
Siapa sebenarnya yang ada di dalam villa ini? Bukankah seharusnya tidak ada orang? Bagaiman di villa yang tepat berada di tepat berada di pulau pribadi? Namun yang semakin Justin bingung kan, bagaiman seorang wanita berada di tempat ini. Bahkan denyut nadi wanita itu sama sekali tidak mengisyaratkan ketakutan.
"Buka pintunya manis." rayu Justin, kepada seorang wanita yang tengah mengayunkan pisaunya, tengah memotong atau mengupas sesuatu. Yang pasti Justin pikir itu merupakan sesuatu yang manis.
"Siapa kau?" suara gadis itu terdengar dari sebrang pintu sana. Dari penglihatan Justin sejauh ini, wanita itu sangat tenang, atau memang wanita itu tak memiliki rasa takut.
"Ini pulau dan villa pribadi." kembali terdengar suara Justin mencoba memberi pengertian.
"Aku tahu, aku di sewa untuk bekerja di sini." kata wanita itu, sembari melanjutkan aktifitasnya.
"Siapa kau?" kembali lagi wanita itu bertanya di balik pintu.
"Aku punya pisau, jadi aku beritahu tempat ini tidak di tinggali, atau ku panggil polisi." ancam wanita itu, dengan suara yang begitu tenang.
Justin terkekeh, Justin segera menyapu rambut yang mengganggu wajahnya. Entah wanita itu terlalu percaya diri dengan pisau buahnya, atau dirinya memang tidak pernah merasa takut.
Ah, tiba tiba sesuatu yang berada di dalam dirinya kembali bangkit, sebuah monster meminta untuk di puaskan.
"Buka pintunya, kita akan bicara baik baik." kata Justin dengan sedikit lebih lembut.
Lebih lembut? Tidak, menurut Justin ini sudah sangat lembut.
Justin Manarik nafas panjang, yang menjalar, dan memasuki rongga paru parunya, hingga mengembangkan perutnya.
Justin berjongkok, kemudian meniup lubang kunci yang ada di knop pintu. Justin memejamkan matanya, berusaha mencari tahu siapa yang ada di dalam sana. Justin sejak tadi sangat penasaran, dengan siapa sebenarnya yang ada di dalam sana.
Justin memejamkan matanya, untuk kembali mengendus wanita di seberang pintu, yang bahkan membuatnya meragukan kekuatan indranya. Justin bisa merasakan detak jantungnya melalui hembusan yang ia keluarkan.
Justin hanya ingin tahu dengan siapa ia berhadapan sekarang ini, dengan pecandu narkoba atau kah memang hanya wanita yang di pekerjakan sahabat nya.
"Aku tak akan keluar, kau tahu dalam artian membuka pintu," kata wanita itu. "Jika pun kau mengatakan namamu aku akan tetap menelfon polisi."
"Semoga kau beruntung sayang," seru Justin terkekeh. "Kau tahu bukan ini pulau pribadi, ada listrik pun tidak apa apa, apalagi sebatang sinyal."
Sambil berkonsentrasi, Justin mengikuti embusan berat nafas wanita itu, mengikuti setiap tarikan nafas yang merasuki dunianya. Setelah itu, lebih mudah bagi Justin untuk mendengar detak jantung wanita itu, tenang dan tidak terdapat sama sekali tetap jantung yang begitu memburu.
Ada makhluk cantik yang terjebak di balik pintu, tanpa jalan keluar, dan menunggu untuk dijadikan santapan. Yang dibutuhkan hanya sedikit waktu, dan penyerahan. Meskipun sebenarnya Justin sedikit ragu, karena wanita itu benar-benar tidak memiliki rasa ketakutan. Lagi lagi Justin berkerut dengan ekspresi dan detak jantung wanita itu, bagaimana mungkin ia sebegitu santainya dan tenangnya menghadapi orang asing ada di luar. Apa wanita itu memiliki kemampuan untuk beladiri? Sehingga wanita itu begitu tenang di alam sana.
Ingatan Justin kembali di saat-saat dia menghabisi orang orang yang tak bersalah, dan bagaimana keadaan Jika dia kehilangan kendali. Apalagi semua media kini telah mengincarnya.
Seakan dicambuk di luka yang masih segar, seberkas moral menyentakkan Justin keluar dari lamunannya tentang darah. Ia mundur dari pintu, menatapnya seakan baru pertama kali melihat pintu tersebut.
^^^Apa yang sedang kulakukan? Aku kesini untuk melawan kecanduan itu. Kembali lagi batin Justin mengingatkannya akan tujuannya.^^^
"Aku pikir kita memulainya dengan cara yang salah, namaku Justin William. Aku yakin kau tahu siapa aku," kata Justin yang percaya bahwa namanya telah dikenal oleh semua orang.
"Kenapa aku harus tahu siapa dirimu?" seruan Anna yang memang tidak mengetahui nama itu, dan tidak peduli sama sekali. Baginya selama itu bukan urusannya, maka dia tidak akan peduli.
Justin bisa mendengar rasa percaya diri yang meningkat dalam tarikan napas wanita itu, ketenangan menyelimuti. Tidak mudah menyerah dalam bujukan Justin. Rasa percaya diri? Bagus. Itu akan memudahkan Justin mempertahankan diri, atau mempertahankan sisi kemanusiaannya dari godaan.
Tapi tunggu, Justin merasa mendengar sesuatu kata yang asing di telinganya. Lebih tepatnya wanita itu tidak mengenal dirinya. Sebuah kejutan untuk pria yang sangat terkenal di dunia.
^^^Apa katanya? Wanita itu tidak mengenalku? Seru Justin dalam hati tak percaya.^^^
"Jadi kau belum pernah mendengarkan boyband The Star Sing? Boyband yang yang baru dan paling terkenal di dunia, dan aku juga seorang pengusaha yang baru saja memenangkan penghargaan," seru Justin seolah mencoba mempromosikan dirinya sendiri.
"Apa tuan Alf ada di bandmu?" tanya Anna masih tidak mempercayai laki-laki itu. Ya anda bukan seorang gadis yang suka membaca tabloid apa yang sedang ngetren saat ini, atau hanya sekedar untuk menonton televisi, tentang gosip dan band terbaru yang ada di dunia.
"Kau kenal Alf? Ah iya, kau bilang dipekerjakan untuknya," kata Justin kembali mengingat kata-kata awal wanita tersebut.
"untuk mengerjakan kaca jendela berwarna yang ingin dipasang tuan Alf di ruang besar di bagian belakang. Aku... ah Kami sudah sepakat, tapi kami belum menetapkan tanggal resmi untuk mengerjakannya. Aku kebetulan punya sedikit waktu luang dalam jadwalku, jadi di aku menyempatkan diri untuk ke sini," lanjut Anna mencoba menjelaskan kembali kepada Justin. "Namun tuan Alf tidak menyebut-nyebut soal orang yang tinggal di sini, dan dia memberiku kunci rumah."
Justin mengingat, bahwa sahabatnya itu pernah menyebut nyebut sesuatu tentang perbaikan rumah sebelum pindah. Justin pikir sahabatnya itu hanya membuang uang, demi rumah yang hanya ditinggalinya selama beberapa minggu dalam setahun. Tetapi studio rekaman pasti akan didatangi The Star Sing kapanpun mereka memiliki waktu luang, ataupun saat mereka libur dari manggung. Ah... atau saat ini ini rumah tersebut terpaksa dijadikan sebagai persembunyian, bagi vampir yang putus asa seperti dirinya.
"Kau masih memegang pisau?" tanya Justin kembali kepada wanita itu, meskipun sebenarnya Justin dapat merasakan bahwa wanita itu masih menggenang pisau buah, meskipun sekarang Ia hanya memotong motong kecil buah tersebut.
"Iya," jawabnya singkat, terdengar sedikit lebih santai dan lebih tenang dari sebelumnya, meskipun sebelumnya sangat tenang.
Justin tersenyum, sembari menekankan tangannya ke pintu. Ia merentangkan jari jarinya dan memejamkan matanya. "Kau akan meletakkan pisau itu?"
Hening.