It'S Me

It'S Me
Episode 44.....



“Hormat kepada yang mulia Raja Zang Zuan dan Ratu Xu Yian semoga panjang umur” ucap Gu Ana beserta dengan para calon permaisuri pangeran.


Itu merupakan rutinitas yang dilakukan Gu Ana semenjak menjadi perajurit, dan sekarang merangkak menjadi calon istri dari pangeran Zang Limo. Acara yang cukup menguras waktu Gu Ana.


Saat upacara penghormatan pagi telah selesai, semua orang membubarkan diri, termasuk Gu Ana. Gu Ana melangkahkan kakinya menuju pintu aula, namun langkahnya terhenti saan mendengar suara yang sangat asing di telinganya.


“Selamat pagi An’er, sudah lama sejak aku melihatmu.” Sapa pangeran Bei Xuang kepada Gu Ana, sambil berjalan menghampiri Gu Ana.


Tubuh Gu Ana gemetar seketika ketika membalikkan badannya memandang arah suara tersebut. Namun Gu Ana mencoba untuk terlihat tenang, dengan menaikkan sebelah alisnya.


“Selamat pagi pangeran putra mahkota Bei Xuang.” Jawab Gu Ana sambil tersenyum paksa, jika tidak membahayakan kerajaan Zang, maka ingin sekali rasanya Gu Ana mengangkat pedang dan menebas kepala orang yang saat ini berda di hadapannya.


“Aku dengar kau menjadi tunangan dari pangeran Zang Limo.” Kata pangeran Bei Xuang berbasa basi.


“Yah… kau sudah mendengarnya, lalu kenapa kau menanyakannya.” Kata Gu Ana cuek dengan menggebikkan keda bahunya tak perduli.


“Kau sungguh menarik, saat semua wanita berlomba-lomba menaiki ranjangku, kau justru menolak dengan keras.” Kata pangeran Bei Xuang menginga masalalu.


Mendengar kata-kata putra mahkota Bei Xuang membuat Gu Ana menggeram, sungguh kata-kata dari putra mahkota Bei Xuang membuat Gu Ana mengingat kembali gambaran dari tubuh ini.


“Kalau begitu tidurlah dengan mereka saja.” Kata Gu Ana bersikap angkuh untuk menutupi kekesalan, dan kesedihannya di hadapan putra mahkota Bei Xuang.


“Kau semakin cantik dan menarik, sikap mu ini yang membuatku semakin tergila-gila kepadamu.” Kata putra mahkota Bei Xuang, mencoba menyentuh tangan Gu Ana.


“Menjauh dariku, apa kau tak malu dengan apa yang akan dikatakan oleh orang-orang? Kau sadar sikap mu ini, akan membuat semua orang bergosip tentang kau menggoda tunangan orang lain.” Kata Gu Ana meninggalkan putra mahkota Bei Xuang.


“Kau tau aku tak butuh dan peduli tentang mereka.” Teriak putra mahkota Bei Xuang kepada Gu Ana, sambil menyeringai.


Melihat tuannya Xie Fang bergidik ngeri, bagaimana mungkin tuannya bisa segila itu, dan setertarik itu kepada gadis yang jelas-jelas menolaknya.


Sementara Gu Ana mendengarkan kata-kata dari putra mahkota Bei Xuang memilih mempercepat langkahnya, semakin jauh Gu Ana dari orang tersebut maka semakin baik pula untuk perasaannya.


Saat Gu Ana berjalan menuju tandunya tiba-tiba salju turun, Gu Ana menghentikan langkah kakinya. Gu Ana mendongak ke atas menikmati turunnya salju di pagi ini, cuaca yang semakin dingin tak mengusik Gu Ana. Gu Ana justru tersenyum seraya menutup matanya menikmati dinginnya salju.


Dinginnya salju membuat Gu Ana teringat akan momen bersama keluarganya saat menjadi Ariana di abad 21, Gu Ana tak tahu apakah Ia dapat kembali atau tidak, apakah Ia masih hidup atau justru sebaliknya. Gu Ana yang sejak tadi memancarkan senyuman yang amat manis, kini berganti dengan senyuman getir.


Beberapa orang yang berlalu lalang memperhatikan Gu Ana, mereka tak tahu harus berkata apa. Karna wajah ceria yang selalu terpampang selama ini, tiba-tiba dalam sekejap berubah menjadi raut kesedihan yang tak terbaca. Tangan Gu Ana kini mengapal erat hingga membuat kuku jarinya menjadi berubah berwarna putih pucat.


Puas merasakan dinginnya salju Gu Ana melangkahkan kakinya menuju keretanya.


“Kita kembali kekediamanku.” Titah Gu Ana tiba-tiba, dengan nada suara yang terkesan dingin tanpa memperlihatkan ekspresi apapun.


Sedangkan kusir yang mendengar titah dari Gu Ana langsung menggerakkan kudanya ke kediaman keluarga Gu, Ia tahu bahwa nonanya sedang dalam keadaan hati yang tidak baik.