
"Hm... gue ke tempat Om Arkan dulu ya." kata Ariana hendak meninggalkan mereka.
"Kami baru datang loh An." protes Maxim melihat tingkah Ariana.
"Ya gue mau ngambil ponsel gue, yang di tahan Om Arkan, gue juga takut ada tugas dadakan." kata Ariana dengan nada malas.
"Kok bisa? jangan jangan ketahuan ya asrama pria lo?" tanya Maxim kepada Ariana, yang hanya di angguki Ariana. "Dah lo sana sekarang, temuin dosen lo." lanjut Maxim.
Ariana segera meninggalkan mereka di dalam kelasnya, orang orang yang menyaksikan perkelahian tadi hanya diam, tak berani mengganggu Ariana, yang tampak memasang wajah kesal.
...
Sesampainya Ariana di depan ruanagan Arkan, Ariana segera masuk tampa mengetuk pintu ruangan Arkan. Alangkah terkejutnya Ariana, ketika melihat dosen yang mengajar Ariana tadi, kini tengah mencoba merayu Arkan. Arkan pun tak kalah terkejut, mencoba untuk melepaskan tangannya dari dosen wanita tersebut.
Tampa berkata apa apa Ariana segera mengambil ponselnya, yang terletak di atas meja kerja Arkan. Ariana segera keluar, dan tampak sedang mencoba menelfon seseorang.
Arkan melepaskan tangan dosen tersebut, dan meraih ponsel, serta tas jinjingnya menyusul Ariana. Saat sampai di parkiran, Ariana tampak menaiki sebuah mobil hitam.
Arkan berusaha menelfon Ariana, namun kini ponsel Ariana sudah di luar jangkauan. Arkan sangat panik di buatnya, hingga melarikan mobilnya ke kediaman Hanvei. Setelah tiga puluh menit Arkan telah sampai di kediaman Hanvei, Arkan langsung masuk ke dalam rumah, dan mencari keberadaan Ariana.
"Bi Ariana sudah pulang?" tanya Arkan dengan wajah panik.
"Belum tuan, tadi pagi kan pergi sama tuan." kata asisten rumah tangga Hanvei.
Arkan kemudian menelfon Ariana kembali, namun telfon Ariana berada di luar jangkauan. Arkan yang panik pun segera menelfon Maxim, untuk mananyakan keberadaan Ariana, namun lagi lagi Maxim mengatakan tidak mengetahuinya, bahkan ikut panik di buatnya.
Sementara di tempat lain, Ariana sedang bertemu dengan Letkol Bram. Saat Ariana keluar dari ruanagan Arkan, Ariana menerima telfon untuk segera bertemu dengan Letkol Bram . Ariana sebenarnya tidak marah, karna tahu kalau Arkan tidak pernah tertarik dengan wanita tersebut, namun Ariana saat ini tidak bisa mengaktifkan ponselnya, karna ada sesuatu hal yang harus di jalankannya.
Saat Arkan ingin keluar dari kediaman Hanvei, Arkan di kejutkan dengan kedatangan Erick dan Rayen. Arkan menjadi semakin tidak enak, dan segera menundukkan kepalanya.
Erick yang merasa ada yang tidak beres, segera menanyakan keberadaan Ariana kepada Arkan.
"Ariana mana?" tanya Erick melihat keganjalan di wajah Arkan.
"Sebenarnya yang terjadi?" tanya Rayen penasaran dengan masalah yang baru saja di hadapinya.
Arkan pun menceritakan kejadian dari awal, hingga saat di mana Ariana menjadi salah faham.
"Arkan tadi habis ngajar, tiba tiba Dewi masuk ke ruangan Arkan..." kata Arkan, namun di hentikan oleh Erick.
"Bentar bentar ibu Dewi siapa?" tanya Erick penasaran, membuat Rayen berdecak kesal.
"Daddy Arkan cerita ga udah di tanyain." kata Rayen dengan wajah penasaran. "Ngomong ngomong tadi ngajar apa?" tanya Rayen membuat Erick memukul kepala Rayen.
"Lanjut." kata Erick kepada Arkan.
"Ibu Dewi itu dosen di kampus kami, nah tiba tiba dia masuk dan menggelayut di tangan Saya, saya sudah coba lepasin, tapi dia tetap megang tangan saya. Eh tiba tiba Ana masuk, dan salah faham deh." kata Arkan dengan wajah sendu.
"Tenang saja adek ipar nanti biar kakak ipar mu ini yang menjelaskannya." kata Rayen sambil tertawa, melihat tingkah panik Arkan.
Rayen kenal betul sikap Ariana, tak mungkin Ariana marah untuk hal sekecil itu. Rayen segera mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.
"Halo Ana nerima misi ya Letkol Bram?" tanya Rayen, kepada salah satu Letkol Bram angkatan militer Indonesia.
"Iya, tadi saya meminta pertolongannya, nanti saya kirimkan video keadaan Capten Ariana, soalnya tadi memang sangat tiba tiba." kata seorang laki laki yang di ujung sana.
"Ah iya terimakasih." kata Rayen tersenyum ke arah Arkan, yang tengah penasaran dengan Ariana. "Ana baik baik aja, nanti malam aja ke sini lagi, soalnya kalau lagi tugas mungkin Ana baliknya malam." kata Rayen tersenyum ke arah Arkan, membuat Arkan menghembuskan nafas leganga.
...
Hi salam dari It's me, terimakasih sebanya banyaknya telah mendukung, e, kasanah di dalam novel it's me. Semoga novel ini membuat kalian semua senang dan terhibur di dalam membaca novel ini. Terimakasih banya, jangan lupa like comment, and favorite novel ini ya.
Teman teman jangan lupa pakai masker, selalu jaga kesehatan dan kebersihan di tengah pandemi covid 19 ini. Ingat pesan ibu.
Maaf teman teman jaringanku error ini aku harus bersabar, dan bersabar bisa upload