"Maafkan An'er, dia memang terkadang seperti anak kecil, namun dia tidak akan berbuat yang tidak tidak kok." kata Gu Min memberikan penjelasan kepada Bao Ling.
"Hm." kata Bao Ling mendengarkan penjelasan dari Gu Min.
Sementara Gu Ana sudah melenggang, menuju tandu mereka di temani, seorang pelayan. Gu Ana berlari menuju ke arah penjual aksesoris, kemudian memilih bebrapa aksesoris yang cantik.
"Kakak ini untuk mu." kata Gu Ana sambil memasangkan aksesoris yang telah dipilihnya, sambil tersenyum manis. "Paman tampan ini berapa?" tanya Gu Ana ke arah penjual aksesoris itu.
"Dua perak nona." kata penjual tersebut. Kemudian Gu Ana, segera memberikan dua perak untuk penjual tersebut, lalu menggandeng tangan pelayan tersebut menuju tandu.
...
Maaf teman teman kalau banyak Typonya soalnya ini ngetiknya pakai Hp. Laptopnya belum baik, besok baru bisa di ambil.