It'S Me

It'S Me
Episode 264



"Mas kok udah pulang?" tanya Ariana bingung, karena menurutnya ini masih pagi dan Arkan telah kembali.


"Ini waktunya jam makan siang sayang." kata Arkan sembari terus memeluk Ariana.


...


"Hah? Sudah siang ya?" tanya Ariana sembari memandangi jam yang ada di ponselnya. Ariana tersadar, bahwa waktunya suaminya makan siang.


"Mas ayo makan?" kata Ariana segera menuju meja makan, tetapi Ariana singgah sebentar ke wastafel untuk mencuci tangannya.


Ariana mencuci tangan di ikuti oleh Arkan, kemudian segera menuju meja makan. Di meja makan telah duduk Farid, Erick, dan Rayen.


Ariana segera mengambilkan makanan untuk para laki laki, setelah selesai Ariana mengambilkan makanan untuk dirinya sendiri. Setelah itu Ariana segera makan.


Sehabis makan, Ariana segera membantu para asisten rumah tangga untuk membersihkan meja makan.


Setelah meja makan bersih, Arian segera mengambil pai apple untuk semuanya. Ariana di bantu para asisten rumah tangga membawa pai apel tersebut.


Ariana segera meletakkan pai apel tadi di meja, dan segera mendudukkan diri di samping Arkan. Rayen yang melihat pai apel tersenyum, dan segera mencomotnya.


"Lo yang buat ini An?" tanya Rayen sembari menggigit kue pai apel nya.


"Kamu jangan capek capek sayang." kata Arkan sembari menggenggam tangan istrinya. Membuat yang lain tersenyum.


"Kalian kapan nikahnya Ray?" tanya Farid kepada Rayen.


"Insya Allah empat bulan lagi Pah." kata Rayen membuat yang lain tersenyum.


"kalau ada apa apa bilang saja, pasti nanti papa bantu." kata Farid membuat yang lain mengangguk.


"Siap pa." kata Rayen bersemangat.


Farid memang menganggap Rayen seperti putra nya. Belum lagi Rayen yang hingga SMP sering bermain dengan Arkan. Namun saat masuk ke sekolah menengah atas, Rayen justru pindah ke Paris.


Karena itu, Rayen biasanya suka sekali meminta pertolongan dengan Farid, dalam berbagai hal ketika di Indonesia. Hanya Ariana yang tidak pernah bertemu dengan Farid, jika itu bukan karena misi yang pernah ambil ketika berada di Indonesia.


"Pa, Dad Ana capek, mau istirahat sebentar ya." kata Ariana, melangkahkan kaki menuju lantai dua.


Melihat Ariana melangkahkan kaki menuju lantai dua, Arkan segera menyusul Ariana, sembari memegang Ariana yang hendak naik ke lantai dua. Membuat yang lain menggeleng, sekaligus tersenyum, melihat calon papa yang ekstra siaga itu.


"Sayang hati hati." kata Arkan sembari memegang pundak Arkan, membuat Ariana tersenyum.


Saat tiba di anak tangga akhir lantai dua, tiba tiba perut Ariana sakit, hingga membuatnya mengaduh kesakitan.


"Mas... perut Ana sakit." keluh Ariana sakit, sembari memegangi perutnya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Arkan panik segera menggendong Angel menuruni tangga, dengan tergopoh gopoh.


Semua orang panik ketika melihat Ariana tengah kesakitan, saat berada di gendongan Arkan.


"Rayen tolong bawa mobil ke rumah sakit." kata Arkan, dengan panik, sembari menggendong Ariana.


Saat berada di dalam mobil, Rayen segera membawa mobil tersebut dengan terburu buru. Ariana dan Arkan saat ini berada di mangku penumpang.


Sementara Erick dan Farid berada di mobil belakang, dengan di kendarai oleh supir prebadi merek.


"Ana sabar, kita lagi ke rumah sakit." kata Rayen sedikit panik, melihat kondisi adiknya.


"Sayang, dengerin Mas, kamu harus kuat." kata Arkan mengusap lembut pipi Ariana.


sementara di mobil belakang, Farid terus menelfon anak sulungnya, memberitahukan kondisi Ariana saat ini.


Saat di perjalanan, mobil mereka justru di hadang oleh patroli polisi, yang sedang razia.


"Ah sial." kesal Rayen panik.


"Mas tolong SIM dan STNK nya." kata polisi itu, sopan.


"Ini cepat, adik saya harus di bawa ke rumah sakit." kata Rayen terburu buru.


"Ada apa sih, cepat saya takut ada apa." kata Arkan tiba tiba. Membuat polisi segera memandang ke arah Arkan dan Arian.


Polisi tersebut melihat kondisi Ariana, yang tengah hamil besar sedang ketakutan, segera mengurus rekannya, untuk mengawal, serta memberi jalan untuk Ariana.


"Biar rekan saya kawal, agar lebih cepat sampai di rumah sakitnya." kata polisi tersebut, sembari menepuk pundak temanya. Seolah mengerti rekan polisi tersebut segera membawa satu orang lagi, untuk membantunya mengawal mobil Angel.


Berkat bantuan kedua polisi itu, Ariana dapat sampai di rumah sakit secepatnya.


Rayen sangat berterima kasih, segera berkenalan dengan polisi tersebut. Sebenarnya Rayen ingin membayar mereka sebagai ucapan terimakasih, namun mereka tolak, karena mengatakan ini merupakan kewajiban mereka. Setelah berbincang bincang sejenak, mereka segera pergi.


Setelah mengantar kedua polisi itu, Rayen segera menuju ke tempat adiknya. Terlihat dokter sedang berbincang bincang dengan mereka.


"Bagaiman dok?" tanya Arkan sedikit panik.


"Pasien harus segera melahirkan, namun karena kondisi plasenta tertanam terlalu dekat dengan serviks atau mulut rahim. Plasenta mulai memisahkan diri dari dinding rahim sebelum bayi lahir. Kondisi ini dapat membahayakan nyawa sang ibu dan bayinya. Di tambah lagi usia pasien yang tergolong muda." jelas dokter itu panjang lebar, semakin membuat yang lain semakin panik, dan khawatir.


"Jadi saya harus bagaiman? Tolong lakukan yang terbaik." tanya Arkan panik, bercampur khawatir.


"Pasien memerlukan operasi caesar." kata dokter tersebut.


"Iya dok lakukan yang terbaik." kata Arkan mengusap wajahnya frustasi.


"Baiklah kami butuh tanda tangan bapak." kata Dokter itu, menuntun Arkan menuju meja resepsionis.


Saat melihat sebuah pilihan, apakah yang akan di selamatkan itu Ariana atau anaknya. Arkan tanpa sengaja menitikkan air mata nya.


Setelah berfikir, Arkan akhirnya memutuskan untuk lebih mementingkan Ariana. Ini memang pilihan yang sangat sulit, namun Arkan tetap harus memilih.


...


Selamat datang 2021.