
"Jangan jangan bukan Gue yang kampung, tapi level kalian yang terlalu rendah untuk gue, dan lo jangan hanya jadi seorang model rendah sudah sombong, bahkan model international saja tak akan berani dengan ku." kata Ariana sembari terkekeh merendahkan Rini.
...
"Maksud lo apa ha? Lo lantangin gue?" tanya Rini tak mau kalah.
"Iya ni cewek, sok kaya banget baru punya dua black kard udah sombongnya selangit." kata salah satu teman Rini menimpal.
"Paling dari Om Om tu, lo jual berapa tubuh lo?" kata salah satu teman Rini, yang sebenarnya laki laki, namun memilih bersikap seperti perempuan.
Ariana hanya mengangkat alisnya mendengar kata laki laki tersebut, kemudian mendekatinya. Mood Ariana yang memang sudah tidak baik, semenjak ponselnya di tahan Arkan, kini benar benar semakin memburuk.
Dari luar Bima melihat kerumunan tersebut, segera menelfon Maxim, untuk datang ke kelasnya. Bima mencoba untuk memasuki kerumunan tersebut, namun tak dapat memasukinya karna kepadatan penonton.
Ariana tampa ancang ancang menendang perut laki laki tersebut, hingga terpental. Kemudian mendekati para wanita yang sudah panik. Mereka tak percaya Ariana sungguh mampu melakukan hal itu, selama ini mereka mengira Ariana hanya anak, yang mengandalkan kecantikannya.
"Lo mau ngapain?" tanya Rini sedikit panik, dan juga ketakutan melihat sorot Maya Ariana.
Ariana bahkan terlihat memasang seringai kecil di bibirnya, menikmati ketakutan gadis tersebut. Arian semakin mendekat dan menyentuh dagu Rini, dengan pandangan jijik.
"Kenalin gue Ariana Hanvei, anak kandung dari Erick Hanvei, dalam artian lain gue anak bungsu dari keluarga Hanvei." kata Ariana mengeluarkan kartu namanya. Membuat mereka semua menganga tak percaya. "Dan mulai besok Rini ini ga udah datang lagi ke manajemen model kami, dan harus kamu tahu, Daddy dan Rayen ga ada ikut campur sama sekali dengan manajemen tersebut." kata Ariana dengan nada yang menindas, dan seolah merendahkan mereka semua.
"Karna apa? Karna manajemen tersebut, gue langsung yang membangun, dan mengembangkannya, sehingga apapun yang gue lakukan di manajemen, mereka sama sekali tidak bisa ikut campur." kata Ariana memandang Rini yang kini tertunduk tak percaya, bahawa akibat dari ulah nya membuatnya, akan kehilangan karir. "Dan silahkan kubur impianmu menjadi model, karna semalanya gue Ariana Hanvei akan memastikan, muka dan nama lo ga akan bisa muncul di dunia model." kata Arian menyentuh dagu Rini, dengan pandangan merendahkan. "Lo ngerti?" tanya Ariana kemudian.
Mendengar semua kata kata Ariana, dan fakta yang mencengangkan, membuat Rini hanya mampu meneteskan air matanya. Bukan hanya harga dirinya yang hancur saat ini, namun juga karir masa depannya yang juga hancur. Sejak dulu mimpinya adalah ingin menjadi model terkenal, namun kini harus di kubur dengan dalam karna kejadian ini.
"Silahkan keluar dari sini, sebelum gue berbuat lebih dengan kalian. Karna kalian sudah benar benar menghancurkan mood ku, pagi ini." kata Ariana kini dengan suara yang sedikit meninggi namun dingin.
Membuat Bima yang baru saja bisa masuk, karna kerumunan yang sangat banyak, menjadi sedikit lega, Ariana tak mematahkan tulang orang lain.
Maxim masuk setelah kerumunan selesai, kemudian melihat sekeliling. Maxim sedikit mengerutkan keningnya, ketika melihat laki laki mirip perempuan, yang terkenal angkuh di kampusnya tersungkur, memegang perutnya.
"Ah si*al dosen lo masuk." kata Maxim kembali ke kelasnya.
"Ada apa ini? kok kelas jadi berantakan?" tanya seorang dosen wanita yang terlihat cukup muda.
"Ga papa bu tadi ada kecoa." kata Ariana santai, membuat semua orang di kelas memilih diam.
Dosen wanita yang mendengarkan suara Ariana, menjadi sedikit kesal. Sudah lama dosen tersebut mencintai Arkan, namun tak pernah bisa sedikitpun mendekati Arkan. Tapi saat Ariana datang, malah Ariana justru mendapat perhatian dari Arkan.
Ariana yang menyadari tatapan sinis dari dosen tersebut, hanya memandang balik, dengan tatapan tak kalah sinis. Sedangkan Bima hanya menghela nafas, temannya ini memang benar benar memberikan ketika sedang marah.
Setelah pelajaran selesai, Maxim datang bersama Aldi untuk menemui Ariana dan Bima.
"Hm... gue ke tempat Om Arkan dulu ya." kata Ariana hendak meninggalkan mereka.
"Kami baru datang loh An." protes Maxim melihat tingkah Ariana.
"Ya gue mau ngambil ponsel gue, yang di tahan Om Arkan, gue juga takut ada tugas dadakan." kata Ariana dengan nada malas.
"Kok bisa? jangan jangan ketahuan ya asrama pria lo?" tanya Maxim kepada Ariana, yang hanya di angguki Ariana. "Dah lo sana sekarang, temuin dosen lo." lanjut Maxim.
Ariana segera meninggalkan mereka di dalam kelasnya, orang orang yang menyaksikan perkelahian tadi hanya diam, tak berani mengganggu Ariana, yang tampak memasang wajah kesal.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload