It'S Me

It'S Me
Episode 51....



“baiklah mari kita lanjutkan, bukankah kau sudah kelaparan An’er.” Kata tuan Gu melerai pertengkaran anak anaknya.


Mendengar kata kata tuan Gu, Gu Ana segera bergegas menuju Gazebo, sementara pangeran Zang Limo yang sejak tadi diam, hanya mampu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah Gu Ana.


“Kayaknya bucin itu memang ada.” Kata Gu Min dalam hati sambil melihat pangeran Zang Limo.


“baiklah mari kita lanjutkan, bukankah kau sudah kelaparan An’er.” Kata tuan Gu melerai pertengkaran anak anaknya.


Mendengar kata kata tuan Gu, Gu Ana segera bergegas menuju Gazebo, sementara pangeran Zang Limo yang sejak tadi diam, hanya mampu menggelengkan kepanya sambil tersenyum melihat tingkah Gu Ana.


“Kayaknya bucin itu memang ada.” Kata Gu Min dalam hati sambil melihat pangeran Zang Limo.


Mereka melangkah menuju gazebo yang Gu Ana maksud. Setelah sampai di gazebo yang berda teptat berada di tengah tangah kolam ikan, dilengkapi dengan bunga teratai yang indah mereka makan bersama sama dipenuhi dengan keharmonisan. Setelah makan mereka berbincang bincang, sementara Gu Ana dan Gu Jun memilih bermain kartu.


“Ok kita main cangkul, kita main sepuluh ronde, siapa yang kalah akan di dandani, setuju?” tanya Gu Ana kepada Gu Jun.


“Ok, tapi kalau kau kalah jangan ngambek.” Balas Gu Jun.


Mereka berdua tersenyum senyum membayangkan mahakarya yang akan mereka buat di wajah lawannya.


Ronde pertama Gu Jun kalah dengan memegang kartu terbanyak, hal tersebut membuat Gu Ana tersenyum menyeringai.


“Ok, satu ya.” Kata Gu Ana, tersenyum senang.


“Jangan senang dulu, masih ada Sembilan ronde.” Balas Gu Jun tak mau kalah.


Rone kedua Gu Jun memenangkan pertandingannya, sementara Gu Ana cemberut olehnya


“Aku mulai menyusulmu.” Kata Gu Jun menyeringai kepada Gu Ana.


“Tidak semudah itu ferguso, apa kau fikir aku akan menyerah” kata Gu Ana dengan dramatis.


30 menit sudah mereka melakukan permainan itu, kini Gu Ana harus menelan pil kekalahannya. Gu Jun menyeringai licik kepada Gu Ana, Ia sudah tahu apa yang akan Ia lakukan kepada wajah Gu Ana.


Saat melihat seringai licik dari Gu Jun, Gu Ana merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, karna terakhir kali Gu Jun mendandaninya tak jauh tak bukan seperti badut ancol yang dipadukan dengan boneka cucky. Gu Ana sungguh ingin protes saat itu namun tidak bisa karna ini adalah permainan yang mereka setujui sejak awal.


Kini Gu Jun mulai mendandani wajah Gu Ana dengan bedak yang tebal, wajahnya kini bak anak cabe cabean yang wajahnya putih sedangkan lehernya tak seputih wajahnya.


“Wah parah, masa wajahku yang cantik kini berubah menjadi boneka mampang, eh lebih mirip cabe cabean pas aku jalan di ancol loh.” Kata Gu Ana sambil tertawa keras melihat wajahnya di cermin.


Mendengar tawa yang begitu keras, pangeran Zang Limo, tuan Gu, dan Gu Min menghentikan sejenak pembicaraan mereka dan memandang ke arah  Gu Ana dan Gu Min.


“Apa yang sedang mereka lakukan?” tanya pangeran Zang Limo dengan wajah yang sangat penasaran.


“Mereka sedang bermain, tunggu dan lihat saja hasil permainan mereka.” Kata tuan Gu kepada pangeran Zang Limo.


“Tapi pageran, kau harus kuat ketika melihat mereka nantinya.” Kata Gu Min sambil tertawa membayangkan apa yang akan mereka lakukan selanjutnya.


Mendengar penuturan tuan Gu dan Gu Min, membuat alis pangeran Zang Limo menyatu. Pangeran Zang Limo bingung maksud dari tuan Gu dan Gu Min.


Setelah memberikan polesan bedak dengan tebal di wajah Gu Ana, Gu Jun tak tahan lagi untuk tidak tertawa, sementara Gu Ana sejak tadi memasang wajah yang lebih syok dari penampakan yang pertama.


“Astaga, apa kau fikir wajahku yang cantik jelita ini gorengan? Ya ampun… kau tau ini namanya pemborosan, aku rasa ini bukan bedak, tapi tepung.” Perotes Gu Ana, yang masih menahan tawa saat melihat wajahnya sendiri.


“Aduh sis, ini lagi trendi loh. Bedak anti badai, sebentar lagi kita pasang alis loh, kamu jangan gerak nanti alisnya bisa rusak, aduh cucok mehong deh wajah sis ini, dijamin cantik tiada tara.” Kata Gu Jun menirukan suara abang abang salon yang sedang menyamar menjadi perempuan.


“Aduh say, bukannya ga percaya ya, eike cuman lagi antusias say. Kamu tau mpok Leha kan?” kata Gu Ana seolah sedang berbincang dengan penata rias professional.


“Iiih, jelas dong cin, mpok Leha itu langganan berat eike cin, dia tiap minggu kesini.” Jawab Gu Jun dengan gaya ngondek.


“Aduh pantas aja say kalau mpok Leha itu arisan, dia itu yang paling cetar membahenol di antara kami semua, aduh jadi iri say, bisa ga eike dibuat kayak mpok Leha cantik say.” Kata Gu Ana tak mau kalah dengan perannya.


“Aduh say… tenang Eike akan buat wajah ye lebih cetar membahenol, dengan kecantikan tiada tara.” Kata Gu Jun dengan mengibaskan rambutnya.


“Makasih loh say, oh ya muka kamu kok tambah hari tambah kinclong kayak setrikaan di mall, apasih rahasianya say, pingin juga loh muka kayak kamu.” Kata Gu Ana sambil membelai dan mencubit geram wajah Gu Jun.


“Au… say jangan kenceng kenceng dong, nanti susuk kuda nil aku rusak ni.” Perotes Gu Jun.


“Say jangan bergerak dong, ini susahloh gambar alis kamu sebelah kanan.” Kata Gu Jun memperhatikan alis Gu Ana.


Saat memperhatikan alis Gu Ana, Gu Jun sontak tertawa keras karna alis Gu Ana yang beda sebelah, dan seperti di terpa angina tornado.


“Aduh sis, ini model baru ya?” kata Gu Ana terheran heran melihat alisnya, yang menurutnya lebih mirip alis Sinchan yang terkena angina tornado, berantaka kemana mana.


“Sis… percaya deh sama eike ini model yang lagi hits di Holliwod, ini alis Cetrina Kaefah loh sis.” Kata Gu Jun membela diri.


“Ih cin… ngerti banget deh selera eike, aduh eike suka banget, cucok meong. Oh ya cin pokoknya Eyeshedownya harus rainbow rainbow gitu cin, soalnya kau lagi seneng banget hari ini.” Kata Gu Ana dengan wajah tersenyum masam.


“Ok say… gampang itu mah, arrrre, untuk penata rias terkenal kaya eike itu sudah biasa.” Kata Gu Jun dengan tampang yang meyakinkan.


Setelah mengatakan hal tersebut Gu Jun berfokus kepada kelopak mata Gu Ana, dan mulai meletakkan Eyeshadow dengan warna warni, mulai dari merah, ungu, biru tua, dan kuning terang. Setelah mengaplikasikan eyeshadow ke wajah Gu Ana, Gu Jun memberikan kaca.


“Aa… hahaha.” Tawa Gu Ana pecah seketika melihat riasan kelopak matanya yang tak kala hancur dari alisnya.


“Aduh sis, seneng amat liat riasannya, rekomedasiin ke temen temen ya shay.” Kata Gu Jun dengan wajah bangga dan tanpa ada dosa.


“Siap shay, nanti eike kasih ulasan bintang kejora deh.” Kata Gu Ana seolah bangga dan menyukai riasannya.


“Jangan derak lagi ya Shay, ini tinggal Sheding, kontur dan lipstick lagi shay.” Kata Gu Jun bersemangat empat lima.


“Iya nih, ga sabar banget chin, aduh pasti cantik banget kan.” Balas Gu Ana tak kalah gereget.


Setelah Gu Jun selesai, Gu Jun memberikan cermin kepada Gu Ana, wajah Gu Ana kini tidak ada kata shok lagi, Ia tertawa terbahak bahak melihat hancurnya riasan yang Ia pakai.


Bagaiman tidak pipinya berwarna orange terang, bibirnya berwarna merah darah, jangan tanyakan kontur yang sudah berantakan kemana mana.


“Ya ampun ini lebih parah dari sebelumnya loh.” Kata Gu Ana menertawai wajahnya sendiri.