It'S Me

It'S Me
Episode 65



Pagi telah menyingsing kilau kicau burung telah terdengar, sinar matahari kini telah menampakkan diri, sinarnya kini memasuki celah celah kamar orang yang sedang tertidur pulas.


“Hm…” Kata Gu Ana sambil mengerjabkan matanya beberapa kali untuk menyesuaikan matanya yang masih belum terbiasa dengan cahaya yang masuk.


Saat menoleh kesamping kanannya, Gu Ana melihat pangeran Zang Limo yang masih tertidur pulas sambil memeluknya. Wajah pangeran Zang Limo tampak polos seperti bak tak memiliki beban, tampak senyum kini menghiasi wajah Gu Ana.


“Limo bangun… aku lapar, kau masih ingat dengan janjimu kan?” tanya Gu Ana sambil menusuk nusuk pelan pipi pangeran Zang Limo. “Wah… pipinya lembut mirip adonan donat sama Pizza.” Guman Gu Ana saat menusuk nusuk pipi pangeran Zang Limo, yang justru menambah rasa laparnya.


Pangeran Zang Limo yang merasakan sebuah tangan menusuk nusuk pipinya bukannya bangun justru mempererat pelukannya, karna setelah hampir satu minggu ini adalah pertama kalinya pangeran Zang Limo merasakan tidur yang nyenyak tanpa sebuah kekhawatiran.


Melihat pangeran Zang Limo mempererat pelukannya Gu Ana tersenyum tipis memperhatikan pangeran Zang Limo yang masih setia mempererat pelukannya sambil menutup matanya seolah olah masih ingin melanjutkan tidurnya.


“Selamat datang Yang Mulia.” Kata Gu Ana dengan nada yang sedikit tegas, agar orang yang berada di sampingnya segera terbangun dari tidurnya.


Mendengar kata kata Gu Ana sontak membuat pangeran Zang Limo terbangun, kini pangeran Zang Limo mengumpulkan kesadarannya untuk melihat sekitar sambil mengerjapkan matanya.


Melihat reaksi terkejut dan panik pangeran Zang Limo, sontak membuat Gu Ana tertawa terbahak bahak, sambil berjalan keluar untuk meminta dayang mempersiapkan air untuk membersihkan diri.


“Tolong siapkan air untukku membersihkan diri.” Kata Gu Ana sambil tersenyum.


Setelah selesai memerintahkan dayang Gu Ana segera masuk ke kamarnya kembali, dan mendapati pangeran Zang Limo yang masih berdiam diri sambil terduduk di atas tempat tidur.


“Limo aku sungguh lapar, dari kemarin hanya makan bubur.” Kata Gu Ana dengan nada manja kepada pangeran Zang Limo.


Mendengar permintaan Gu Ana membuat pangeran Zang Limo beranjak dari tempat tidur, lalu berjalan menuju pintu luar.


Melihat pangeran Zang Limo melangkahkan kaki menuju luar kamar membuat Gu Ana sedikit mengerutkan keningnya.


“Kau mau kemana?” tanya Gu Ana kepada pangeran Zang Limo, yang saat ini berada di ambang pintu hendak membuka pintu.


Mendengar pertanyaan Gu Ana membuat pangeran sedikit heran, karna Gu Ana baru saja mengatakan lapar, namun saat pangeran Zang Limo akan keluar memanggil dayang malah dihentikan oleh Gu Ana.


“Bukankah kau bilang lapar tadi?” tanya pangeran Zang Limo heran dengan sikap Gu Ana saat ini.


“Iya...” kata Gu Ana singkat.


“Lalu akan memanggilkan dayang.” Kata pangeran jengah terhadap sikap Gu Ana pagi ini.


Mendengar kata kata pangeran Zang Limo, sontak membuat Gu Ana menepuk kening, kini Gu Ana yakin bahwa pangeran Zang Limo telah lupa perjanjian mereka.


Melihat Gu Ana menepuk jidatnya membuat pangeran bingung, dan berdikir keras apa ada yang terlupakan.


“Apa aku melupakan sesuatu?” tanya pangeran Zang Limo bingung.


Mendengar pertanyaan pangeran Zang Limo membuat Gu Ana menganga tak percaya, bagaiman mungkin dalam waktu semalam saja pria ini sudah melupakan janjinya.


“Pangeran, kau bukannya harus membuatkanku sarapan” kata Gu Ana sedikit kesal dengan ingatan pendek pangeran Zang Limo, ditambah dirinya sekarang sudah sangat lapar.


Saat pangeran Zang Limo mengingat ngingat lagi, pangeran Zang Limo sungguh dibuat terkejut saat mengingat kejadiaan semalam, saat pangeran Zang Limo kalah dari Gu Ana dan harus memasak bagi yang menang.


Tepat saat pangeran Zang Limo membuka pintu, seorang dayang juga hendak membuka pintu hamir saja pangeran Zang Limo tersiram oleh air untuk Gu Ana membersihkan diri.


“Mohon ampun pangera hamba tidak sengaja.” Kata dayang tersebut menunduk karna takut.


“Hm…” jawab pangeran Zang Limo pergi dengan terburu buru karna takut gadisnya akan kelaparan.


Saat keluar dari pafilium Bulan, pangeran Zang Limo segera bergegas mengenuju pafiliumnya untuk membersihkan  diri dulu baru kemudian memasak untuk pertama kalinya.


Sesampainya di kediama pangeran Zang Limo, segera para dayang diperitahkannya untuk mempersiapkan air untuk membersihkan diri.


“Persiapkan aku alat madi, lalu persiapkan alat memasak, aku akan memasak setelah ini.” Kata pangeran Zang Limo kepada para dayang.


Mendengar pangeran Zang Limo akan memasak para dayang dibuat tak percaya, bahkan pangeran Zang Limo tak berniat ke dapur, apa lagi memasak. Ini sungguh keajaiban yang tak terduga oleh para dayang, hingga membuat para dayang yang diperintahkan pangeran Zang Limo melongo dibuatnya.


“Apa lagi yang kalia tunggu? Aku sedang terburu buru.” Kata pangeran Zang Limo membuyarkan lamunan para dayang.


“Ah… maaf pangeran hambah tidak bermaksud.” Kata para payang pangeran Zang Limo, segera melangkahkan kaki melaksanakan tugas dari pangeran Zang Limo.


Sementara ditempat lain Gu Ana kini telah selesai membersihkan dirinya, dan kini dibantu para dayang untuk menggunakan hanfunya.


“Terimakasih.” Kata Gu Ana saat hanfunya telah selesai Ia kenakan.


Kemudian Gu Ana keluar dari ruang bersih bersihnya untuk menuju meja rias mengeringkan rambutnya dibantu oleh para dayang.


Setelah semua selesai tiba tiba pintu terbuka, membuat Gu Ana menoleh kearah pintu untuk melihat siapa yang datang.


“An’er kau sudah bangun? Kemana pangeranmu?” tanya pangeran Nan Cheng kepada Gu Ana.


“Ah… ternyata there idiot yang datang.” Kata Gu Ana dengan santainya sambil kembali memperhatikan dirinya dicermin.


Mendengar kata kata Gu Ana sontak membuat pangeran Nan Cheng emosi dibuatnya, sedangkan pangeran Zang Handrong hanya bingung tak mengerti maksud Gu Ana, lain hal nya ekspresi Gu Jun terlihat biasa biasa saja, cendrung tersenyum imut kepada para dayang yang membuat para dayang memandagnya dengan pandangan gemasnya.


“Kau… maksudmu apa mengatakan hal itu ha?” tanya pangeran Nan Cheng emosi mendengar kata kata Gu Ana.


“Ah… tidak aku hanya mengatakan hal yang benar.” Kata Gu Ana cengengesan. “Ah… adikku tersayang Jun’er apakah kau membawa beberapa cemilan?” tanya Gu Ana kepada Gu Jun.


Mendengar pertanyaan Gu Ana, membuat Gu Jun sedikit tersenyum mengangkat alis yang menambah keimutan wajahnya, Gu Jun sudah menduga bahwa Gu Ana akan menanyakan cemilan kepadanya.


“Aku sudah tahu bahwa kau akan menanyakan cemilan kepadaku, jadi aku sudah mempersiapkannya.” Kata Gu Jun tersenyum kepada Gu Ana.


Mendengar jawaban dari Gu Jun membuat Gu Ana berbinar tersenyum dibuatnya.


“Ah… kalian duduk lah, aku tahu ada gossip terbaru, cepat ceritakan padaku.” Kata Gu Ana segera duduk di meja sambil menepuk nepuk tempat duduk.


Melihat Gu Ana menepuk nepuk tempat duduk mereka segera duduk di samping Gu Ana, dengan aura pergibahan yang cukup kental. Mereka memang terlihat sebagai squart gossip dengan pormasi yang lengkap.